Pemerintah Pacu Ekonomi Hijau dan Digital untuk Kejar Pertumbuhan 6% pada 2027

0

Jakarta, BULIR.ID – Pemerintah terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen secara c-to-c pada Semester I-2026, sementara inflasi Agustus tercatat 3,19 persen secara year on year (yoy).

Capaian tersebut menjadi pijakan Pemerintah untuk mempercepat transformasi ekonomi melalui pengembangan ekonomi hijau, ekonomi biru, serta penguatan ketahanan pangan, energi, dan air.

Kebijakan tersebut sejalan dengan pilar Asta Cita 2 Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menempatkan transisi energi dan pembangunan infrastruktur digital sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan ketersediaan energi bersih dan infrastruktur digital menjadi dua faktor penting dalam memperkuat daya saing ekonomi Indonesia.

“Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Haryo.

Menurut dia, sinergi energi bersih yang terjangkau dengan akselerasi infrastruktur digital diperlukan untuk menciptakan iklim investasi yang berdaya saing global sekaligus mempercepat pencapaian target pertumbuhan jangka panjang.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027, kebutuhan investasi nasional diproyeksikan tumbuh 8–9 persen. Nilai penanaman modal yang dibutuhkan mencapai Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun.

Kebutuhan tersebut juga harus ditopang ketersediaan energi hijau. Konsumsi listrik nasional diproyeksikan mencapai 700–800 TWh pada 2030.

Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo, Pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas pembangkit hingga 100 GW peak berbasis energi terbarukan.

Untuk memperkuat keandalan pasokan listrik, pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer-sirkuit terus didorong. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk menopang kebutuhan industri dan pusat data (data center).

Pemerataan akses listrik juga dilakukan melalui Program Listrik Desa. Pada 2025, program tersebut telah menjangkau 1.505 lokasi dan ditargetkan meningkat menjadi 4.390 lokasi pada 2026.

Program tersebut diharapkan mendorong rasio elektrifikasi hingga di atas 99 persen. Sementara indeks ketahanan energi ditargetkan meningkat menjadi 7,13.

Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau melalui sumber daya mineral strategis. Komoditas tersebut antara lain nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara.

Pemerintah mendorong hilirisasi berbasis energi bersih untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral tersebut. Salah satu fokusnya adalah pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Pengembangan ekosistem kendaraan listrik disebut berpotensi meningkatkan nilai tambah hingga 67 kali lipat. Permintaan global sektor tersebut diproyeksikan mencapai USD5,91 triliun pada 2045.

Indonesia juga memiliki bahan baku strategis untuk pengembangan panel surya, salah satunya pasir silika. Kekayaan mineral kritis dan bahan baku tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Peluang itu turut menarik minat kemitraan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Kerja sama diarahkan pada pengembangan teknologi transisi energi dan diversifikasi rantai pasok mineral kritis global di Indonesia.

Dari sisi pembiayaan, Pemerintah mendorong pemanfaatan berbagai skema pembiayaan hijau. Di antaranya green bonds, blended finance, Just Energy Transition Partnership (JETP), dan Asia Zero Emission Community (AZEC).

Pengembangan ekonomi hijau juga diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah memperluas Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi dan Program Vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri hijau.

“Optimalisasi potensi energi hijau dan digitalisasi secara terpadu merupakan golden moment bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai tuan rumah energi dan pemain utama transisi energi global,” kata Haryo.

Menurutnya, dukungan pembiayaan inovatif dan penyiapan SDM berkualitas diharapkan mempercepat pencapaian target emisi nol bersih sekaligus membuka lapangan kerja baru yang berkualitas.