Mengenal Dionysus Dewa Anggur dan Pesta dalam Mitologi Yunani

0

FILSAFAT, Bulir.id – Dionysus adalah dewa anggur, ekstasi, kesuburan, teater dan pesta Yunani. Seorang anak liar sejati dengan sifat berbahaya, ia mewujudkan aspek-aspek masyarakat Yunani yang berjiwa bebas dan tak terkendali. Salah satu julukan terbesarnya adalah Eleutherios, atau “sang pembebas.”

Setiap kali pesta berlangsung, orang-orang Yunani percaya bahwa dia ada di tengah-tengah, membuat semuanya terjadi. Dionysus sosok pemuda tampan, feminin, dan dia benar-benar pandai bergaul dengan wanita.

Dionysus juga memiliki sisi gelap dan memiliki kemampuan untuk membuat orang menjadi gila. Ia muncul dalam seni Yunani lebih dari dewa lainnya, sering menunggangi hewan atau dikelilingi oleh penggemar yang memujanya sambil menenggak segelas anggur.

Dionysus adalah Putra Zeus

Orang-orang Yunani menulis banyak versi berbeda mengenai kisah dan asal usul Dionysus. Namun dalam versi paling populer dalam hidupnya, dia adalah putra Zeus dan Semele, salah satu dari banyak kekasih Zeus di Thebes.

Hera istri Zeus cemburu mengetahui bahwa Semele hamil. Dia meminta Semele untuk memanggil Zeus dalam kemuliaan ilahi, karena mengetahui bahwa hal itu akan terlalu berat untuk disaksikan oleh manusia mana pun.

Ketika Zeus muncul dalam wujud dewanya yang menggelegar, Semele begitu kewalahan hingga langsung terbakar. Tapi bagaimana dengan anaknya yang belum lahir? Zeus dengan cepat menyelamatkan bayi itu dan disimpannya di pahanya. Di sanalah bayi itu tinggal sampai ia mencapai kedewasaan. Ini berarti Dionysus dilahirkan dua kali, pertama dari ibunya yang sekarat dan kemudian dari paha ayahnya.

Masa Kecil yang Bergejolak

Setelah dilahirkan, Dionysus tinggal bersama bibinya Ino (saudara perempuan ibunya), dan pamannya Athamas. Sementara itu, istri Zeus, Hera, masih marah karena dia ada, dan mulai membuat hidupnya sengsara.

Hera mengatur agar para Titan mencabik-cabik Dionysus. Namun nenek Dionysus yang licik, Rhea, menjahit potongan-potongan itu kembali dan menghidupkannya kembali. Dia kemudian membawanya pergi ke Gunung Nysa yang terpencil dan misterius di mana dia menjalani sisa masa remajanya dengan dikelilingi oleh bidadari gunung.

Dionysus Menemukan Anggur Setelah Jatuh Cinta

Sebagai seorang pemuda Dionysus jatuh cinta dengan seorang satir bernama Ampelus. Ketika Ampelus meninggal dalam kecelakaan menunggang banteng, tubuhnya berubah menjadi tanaman anggur dan dari tanaman anggur inilah Dionysus pertama kali membuat anggur.

Sementara itu, Hera mengetahui bahwa Dionysus masih hidup dan mulai memburunya lagi, membuatnya hampir gila. Hal ini memaksa Dionysus menjalani kehidupan nomaden dalam pelarian.

Dionysus menggunakan ini sebagai kesempatan untuk berbagi keterampilan membuat anggurnya dengan dunia. Saat dia melakukan perjalanan melalui Mesir, Suriah, dan Mesopotamia, dia mengambil bagian dalam beberapa kesialan, baik dan buruk. Dalam salah satu mitosnya yang lebih populer, Dionysus memberi Raja Midas ‘sentuhan emas’, yang memungkinkan dia mengubah segalanya menjadi emas.

Dionysus Menikahi Ariadne

Dionysus menemukan gadis cantik Ariadne di Pulau Aegea Naxos, tempat mantan kekasihnya, Theseus meninggalkannya. Dionysus langsung jatuh cinta dan mereka segera menikah. Mereka kemudian memiliki beberapa anak bersama. Nama anak-anak mereka adalah Oenopion, Thoas, Staphylos dan Peparethus.

Kembali ke Gunung Olympus

Akhirnya, pengembaraan Dionysus di seluruh Bumi berakhir, dan ia naik ke Gunung Olympus, di mana ia menjadi salah satu dari dua belas dewa besar Olympus. Bahkan Hera, musuh bebuyutannya, akhirnya menerima Dionysus sebagai dewa. Setelah menetap di sana, Dionysus menggunakan kekuatannya untuk memanggil ibunya kembali dari dunia bawah untuk tinggal bersamanya di Gunung Olympus, dengan nama baru Thyone.

Dalam Mitologi Romawi, Dionysus Menjadi Bacchus

Bangsa Romawi mengubah Dionysus menjadi karakter Bacchus, yang juga merupakan dewa anggur dan kegembiraan. Seperti orang Yunani, orang Romawi mengasosiasikan Bacchus dengan pesta liar dan sering digambarkan dalam keadaan mabuk sambil memegang segelas anggur.

Bacchus bahkan mengilhami kultus Romawi Bacchanalia, serangkaian festival yang riuh dan memberontak yang diisi dengan musik, anggur dan kesenangan hedonistik. Dari sumber inilah muncul kata ‘Bacchanalian’ saat ini, yang menggambarkan pesta atau pesta mabuk-mabukan.*