Inilah Kisah Suster Stephanie Baliga, Biarawati yang Galang Dana Rp40 Miliar Lewat Maraton untuk Memberi Makan Ratusan Keluarga Miskin

0

Jakarta, BULIR.ID – Sister Stephanie Baliga pernah bermimpi menjadi atlet lari elite dan meniti karier profesional di dunia olahraga. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Ia memilih menjadi biarawati Katolik dan menggunakan kecintaannya pada olahraga lari untuk membantu keluarga miskin serta warga lanjut usia yang membutuhkan bantuan pangan di Chicago, Amerika Serikat.

Melalui partisipasinya dalam Chicago Marathon selama 15 tahun terakhir, Baliga bersama tim amal Mission of Our Lady of the Angels (MOLA) berhasil mengumpulkan lebih dari US$2,6 juta atau sekitar Rp42 miliar, dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS.

Dana tersebut digunakan untuk mendukung operasional bank pangan dan berbagai pelayanan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan di lingkungan Chicago.

Dikutip dari The Times of India, Selasa (13/10/2026), Baliga dan hampir 200 anggota Team OLA bersiap mengikuti Chicago Marathon untuk ke-16 kalinya secara berturut-turut. Tahun ini, mereka menargetkan penggalangan dana sebesar US$500.000.

Berawal dari Atlet Lari Berprestasi

Kecintaan Baliga terhadap olahraga lari sudah tumbuh sejak kecil. Ia mulai berlari ketika berusia sembilan tahun dan kemudian menjadikan olahraga tersebut sebagai bagian penting dari kehidupannya.

Saat menempuh pendidikan di University of Illinois, Baliga menunjukkan prestasi yang menonjol. Ia tercatat sebagai pelari mahasiswa tahun pertama dengan catatan waktu tercepat keenam di tingkat nasional.

Baliga menjalani latihan selama berjam-jam setiap hari dan sempat mempersiapkan diri untuk meniti karier sebagai atlet profesional.

Namun, di balik prestasi tersebut, ia mengaku menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan pencapaian.

“Tantangan menjadi atlet elite adalah Anda tidak pernah merasa puas dengan apa pun yang telah dilakukan,” demikian pernyataan Baliga yang dikutip dalam laporan tersebut.

Perjalanan hidupnya berubah ketika mengalami patah tulang kaki saat menjalani tahun kedua kuliah. Cedera itu membuatnya harus mengurangi aktivitas lari dan memberinya waktu untuk merenungkan arah hidupnya.

Dalam masa pemulihan tersebut, Baliga semakin mendekatkan diri pada kehidupan rohani. Ia kemudian menyadari keinginannya untuk mengabdikan hidup kepada Tuhan dengan melayani sesama.

Ia mengenang pengalaman spiritual yang mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri.

“Yesus melihat saya apa adanya. Dia tidak mencari nilai akademis sempurna atau catatan waktu lari saya yang cepat. Dia hanya ingin mengasihi saya dalam keadaan apa pun,” ujar Baliga, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan tersebut.

Keputusan menjadi biarawati tidak membuatnya meninggalkan olahraga yang telah dicintainya sejak kecil. Sebaliknya, ia menemukan tujuan baru dalam setiap langkah yang ditempuhnya.

Berlari untuk Memberi Makan Ratusan Keluarga

Setelah bergabung dengan Mission of Our Lady of the Angels di wilayah barat Chicago, Baliga mulai memadukan kehidupan religius dengan kegiatan olahraga dan pelayanan sosial.

Pada 2011, ia menginisiasi tim penggalangan dana melalui Chicago Marathon untuk mendukung kegiatan MOLA. Sejak saat itu, kegiatan lari yang semula menjadi sarana mengejar prestasi pribadi berubah menjadi gerakan sosial.

Dana yang dihimpun membantu operasional bank pangan yang melayani ratusan keluarga setiap pekan. Bantuan juga disalurkan kepada warga lanjut usia yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami melayani sekitar 400 hingga 500 keluarga secara langsung setiap Selasa. Kami juga mengirimkan sekitar 300 paket bantuan kepada warga lanjut usia setiap pekan, antara Senin dan Selasa,” kata Baliga.

Menurutnya, keterlibatan dalam pelayanan tersebut telah mengubah cara ia menjalani kehidupan.

