Bedah Buku “ALTER EGO: LISTYO SIGIT PRESISI” Kupas Biografi Kebijakan Kapolri

0

Jakarta, BULIR.ID – Acara bedah buku bertajuk “ALTER EGO: LISTYO SIGIT PRESISI – Sebuah Biografi Kebijakan” karya Prof. Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D., APU digelar pada Rabu, 4 Februari 2026, pukul 10.00 WIB, bertempat di Auditorium Mutiara STIK Lemdiklat Polri. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui YouTube Channel DEMOCRATIC POLICING dan diikuti oleh kalangan akademisi, praktisi kepolisian, serta masyarakat pemerhati kebijakan publik.

Acara tersebut menghadirkan Prof. Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D., APU selaku penulis sebagai narasumber utama, dengan Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana sebagai penanggap pertama. Bedah buku ini membahas secara mendalam kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, khususnya melalui pendekatan kebijakan Presisi yang menjadi ciri khas transformasi Polri.

Dalam pemaparannya, Prof. Hermawan mengungkapkan bahwa ide penulisan buku tersebut sebenarnya telah lama muncul. Namun, ada dua hal utama yang menurutnya menarik dari sosok Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

“Ide penulisan ini sebetulnya sudah lama. Tapi ada dua hal yang menarik dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit ini. Pertama adalah orangnya pendiam, betul-betul pendiam, sampai saya sulit membayangkan bagaimana nembak pacarnya dulu dan bisa punya anak,” ujar Prof. Hermawan disambut senyum peserta.

Ia menegaskan sejak awal tidak ingin menulis buku yang bersifat glorifikasi semata.

“Kedua, sejak awal saya sudah bilang tidak akan menulis buku yang isinya hanya memuji-muji dan kolor. Sehingga tulisan ini kita tempatkan persona Listyo Sigit Prabowo dalam konteks sosial-politik, bagaimana dia bertahan dalam situasi yang sulit dan berguncang, serta bagaimana merancang dan menjalankan kebijakan dalam situasi yang tenang,” lanjutnya.

Prof. Hermawan juga menyoroti masa jabatan Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang tergolong panjang.

“Sampai hari ini sudah lebih lima tahun beliau menjabat, sebuah rekor jabatan Kapolri paling lama, karena beliau diangkat pada 17 Januari 2021, lima tahun yang lalu,” katanya.

Menurutnya, salah satu tantangan besar yang dihadapi Polri di era kepemimpinan Listyo Sigit adalah isu dwifungsi Polri di tengah dinamika reformasi pasca-1998.

“Polri di Indonesia disimplifikasi melalui reformasi 1998. Sebelumnya masih bagian dari militer di bawah ABRI, dengan paradigma institusi negara yang diberi kewenangan menggunakan kekerasan secara sah. Buku ini sebetulnya bukan wawancara resmi, melainkan bersifat informal,” jelas Prof. Hermawan.

Sementara itu, Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana dalam tanggapannya menekankan pentingnya posisi Polri sebagai institusi yang lahir dari dan untuk rakyat.

“Ingat, polisi ini ada batasnya, tetapi dari rakyat, dari kawula, tidak ada batasnya. Jadi polisi harus menjadi polisinya rakyat agar bisa dipercaya,” ujarnya.

Ia menilai buku tersebut berhasil menggambarkan praktik pemolisian di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui pendekatan Presisi.

“Buku ini menggambarkan bagaimana pemolisian di bawah kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo dengan pendekatan yang menekankan pada konsep Presisi—Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berbasis Teknologi Informasi—yang diusung untuk mentransformasi Polri menjadi institusi yang lebih modern, akuntabel, dan dekat dengan masyarakat,” jelasnya.

Ucapan selamat atas terbitnya buku ini juga disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Indonews.id, Drs. Asri Hadi. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi intelektual Prof. Hermawan dalam memperkaya literatur kebijakan kepolisian di Indonesia.

“Prof. Hermawan Sulistyo adalah rekan sesama alumni FISIP Universitas Indonesia, sementara Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana adalah teman diskusi saya di Warung Solo, Jeruk Purut, Cilandak Timur. Saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini, yang saya nilai penting dan relevan bagi publik,” ujar Asri Hadi.

Melalui diskusi yang berlangsung dinamis, bedah buku ALTER EGO: LISTYO SIGIT PRESISI dinilai tidak hanya memperkaya kajian akademik, tetapi juga memberikan perspektif kritis mengenai kepemimpinan, kebijakan, dan transformasi Polri di tengah tantangan sosial-politik yang terus berkembang.