Penderitaan Argentina di Piala Dunia Terbayar Sang Mesias, Mbappe Terjungkal Merana

0

SPORT, Bulir.id – Messi kini menjadi ikon sepak bola dunia dan menjadi mesias bagi Argentina di Piala Dunia 2022 usai menyingkirkan rekan seklubnya Mbappe cs di final.

Mega bintang itu kini menggenapi perolehan gelar dalam karirnya setelah empat kali tampil di Piala Dunia sejak 2006 hingga 2018.

Tidak ada yang lebih menderita dari pada Messi lantaran selama empat kali Piala Dunia itu ia tak menunjukkan apa-apa. Jauh dibandingkan dengan Maradona, itu adalah satu-satunya trofi yang sepertinya tidak bisa dimenangkan oleh Messi.

Pada final di Brasil delapan tahun lalu, Argentina harus merana sebelum pemain Jerman Mario Gotze mencetak gol di menit akhir perpanjangan waktu.

Jadi, setiap penggemar Messi takut akan hal terburuk ketika Mbappé menyamakan kedudukan dengan hanya sembilan menit waktu normal. Gol kedua pemain Prancis itu dalam waktu kurang dari 97 detik. Namun Messi cs mampu menyingkirkan harapan Mbappe cs dari perebutan gelar melalui drama adu penalti.

Lionel Messi menjadi sorotan di tengah kegelapan di Stadion Lusail. Ia akhirnya merebut satu penghargaan yang sulit dijangkau sepanjang kariernya.

Kini Messi telah mencapai mimpinya. Ia telah mampu mengisi kekosongan gelar di sisa karir terakhirnya di sepak bola internasional.

Celah dalam koleksi gemerlapnya gelar telah terisi. Sebuah final Piala Dunia yang bisa dibilang paling spektakuler dalam sejarah, dengan permainan yang merobek emosi dan merusak detak jantung sebelum Argentina mencapai puncaknya.

Messi kini menambah deretan gelar di antaranya Piala Dunia, tujuh Ballon d’Or, empat Liga Champion, satu Copa America, 10 gelar La Liga bersama Barcelona dan mahkota Ligue 1 di Prancis bersama Paris St-Germain.

Trofi Piala Dunia merupakan bukti nyata kehebatan Messi sebagai penggenapan dalam karir sepak bola profesionalnya. Selanjutnya menunjukkan bahwa Messi merupakan sang Messias yang diutus untuk meruntuhkan dominasi Prancis pada Piala Dunia 2022.

Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa Messi termasuk dalam jajaran yang sama dengan Pele.

Diego Maradona, pendahulunya memiliki alasan kuat untuk menjadi yang terbaik. Titik perbedaannya selalu kemenangan Piala Dunia di Meksiko 36 tahun lalu, kemenangan yang tidak dimiliki Messi. Sekarang telah dihapus dan digenapi sang Mesias.

Pertunjukan yang memukau di Stadion Lusail menyisahkan begitu banyak penderitaan dan kenangan sebelum Argentina dan Messi mencapai puncak kemenangan Piala Dunia ketiga mereka. Hal itu dikarenakan menghadapi kecemerlangan pemain berusia 23 tahun Kylian Mbappe dari Prancis yang mampu mencetak dua gol penyemimbang di menit akhir pertandingan.

Prancis tampaknya menggelar karpet merah untuk penobatan Messi karena mereka nyaris tidak mengancam selama 80 menit. Lusail adalah taman bermain Messi saat ia mencetak gol pembuka Argentina dari titik penalti, menjadikannya pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol di babak penyisihan grup, babak 16 besar, perempat final, semi final, dan final dalam satu turnamen.

Malam itu, Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik dan meraih Bola Emas. Ia menjadi pemain pertama yang memenangkannya dua kali, setelah memenangkan penghargaan yang sama pada 2014.

Dia sekarang telah menyumbangkan 21 gol untuk Argentina di Piala Dunia – 13 gol dan delapan assist, terbanyak sebagai pemain dari negara mana pun. Gol di final Piala Dunia ini memberinya 793 gol dalam karirnya. Dia juga pemain pertama yang mencetak gol di setiap putaran di turnamen Piala Dunia.

Messi menggenggam trofi emas di tangannya. Itu adalah misi yang tercapai, sebuah misi yang berlangsung lebih dari 16 tahun ketika dia masuk sebagai pemain pengganti dalam kemenangan 6-0 atas Serbia dan Montenegro di Jerman.

Babak terakhir dari kisah Piala Dunia Messi adalah sebuah thriller dari awal hingga akhir melawan Prancis, dengan plot yang begitu banyak liku-liku. Itu memberikan akhir yang sempurna pada malam yang tidak akan pernah terlupakan di Qatar.*