Investasi Rebana Tembus Rp21,59 Triliun, Pemerintah Bidik Investor Jepang

0

Jakarta, BULIR.ID – Kawasan Rebana di Jawa Barat semakin diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Hingga triwulan II 2026, realisasi investasi di kawasan tersebut mencapai Rp21,59 triliun atau sekitar 30 persen dari total investasi Jawa Barat.

Pemerintah kini mendorong pengembangan kawasan tersebut dengan memperkuat kolaborasi bersama dunia usaha dan investor, termasuk perusahaan-perusahaan asal Jepang.

Upaya itu dibahas dalam Rebana Area Development Co-Creation Seminar: New Business Opportunities and Public-Private Partnerships in Indonesia yang digelar di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Seminar tersebut merupakan bagian dari kerja sama teknis Pemerintah Indonesia dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui Project for Rebana Area Development which is related to Patimban International Port.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, perusahaan Jepang, asosiasi, mitra pembangunan, serta sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas peluang investasi dan kemitraan di Kawasan Rebana.

Asisten Deputi Pengembangan Kawasan Ekonomi dan Proyek Strategis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Suroto, mengatakan pengembangan Rebana tidak boleh berhenti pada dokumen perencanaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi proyek yang konkret dan memberikan dampak ekonomi.

“Pengembangan Kawasan Rebana tidak berhenti pada penyusunan perencanaan, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam program dan proyek yang dapat diimplementasikan serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” ujar Suroto.

Menurut dia, pemerintah terus memperkuat koordinasi antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan mitra pembangunan untuk membangun ekosistem investasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kesiapan Kawasan Rebana sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, lanjut Suroto, diperkuat dengan keberadaan sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN).

Di antaranya Pelabuhan Internasional Patimban, Bandara Kertajati, Tol Cisumdawu, Bendungan Cipanas, hingga Kawasan Industri Subang Smartpolitan.

Pengembangan tersebut juga semakin diperkuat dengan percepatan pembangunan Tol Akses Pelabuhan Patimban yang diharapkan meningkatkan konektivitas kawasan industri dengan pusat logistik dan perdagangan.

Investasi Sudah Rp36 Triliun pada 2025

Kawasan Rebana dikembangkan berdasarkan agenda percepatan pembangunan sebagaimana diarahkan dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021.

Koordinator Promosi Investasi Badan Pengelola (BP) Kawasan Rebana, Ahmad Nugraha, mengatakan kawasan tersebut memiliki potensi besar karena dikembangkan melalui sejumlah klaster, mulai dari industri, penerbangan, pariwisata hingga pendidikan.

Saat ini terdapat 13 kawasan industri yang dialokasikan di Kawasan Rebana. Dari jumlah tersebut, delapan kawasan industri telah beroperasi.

Realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp36 triliun. Sementara hingga triwulan II 2026, investasi yang masuk telah mencapai Rp21,59 triliun.

“Realisasi investasi di Kawasan Rebana pada 2025 mencapai Rp36 triliun, dan hingga Triwulan II 2026 telah mencapai Rp21,59 triliun atau sekitar 30 persen dari total investasi Jawa Barat,” kata Ahmad.

Selain investasi, kawasan tersebut juga didukung basis sumber daya manusia yang cukup besar.

Terdapat lebih dari 30 universitas serta 500 SMK dan lembaga pelatihan yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan tenaga kerja industri.

Dengan dukungan tersebut, Kawasan Rebana diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 1,7 juta hingga 1,8 juta lapangan kerja baru.

Potensi investasi juga terlihat dari masuknya perusahaan besar. Salah satunya pembangunan pabrik perakitan kendaraan listrik BYD di kawasan industri Subang Smartpolitan.

Patimban Jadi Gerbang Logistik

Chief Representative JICA Indonesia Office, Takeda Sachiko, menilai Kawasan Rebana memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi Indonesia, khususnya karena keberadaan Pelabuhan Internasional Patimban.

Menurut dia, Patimban berpotensi menjadi salah satu gerbang logistik utama yang menghubungkan kawasan industri Jawa Barat dengan pasar domestik dan internasional.

JICA melalui kerja sama teknis dengan pemerintah Indonesia mendukung penyusunan master plan, penguatan koordinasi antar-pemangku kepentingan, serta identifikasi sejumlah program prioritas.

Salah satu fokus yang dikembangkan adalah konsep Green Industry Hub yang mengintegrasikan manufaktur, energi terbarukan, pengembangan sumber daya manusia, dan upaya dekarbonisasi.

“Pelabuhan Patimban diproyeksikan menjadi pintu gerbang logistik utama yang menghubungkan industri di Jawa Barat dengan pasar domestik maupun internasional,” ujar Takeda.

Kerja sama Indonesia-JICA tersebut telah menghasilkan sejumlah dokumen dan strategi yang dapat menjadi acuan pengembangan kawasan.

Di antaranya Rencana Induk Kawasan Rebana, Rencana Spesifik Pusat Industri Hijau, Pedoman Pengembangan Kawasan Industri di Kawasan Rebana, konsep promosi pariwisata pegunungan, serta strategi promosi investasi.

Hasil perencanaan tersebut kemudian diperkenalkan kepada para pemangku kepentingan melalui seminar guna menyamakan persepsi mengenai arah pengembangan kawasan sekaligus mengidentifikasi peluang bisnis yang dapat segera ditindaklanjuti.

Bidik Industri Hijau dan Energi Terbarukan

Selain investasi dan pembangunan infrastruktur, seminar tersebut juga membahas agenda keberlanjutan.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian antara lain pengembangan industri hijau, ekonomi sirkular, energi terbarukan, hingga kontribusi sektor swasta terhadap target dekarbonisasi.

Pemanfaatan energi panas bumi atau geotermal serta teknologi floating solar panel di bendungan juga menjadi bagian dari pembahasan.

Diskusi juga menyoroti peluang pengurangan emisi gas rumah kaca, pengembangan nilai ekonomi karbon, pemanfaatan teknologi pintar, serta pengembangan kawasan industri Subang Smartpolitan.

Kemenko Perekonomian menilai pendekatan tersebut penting untuk memastikan ekspansi industri di Kawasan Rebana tetap berjalan seiring dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Suroto mengatakan pemerintah berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai forum pertukaran informasi.

“Melalui penguatan kolaborasi tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong agar hasil perencanaan dan kerja sama pengembangan Kawasan Rebana dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi dan penjajakan bisnis yang lebih konkret antara pemerintah, investor, pengembang kawasan, dan mitra pembangunan,” ujarnya.

Dengan posisi Patimban, Kertajati, jaringan jalan tol, kawasan industri, serta dukungan sumber daya manusia, Kawasan Rebana diproyeksikan menjadi salah satu simpul baru industri dan logistik di Jawa Barat.

Pemerintah berharap penguatan konektivitas dan kerja sama dengan investor, termasuk dari Jepang, dapat mempercepat masuknya investasi berkualitas sekaligus memperkuat keterhubungan kawasan industri dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi.

Turut hadir dalam seminar tersebut Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Barat, Chief Representative JICA Indonesia, Vice President Director JETRO Indonesia, perwakilan Kedutaan Besar Jepang, serta perwakilan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.