Dunia dalam Bahaya, El Nino akan Berlangsung hingga Februari 2027

0

JAKARTA, Bulir.id – Ancaman fenomena iklim El Nino terus meningkat, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena tersebut akan berlangsung hingga Februari 2027.

El Nino menyebabkan gangguan ekstrem pada pola curah hujan, gelombang panas, kekeringan parah, hingga bencana banjir di berbagai penjuru dunia.

Peningkatan suhu permukaan laut dan juga pemanasan global yang diakibatkan oleh penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan

bumi menuju situasi krisis yang belum pernah terpetakan sebelumnya.

“El Nino semakin membesar di depan mata kita. Ilmu pengetahuan tidak menyisakan ruang untuk keraguan, planet ini berada di wilayah yang belum dipetakan, dan wilayah tersebut semakin memanas,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

“Suhu permukaan laut meningkat, suhu terus naik, dan dunia berada di zona bahaya cuaca ekstrem,” sambungnya.

Celeste Saulo, kepala WMO menyatakan puncak pelepasan panas lautan ke atmosfer akan berdampak panjang hingga 2027, serta merusak tatanan sosial dan stabilitas ekonomi global.

Mengingat rekor tahun terpanas sebelumnya tercipta pada 2024 pasca-gelombang El Nino terdahulu, otoritas manajemen bencana di setiap negara didesak untuk segera mengambil langkah mitigasi cepat.

Sektor-sektor yang sangat bergantung pada kestabilan iklim, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan sumber daya air, diminta meningkatkan kewaspadaan penuh guna mengantisipasi kegagalan panen serta kelangkaan pasokan esensial.

“Fenomena El Nino yang luar biasa ini berpotensi memberikan pukulan telak bagi masyarakat dan perekonomian di seluruh dunia,” ujarnya.

“Kita sudah melihat gangguan dan kerusakan akibat kekeringan dan banjir, dan kita memperkirakan dampak ini akan meningkat seiring intensifikasi El Nino. Tidak ada waktu untuk disia-siakan dalam bersiap-siap,” sambungnya.

Penguatan El Nino terdeteksi melalui anomali kenaikan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur.

Data WMO mencatat, indeks anomali suhu bulanan telah melonjak dari 1,5 derajat Celsius pada periode Mei–Juli menjadi 2,2 hingga 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata normal pada pertengahan Agustus.

Bahkan, suhu bawah permukaan laut di beberapa titik Pasifik tercatat menembus 8 derajat Celsius di atas rata-rata.

Peningkatan suhu laut ini diprediksi akan mengubah pola iklim global secara signifikan antara September hingga November.

Ini termasuk memicu kekeringan berkepanjangan di kawasan Amazon, Indonesia, dan Australia, mengganggu pergerakan angin monsun di India, serta mendongkrak suhu daratan global ke level ekstrem.*