Edukasi Obat di Tengah Pemukiman, Ibu-ibu RPTRA Belajar Memusnahkan Obat Karsinogenik dan Kadaluwarsa

0

JAKARTA, Bulir.id — Suasana RPTRA RW 06 pada Minggu (24/8/2026) tampak lebih riuh dari biasanya. Puluhan ibu rumah tangga berkumpul, memegang kemasan obat hingga botol sirup bekas, menyimak petunjuk penting yang selama ini acap kali terabaikan di dalam lemari es maupun kotak obat keluarga: *DAGUSIBU* (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar).

Inisiatif ini diusung oleh Tim Mahasiswa KKN Kelompok 6 Universitas 17 Agustus 1945 (UTA’45) Jakarta. Tidak sekadar memaparkan teori, para mahasiswa menghadirkan sesi praktik langsung yang memikat perhatian warga, terutama terkait cara pemusnahan sisa obat hipertensi dan obat kedaluwarsa secara aman menggunakan bahan sederhana di rumah.

Narasumber kegiatan yang juga merupakan dosen UTA’45 Jakarta, apt. Fajar Amirulah, S.Si., M.Farm, menegaskan pentingnya edukasi mendasar ini agar masyarakat tidak sembarangan membuang limbah medis ke tempat sampah umum.

“Banyak dari kita yang menganggap membuang obat tinggal lempar ke tempat sampah. Padahal, obat yang terbuang utuh berisiko disalahgunakan atau merusak lingkungan. Lewat pendekatan sederhana menggunakan plastik, wadah bekas, dan campuran bubuk kopi, ibu-ibu bisa memusnahkan obat sendiri di rumah tanpa bahaya,” ujar Fajar di sela-sesa kegiatan.

Senada dengan Fajar, apt. Drs. Wahidin, M.Si. menambahkan bahwa kepatuhan minum obat—khususnya bagi penderita penyakit kronis seperti hipertensi—harus berbanding lurus dengan pemahaman cara penyimpanannya. “Obat hipertensi yang rusak akibat salah simpan justru bisa membahayakan keselamatan pasien,” jelasnya.

Demonstrasi langsung pemusnahan obat menjadi momen yang paling menarik perhatian warga. Dengan panduan mahasiswa, peserta diajak mengeluarkan obat dari kemasan, menghancurkannya, lalu membaurkannya dengan bubuk kopi sebelum dibungkus rapat ke dalam plastik bening agar tidak dilirik anak-anak atau pemulung.

Antusiasme tinggi dirasakan langsung oleh Juminah, salah seorang warga yang aktif bertanya selama sesi diskusi. Ia mengaku baru memahami betapa bahayanya membuang sisa obat secara asal.

“Jujur saja, selama ini kalau ada sisa obat hipertensi atau sirup anak yang habis masa pakainya, langsung saya lempar gitu aja ke tempat sampah. Hari ini baru tahu kalau ternyata harus dihancurkan dulu dan dicampur kopi. Sederhana sekali cara praktiknya, tapi ilmunya sangat kepakai untuk perlindungan keluarga,” ungkap Juminah dengan raut penuh rasa lega.

Ketua Kelompok 6 KKN UTA’45, Muhammad Sayid Ali Fikri, menyatakan keharuannya melihat kepedulian warga RW 06 terhadap kesehatan keluarga mereka.

“Melihat ibu-ibu begitu semangat bertanya soal dosis dan cara simpan obat hipertensi membuat seluruh kelelahan kami terbayar tuntas. Kami berharap prinsip DAGUSIBU ini tidak berhenti di RPTRA hari ini, tapi terus ditularkan dari rumah ke rumah,” tutur Sayid penuh harap.

Kegiatan yang diinisiasi oleh 13 mahasiswa KKN—Muhammad Sayid Ali Fikri, Tria Ayu Astari, Moch Ardy Pratama, Susana Jelita Lestari Tandang, Muhammad Irfan Abdulrahman, Maulana Sarifudin, Ath Thaariq, Fitria Rahmayanti, Della Melinda, G Fabius Caesar Niki, Wira Panji Hidayatullah, Muhammad Alvian Putera Ferdinan, serta Alda Quiara Pinto Guterres—ini menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam membangun kesadaran kesehatan dari tingkatan paling dasar: lingkungan keluarga.