‘Bius’ Tamu Undangan! Jenderal Bintang Empat Ini Tampil dengan Aksi Koboi Bergitar di Klub Eksekutif Persada

0

Tabur, BULIR.ID – Kepala Staf TNI Angkatan Udara (TNI AU) periode 2002-2005, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim memang terkenal sebagai sosok multi talenta. Betapa tidak, selain dikenal sebagai seorang penerbang ulung, ia juga dikenal sebagai penulis paling produktif.

Hal ini dapat dilihat dari puluhan buku yang telah ditulisnya dan ratusan opini yang diterbitkannya di berbagai media massa baik cetak maupun online. Sebagian besar jenderal bintang empat ini mengupas isu seputar penerbangan.

Tak sampai di situ, mantan Bos Freeport ini juga ternyata ahli memainkan sejumlah alat musik, mulai dari gitar hingga saxofone. Tak hanya ahli mengiringi orang bernyanyi, jenderal yang terkenal easy gooing ini juga memiliki suara emas yang khas.

Hal itu terlihat pada Sabtu (27/11/21) di Klub Eksekutif Persada, Jakarta Timur. Chappy beraksi dengan band-nya “The PlaySet” membawakan sejumlah lagu oldies dan menghibur para pengunjung.

Direktur Bulir Rikard Djegadut (kiri), Marsekal Chappy Hakim (tengah) dan Pemred Indonews selaku Dewan Redaksi Bulir Asri Hadi (kanan)

Ini merupakan jadwal manggung pertama bagi band PlaySet yang dikomandoi Chappy Hakim dan beranggotakan Alam (Drummer), Joko (Saxophone), Roi (Gitaris), Nadjib Osman (Pianis), Ari (Bass), Yance (Saxophone). Menariknya, salah satu anggota PlaySet yakni Alam (Drummer) merupakan seorang disabilitas.

“Yang hebatnya dari band PlaySet ini adalah kami memiliki anggota seorang disabilitas. Mungkin ini satu-satunya di dunia. Makanya kita harus cinta Alam,” ucap Chappy dengan nada canda.

Dari penuturan Chappy Hakim kepada BULIR.ID, PlaySet akan tampil secara rutin setiap Sabtu di Klub yang beralamat di Jalan Raya Protokol Perdana Halim Kusuma, Jakarta Timur ini. Band ini tampil mulai pukul 11.00 hingga 15.00 sore.

Dalam aksinya siang ini (Sabtu, 27/11/21) Chappy Hakim tampil menggenakan kaos lengan panjang kuning, bercelana jeans, sepatu sneakers sport kets dengan topi koboi. Aksi koboi bergitarnya sungguh membius para pengunjung hingga mau bernyanyi bersama dan turun ke dance floor.

Seperti koboi bergitar, Chappy larut dalam aksi panggungnya. Bukan hanya bergitar, Chappy juga beraksi dengan saxophone-nya. Aksi panggung Chappy berlangsung lebih dari 5 jam. Semua pengunjung terhibur.

Sang istri, Pusparani juga ikut tampil ke atas panggung memeriahkan siang itu. Salah satunya membawakan lagu Maumere. Saat lagu ini dibawakan, sejumlah pengunjung langsung berkumpul di lantai dansa mengikuti irama lagunya.

Sebelum sang istri, Ketua Umum Satupena Denny Djanuar Ali atau yang biasa dikenal Denny JA ikut naik ke atas penggung membawakan sebuah lagu.

Beberapa tokoh penting yang hadir menyaksikan aksi panggung Pendiri dan Direktur Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) itu antara lain Ketua Umum Organisasi Satupena selaku Direktur beberapa Lembaga survei di Indonesia, Denny Januar Ali atau Dhenny JA, Sekjen Satupena Satrio Arismunandar, mantan Dirjen Perhubungan Udara Heri Bhakti, Pemimpin Redaksi Indonews.id selaku anggota Satupena Asri Hadi dan Direktur Bulir Rikard Djegadut.

Untuk diketahui, Satupena merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari para penulis di antaranya Chappy Hakim sendiri, Nasir Tamara, Satrio Arismunadar, Gemala Hatta, Habib Chizrin, Prof Azyumardi Azra, Rusdian Lubis dan Helmy Yahya Asvi Warman Adam. Didin S. Damarhudin, Dosen Senior IPDN selaku Pemred Indonews.id Asri Hadi dan masih banyak tokoh lainnya.

