Menggenggam Kebenaran di Era Digital

0

Oleh: Djanuard Lj

Bulir.id – Dunia kita sedang mengalami transformasi digital yang sangat masif. Perubahan ini mengalami dampak besar bagi beberapa segi kehidupan manusia, terutama soal kebenaran.

Kebenaran kini tidak hanya diperdebatkan di kampus, di ruang seminar, menjadi milik elite akademisi tetapi kini sudah menjadi perdebatan publik. Rujukan nilai kebenaran pun bermacam-macam, sesuai sumber mana yang dipakai.

Berkembangnya media online memudahkan setiap orang untuk mencari sumber-sumber kebenaran itu. Misalnya soal kebenaran fakta suatu peristiwa. Cara pandang yang berbeda dalam melihat fakta akan berdampak langsung pada keyakinan orang terhadap kebenaran peristiwa itu.

Sering kali media menggoreng sebuah isu atau peristiwa secara berlebihan bahkan bertolak belakang dengan fakta. Yang pada era ini kita kenal dengan post truth. Pada post truth seringkali mengaburkan kebenaran dengan memainkan perasaan.

Jagat maya tanah air belum lama ini diramaikan oleh pernyataan menteri agama Yaqut Cholil. Pernyataan menteri agama dipelintir akibatnya suasana kebangsaan menjadi panas. Hal ini terjadi karena orang tidak lagi bahkan malas mencari kebenaran makna pernyataan itu sendiri.

Kebenaran kini hanya sebatas wacana. Bukan lagi objekstifitas kebenaran yang menjadi rujukan melainkan kebenaran subjektif. Kebenaran sesuai semau saya. Kini yang tengah terjadi di masyarakat.

Bulir.id, salah satu media online nasional yang kini baru merayakan jejak langkah yang pertama juga memiliki keprihatinan tentang penjungkirbalikan kebenaran itu. Olehnya pada peristiwa jejak langkah itu mengusung tema β€œKind words are like honey: sweet to the soul and healthy for the body.”

Merujuk dari kutipan di atas, Bulir.id dalam perjalanan menelusuri lorong-lorong waktu tidak jarang menemukan sebagian media telah keluar dari rohnya. Roh itu telah digadaikan dengan logika pragmatis yang cenderung kapitalistis.

Penggunaan kata atau bahasa yang semestinya menyejukan, namun kini tidak jarang media menggunakan bahasa yang provokatif hanya sekedar mengejar reting pembaca tanpa memperdulikan kebenaran sebagai semangatnya.

Media mestinya memiliki implikasi bagi kesehatan jiwa maupun tubuh. Dalan tradisi filsafat barat terutama PlatoΒ  jiwa terkait erat dengan akal budi. Jika jiwa sehat maka tubuh pun akan mengikutinya.

Namun kini banyak media hanya mempertimbangkan profit, mengejar seberapa banyak pembaca dengan memainkan bahasa provokatif bahkan jauh dari fakta yang dapat merusak kebenaran sebagai roh dari media.

Ini menciptakan peluang sekaligus petaka. Tak jarang, karena kebingungan yang menyiksa, orang justru menjadi semakin sempit berpikir dan membenci yang lain, the other.

Media pada akhirnya digunakan untuk berbagai kepentingan segelintir orang, mulai dari pemasaran barang, sampai dengan kampanye aliran politik tertentu yang amat mungkin merusak dan berbahaya.

Jika media sudah dikuasai kepentingan dengan logika pragmatis maka bukan tidak mungkin kebenaran akan digenggam oleh para elite. Kebenaran bisa dipolitisir sesuai dengan kehendak siapa saja yang mengingini.

Akibatnya media pun seolah menjadi ruang menabur kebencian dan fanatisme kejam. Orang-orang menjadi semakin fanatik dengan keyakinan butanya.

Ia hanya mau membaca hal-hal yang sudah sesuai dengan keyakinan awalnya. Muncullah ruang-ruang fanatik penuh kebencian yang tersebar di relung-relung gelap dunia digital.

Penyebabnya adalah karena tidak semua manusia sepenuhnya menggunakan akal sehatnya. Ia memang memiliki akal sehat namun pada sisi tertentu manusia memiliki kebutuhan untuk percaya dan kerinduan untuk dibohongi.

Sebagai manusia yang berkesadaran mestinya memiliki daya kritis dengan menyangsikan segala hal termasuk berita yang pada dasarnya benar terjadi. Meminjam Decartes, dengan metode kesangsiannya, kita diajak mencurigai segala sesuatu termasuk pengetahuan itu sendiri.

Metode kesangsian ini bertujuan untuk menemukan kebenaran yang tak bisa terbantahkan lagi. Hal ini sangat perlu bagi manusia yang hidup di era 5.0 (revolusi digital) dengan berbagai macam tawaran yang sering kali menyesatkan, sehingga kita tidak terkecoh oleh berita palsu, hoax dan tipuan-tipuan media yang dapat menyesatkan pembaca.

Manusia sebagai animale rationale, sejatinya tetap merawat akal budinya. Sekaligus dikembangkan sehingga tetap kritis dalam berbagai kondisi. Langkah ini penting bagi manusia dalam upaya mencapai kebenaran.

Kita perlu menyandarkan diri dan berpijak pada akal budi supaya dunia digital tidak menyebarkan kebencian dan menimbulkan perpecahan lebih jauh. Yang menentukan hidup kita, bukanlah mesin-mesin cerdas, melainkan sikap dan respons kita terhadap merekalah yang membuat perbedaan.

Sejatinya kita perlu menggugat kemapanan berpikir dan bertindak manusia. Pola pikir dan tindak manusia di era digital tak jarang telah menjadikannya budak dari mesin algoritma komputer.

Manusia mestinya sadar, ia bisa berkata tidak, lalu mematikan gawai, dan mulai bersentuhan langsung dengan dunia. Pada momentum masa puasa ini mari kita sejenak mematikan gawai dan kembali melihat hal-hal yang benar dan melakukan yang benar.*


*Djanuar Lj: merupakan salah satu alumnus fakultas Filsafat di UNIKA Widya Mandala Surabaya, Jawa Timur. Ia, kini tinggal dan bergulat dengan bisingnya kota Jakarta.