MOLA juga melayani masyarakat tanpa membedakan agama. Pastor Bob Lombardo, yang mendirikan misi tersebut, menegaskan bahwa pelayanan sosial dilakukan sebagai bagian dari panggilan iman, bukan berdasarkan agama penerima bantuan.

“Kami melakukan apa yang kami lakukan karena kami umat Katolik, bukan karena orang-orang yang kami layani juga beragama Katolik,” ujar Lombardo kepada WTTW, media publik di Chicago.

Dana Maraton Membantu Saat Pandemi

Penggalangan dana melalui maraton memberikan dampak besar terhadap perkembangan layanan pangan MOLA.

Pada keikutsertaan pertama tim dalam Chicago Marathon, dana yang berhasil dikumpulkan sekitar US$20.000. Jumlah tersebut kemudian berkembang hingga melampaui US$2,6 juta selama periode 2011–2025.

Baliga mengatakan, dana hasil maraton berperan penting dalam memperluas kapasitas bank pangan pada 2018, 2019, dan 2020. Dukungan tersebut juga membantu organisasi mempertahankan layanan berskala besar ketika pandemi meningkatkan kebutuhan masyarakat.

“Pendanaan dari maraton sangat penting bagi perluasan bank pangan pada 2018, 2019, dan 2020. Dana itu juga sangat membantu kami mempertahankan layanan bank pangan dalam skala besar selama pandemi,” kata Baliga.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bagaimana kegiatan olahraga dapat menjadi sarana untuk menghimpun sumber daya bagi pelayanan kemanusiaan.

Bagi Baliga, keberhasilan itu bukan semata-mata tentang jumlah uang yang terkumpul atau catatan waktu yang dicapai di garis finis. Lebih dari itu, setiap kilometer yang ditempuh memiliki arti bagi keluarga yang membutuhkan makanan dan warga lanjut usia yang bergantung pada bantuan.

Menargetkan Penggalangan Dana US$500.000

Pada musim maraton tahun ini, Baliga bersama hampir 200 pelari Team OLA kembali menyiapkan diri untuk mengikuti Chicago Marathon.

Tim tersebut menargetkan pengumpulan dana sebesar US$500.000. Sebagai bagian dari persiapan, Baliga dan anggota tim juga mengikuti lomba setengah maraton pada 10 Juni 2026 dan berhasil mengumpulkan sekitar US$16.000.

Menurut informasi yang dimuat dalam laporan tersebut, dana yang telah dihimpun tim untuk target maraton tahun ini sudah melampaui US$184.000 pada saat pemberitaan diterbitkan.

Dukungan terhadap Team OLA juga datang dari sesama biarawati dan masyarakat. Mereka hadir memberikan semangat kepada para pelari dengan membawa poster dan berbagai tulisan penyemangat.

Baliga sendiri tetap berlari meskipun kini memiliki tanggung jawab pelayanan yang jauh berbeda dibandingkan masa mudanya sebagai atlet mahasiswa.

Jika dahulu ia mengejar catatan waktu terbaik, kini ia menempatkan lari sebagai sarana untuk memperluas manfaat bagi orang lain.

“Tuhan Akan Menyediakan”

Perjalanan Sister Stephanie Baliga memperlihatkan bahwa perubahan cita-cita tidak selalu berarti meninggalkan kemampuan yang telah dikembangkan sejak lama.

Kemampuan berlari yang dahulu digunakan untuk mengejar prestasi kini menjadi bagian dari upayanya membantu masyarakat. Disiplin latihan, ketekunan, dan semangat berkompetisi tetap dipertahankan, tetapi tujuan akhirnya berubah.

Baliga menyandarkan perjalanan tersebut pada keyakinan bahwa setiap kesempatan dapat menjadi jalan untuk melayani sesama.

“Tuhan akan menyediakan,” ujarnya, menggambarkan keyakinan yang menjadi pegangan dalam menjalankan misi kemanusiaannya.

Ia juga meyakini bahwa kehendak Tuhan dapat ditemukan melalui tanggung jawab dan kesempatan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Baliga, garis finis maraton bukanlah akhir dari sebuah perlombaan. Setiap langkah menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memastikan lebih banyak keluarga memperoleh makanan dan bantuan yang mereka butuhkan.*