Mengenal Panda Nababan, Sosok yang Hadiahi Dewan Redaksi Bulir.id dengan Buku Otobiografinya

0

Jakarta, BULIR.ID – Jum’at (02/12/22), Dewan Redaksi Bulir.id, Drs. Asri Hadi, MA, melalui grup aplikasi perpesanan WhatsApp menyampaikan kabar gembira karena baru saja mendapat buku dari wartawan sekaligus politisi senior, Panda Nababan.

Pemred Indonews.id itu melampiri informasinya dengan foto yang menampilkan cover depan buku otobiografi berjudul “Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi”, lengkap dengan tanda tangan berserta tulisan tangan “Bro Asri Hadi” dari sang penulis sekaligus tokoh yang dikupas dalam buku tersebut, yakni Panda Nababan.

“Dapat buku dari penulisnya Panda Nababan,wartawan senior yang tahu banyak,” kata Asri Hadi seperti dilihat media ini di grup Asosiasi Media Digital Indonesia yang beranggotakan para pemilik media online di Indonesia, pada Jum’at (1/12/22) pagi.

Jokowi Asyik Mainkan Drama Teatrikal

Belakangan, nama Panda Nababan mewarnai pemberitaan media massa di Tanah Air. Hal ini terkait acara Nusantara Bersatu yang digelar para relawan Jokowi di Gelora Bung Karno (GBK).

Presiden Jokowi pun hadir, bahkan dalam kesempatan ini, di hadapan ribuan relawan, Jokowi membeberkan kisi-kisi calon presiden yang didukungnya pada Pilpres mendatang.

Nah, kembali ke Panda Nababan. Ketika para rekan sesama partai politiknya di PDIP ramai-ramai mengkritik Jokowi dan menilai sang presiden tak sadar sedang dijebak para relawannya, Panda Nababan justru berbeda pandangan.

Panda menilai Jokowi tidak mungkin dijebak sebab terlihat sangat menikmati acara yang dibuat oleh para relawannya. Panda menyebut Eks Wali Kota Solo itu justru terlihat sedang memainkan drama teateral.

“Mana dia nikmati itu. Dinikmati Jokowi, lihat sendiri ekspresinya di GBK itu. Waduh buat teateral itu, dia nikmati itu,” ujar Panda seperti dikutip melalui unggahan kanal YouTube Total Politik pada Kamis (1/12/2022).

Panda Nababan lantas berujar bahwa soal kedatangan Jokowi di acara relawan tidak perlu dianalisis lebih karena Jokowi sama sekali tidak dijebak. “Ngapain pula kita analisa,” lanjutnya.

Sosok Panda Nababan

Lantas siapa sebenarnya Panda Nababan? Bagaimana kiprahnya? Berikut adalah rangkuman perjalanan hidup sosok yang berusia 70 tahun tersebut.

Panda Nababan memiliki nama asli Pandapotan Maruli Asi Nababan. Panda lahir di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada 13 Februari 1944 silam.

Kedua orangtuanya, Jonathan Laba Nababan dan Erna Intan Dora Lumbantobing, berprofesi sebagai guru.

Selama SMP dan SMA, Panda bersekolah di SMP dan SMA Nasrani yang ada di Ajang. Usai lulus SMA, Panda melanjutkan pendidikannya di Universitas Nommensen, Pematangsiantar hingga 1963. Kemudian, Panda memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk mengenyam studi di Universitas Bung Karno sampai tahun 1966.

Tak lama, tepatnya pada tahun 1968 sampai 1969, Panda pindah lagi ke Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta. Meski saat duduk di bangku kuliah telah pindah sebanyak dua kali, Panda termasuk aktif dalam kegiatan berorganisasi.

Hal ini dibuktikan dengan dirinya yang pernah menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada 1963 dan menjabat sebagai Ketua Departemen Organisasi dalam Gerakan Mahasiswa Bung Karno di Jakarta pada 1963-1966.

Setelah lulus, Panda bekerja sebagai wartawan di Harian Umum Warta Harian dan berhasil naik jabatan menjadi Redaktur Harian Umum Sinar Hasrat pada 1970-1987, Wakil Pimpinan Umum Harian Umum Prioritas pada 1987-1988, serta Kepala Litbang Media Indonesia pada 1988-1989.

Selama berkarir sebagai wartawan, Panda dapat membangun relasi dengan banyak orang termasuk pejabat pemerintah, penegak hukum, hingga pimpinan ABRI atau TNI. Panda juga mendapat salah satu penghargaan jurnalistik ternama yakni Hadiah Adinegoro pada 1976.

Meski sibuk bekerja, pendidikannya pun tak berhenti sampai di situ saja. Pada 1979, Panda berhasil mendapat kesempatan untuk memperdalam studi Jurnalistik di NRC Handelsblaad, Rotterdam, Belanda. Panda juga sempat tergabung dalam organisasi wartawan yang bernama Persatuan Indonesia pada 1970 hingga 1975.

Usai berkarir lama di dunia wartawan, Panda Nababan beralih karir ke dunia politik dengan bergabung pada Partai Demokrasi Pancasila di tahun 1993.

Setelah kejadian 1998, Panda menjadi anggota DPR, dan berpindah ke PDIP hingga saat ini. Karir di dunia politik, tak menghentikan langkahnya dalam berkarya di bidang kepenulisan.

Panda juga membuat beberapa buku yang berjudul ❛Tanpa Rakyat Pemimpin Tak Berarti Apa-apa❜, ❛Melawan Peradilan Sesat❜, serta dua buku lainnya mengenai otobiografinya mulai masa muda hingga berusia 70 tahun.

Mengenai kehidupan pribadinya, dalam pernikahannya dengan Ria Purba, Panda dikaruniai tiga anak, yakni Putri, Putra, dan Anggi Nababan.

Namun, sang istri telah terlebih dahulu meninggalkannya karena wafat pada tahun 2018 lalu.*(Rikard Djegadut).