Ancaman Narkoba dan HIV, Senator Stevi Harman Ingatkan Keberpihakan dan Dukungan Pemda NTT

0

Jakarta, BULIR.ID – Narkoba masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi bangsa ini. Tidak hanya merusak masa depan generasi muda, penyalahgunaan narkoba juga membuka pintu bagi berbagai masalah kesehatan serius, termasuk HIV/AIDS.

Di banyak daerah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril menjadi salah satu jalur utama penularan HIV. Karena itu, perang melawan narkoba tidak bisa dipandang sebelah mata, terlebih jika dampaknya sudah meluas hingga menyangkut keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.

Kondisi ini juga terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski angka penyalahgunaan narkoba di provinsi tersebut relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional, tren kenaikannya tetap mengkhawatirkan.

Apalagi, peningkatan kasus narkoba di NTT berjalan seiring dengan bertambahnya jumlah penderita HIV. Situasi ini membuat upaya pencegahan dan penanganan tidak bisa hanya diserahkan pada satu pihak saja, melainkan membutuhkan dukungan menyeluruh, termasuk dari pemerintah daerah.

Dr. Stevi Harman, dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jakarta, Selasa (9/9/2025) mengingatkan agar pemberantasan narkoba harus mendapat dukungan penuh, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, karena persoalan ini sudah semakin kompleks dan terhubung dengan masalah kesehatan masyarakat.

“Saya mau mengapresiasi dulu kerja-kerja BNN dan juga fasilitas-fasilitas lembaga pertahanan BNN yang sudah berjuang selama ini untuk merehabilitasi mereka yang terkena kasus adiksi,” ujarnya.

Dr. Stevi mengatakan, pengalamannya bekerja di unit kesehatan jiwa membuat dirinya tahu betul betapa sulitnya menangani pasien adiksi.

Menurutnya, pecandu narkoba kerap menunjukkan perilaku agresif hingga membahayakan tenaga medis karena tuntutan mereka tidak terpenuhi. Hal itu menjadi bukti bahwa rehabilitasi pecandu membutuhkan tenaga, fasilitas, dan dukungan besar, bukan hanya sekadar program di atas kertas.

Dalam kesempatan itu, ia juga memberi apresiasi khusus kepada BNN NTT yang telah meluncurkan program KOTAN (Kabupaten/Kota Tanggap Ancaman Narkoba) dan membentuk Satgas P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba). Namun, Putri Politisi Senior, Dr. Benny K Harman itu menyoroti bahwa pelaksanaan program di lapangan masih jauh dari maksimal.

“Walaupun ada programnya, banyak yang mengeluhkan di lapangan karena terkendala biaya. Regulasi APBD juga belum mendukung program pemberantasan narkoba,” tegasnya.

Dr. Stevi menyampaikan, angka prevalensi narkoba di NTT yang diperkirakan 0,1 persen pada 2025 memang terlihat kecil, tetapi tetap harus diwaspadai karena berdampak signifikan. Terlebih, peningkatan penyalahgunaan narkoba tersebut, tambahnya, berjalan beriringan dengan meningkatnya kasus HIV.

Ia pun berharap agar isu HIV dan narkoba segera dibicarakan secara lebih serius dan berkelanjutan, mengingat keduanya saling berkaitan.

Dr. Stevi juga menyinggung pentingnya peran BPJS Kesehatan dalam membantu para pengguna narkoba yang menjalani rehabilitasi maupun mengalami penyakit lain akibat adiksi.

“Kemarin dalam rapat dengan RSHAO saya sudah minta klarifikasi terkait pembiayaan BPJS. Saya mendorong agar BPJS tidak hanya menanggung rehabilitasi medis, tapi juga perawatan bagi pengguna narkoba yang mengalami sakit, karena selama ini mereka tidak ditanggung,” pungkasnya.