Dalam aksi panggungnya, Chappy kerap membawakan lagu-lagu oldies seperti Balada Pelaut dan sebagainya. Di sela-sela aksinya, mantan Presiden Direktur Freeport ini juga memperkenalkan anggota band-nya.  Tak lupa, ia juga kerap menyapa para tamu yang hadir.

Selain itu, ia juga mempersilahkan kepada tamu yang hadir untuk memberikan sepatah kata dua. Dimulai dari Ketuam Satupena selaku pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dhenny JA dan diikuti oleh Mantan Dirjen Perhubungan Udara.

Chappy juga meminta Pemred Indonews.id Asri Hadi untuk menyampaikan sepatah kata dua terkait perspektif media atas masalah hoax. Selain itu, Chappy Hakim juga memperkenalkan sedikit profil Asri Hadi yang juga merupakan Dosen Senior Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Dalam kesempatan itu, Asri Hadi menjelaskan terkait sejarah berdirinya Media Indonews.id.

Pemred Indonews selaku Dewan Redaksi Bulir Asri Hadi (kiri), Marsekal Chappy Hakim (tengah) dan Ketum Satupena selaku Direktur LSI Dhenny JA (kanan)

Selanjutnya, kesempatan diberikan kepada Direktur Bulir.id, Rikard Djegadut untuk menyampaikan pandangannya terkait masalah hoax dilihat dari sudut pandang media. Menurut Rikardo-sapaan akrabnya, sebagian masyarakat Indonesia salah kaprah mengartikan kata hoax yang berkembang.

Dikatakannya, sebagian masyarakat Indonesia dengan mudah melabel sebuah berita dengan terminologi atau istilah hoax. Padahal, untuk menentukan sebuah berita itu hoax atau tidak, membutuhkan sejumlah kriteria.

“Namun parahnya adalah masyarakat kita cendrung melabeli sebuah berita dengan kata hoax berdasarkan preferensi sang pembaca berita tersebut. Contohnya, kami pernah mengungkap sebuah kasus korupsi yang melibatkan seorang tokoh. Dia ini dipuja-puji di mana-mana. Berita yang diturunkan itu memuat agenda pemeriksaan oleh Jaksa terhadap tokoh tersebut. Nah, kita dibilang hoax. Padahal informasi soal agenda itu datang langsung dari Humas Kejaksaan. Jadi karena berita ini berpotensi menyudutkan pihak tertentu, lalu media dibilang hoax. Ini salah besar,” kata Rikardo.

Menurut Rikardo, pemahaman seperti ini jelas salah. Sebab media fungsinya menyampaikan (delivere) pesan dari narasumber. Jadi seharunya, jika informasi yang disampaikan narasumber tersebut bertentangan, maka jangan media atau beritanya dilabeli hoax, tapi narasumber yang mungkin dinilai tidak kompeten.

“Salah kaprah mengartikan hoax ini perlu diluruskan. Sebab bagaimana pun juga, ini sangat berdampak secara psikologis bagi para wartawan itu sendiri. Mereka yang tadinya punya niat mengebu-ngebu untuk berada di garis terdepan memerangi korupsi, justru dihalangi dengan pelabelan hoax oleh masyarakat. Ini jelas tidak dapat dibenarkan dan perlu diluruskan. Untuk itu, masyarakat kita perlu diedukasi arti sesungguhnya dari kata hoax itu,” jelas Rikardo.

Rikardo menjelaskan, media yang dikelola secara profesional tidak akan menyebarkan berita hoax. Sebab ketika sebuah berita itu ditayangkan, ada sejumlah tahapan yang dilewati. Dimulai dari pekerjaan sang jurnalis melakukan croscheck terhadap informasi yang diperolehnya yang meliputi upaya konfirmasi dan klarifikasi terhadap narasumber yang ada dalam informasi itu.

“Selanjutnya, berita akan naik ke redaksi. Di sana, editor dan redaktur akan melakukan cross check terhadap tulisan wartawan tersebut. Jika sebuah tulisan dinilai cukup sensitif dan dapat merugikan pihak tertentu, diperlukan tulisan yang sifatnya cover both side dan lain sebagainya,” urai Rikardo.

Sementara terkait kebijakan publik yang merupakan konsumi masyarakat umum, pendapat satu pakar saja tidak cukup, dibutuhkan pendapat dari pakar lainnya. “Mengapa hal ini perlu karena, kadang para pakar dan ahli ini berbicara berdasarkan kepentingannya. Jadi ada kepentingan politis tertentu. Makanya butuh pendapat dari pakar lainnya, yang sekiranya ia berbicara apa adanya dan tidak mengabaikan kebenaran,” beber Rikardo.*