50 Tahun Salemba: Antony Z Abidin Tegaskan Etika sebagai Fondasi Pers Kampus

0

Jakarta, BULIR.ID — Peringatan setengah abad Suratkabar Kampus Salemba menjadi momentum refleksi mendalam bagi dunia pers mahasiswa dan civitas academica Universitas Indonesia. Dalam closing statement-nya, Antony Z Abidin (AZA) menegaskan bahwa etika dan integritas merupakan fondasi utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh pers kampus, baik di masa lalu, kini, maupun masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan AZA setelah panel diskusi yang menghadirkan para mantan tokoh mahasiswa dan Ketua Dewan Mahasiswa UI lintas generasi, yakni Hariman Siregar, Dipo Alam, Lukman Hakim, dan Saur Hutabarat, dalam rangkaian acara Peringatan 50 Tahun Suratkabar Salemba di Auditorium FKUI UI Salemba, Rabu (14/1/2026).

“Tanpa integritas, pengetahuan hanya menjadi alat, bukan pencerahan. Pers kampus harus menjadi penjaga disiplin berpikir: jujur pada fakta, adil pada perbedaan, dan bertanggung jawab pada dampak,” ujar AZA. Ia menegaskan bahwa etika bukan sekadar aksesori, melainkan fondasi yang menentukan makna dan peran pers kampus di tengah perubahan zaman.

Ketua Dewan Pakar Bulir.id Asri Hadi (kiri), Ketua Panitia 50 Tahun Surat Kabar UI Salemba Antony Z Abidin atau AZA (tengah) dan Owner CT Corps Chairul Tanjung (kanan)

AZA juga menyampaikan tantangan langsung kepada generasi muda di tengah era digital yang menyediakan panggung luas namun rawan kebisingan. Menurutnya, tanpa etika, ruang publik hanya akan dipenuhi hiruk-pikuk tanpa makna.

“Apakah Anda akan memilih jalan cepat yang ramai, atau jalan benar yang kadang sepi? Apakah Anda akan mengejar klik, atau merawat kepercayaan?” kata AZA, yang disambut perhatian serius para peserta.

Mengenai masa depan Salemba, AZA menekankan bahwa peringatan 50 tahun ini bukan pengumuman pembentukan lembaga baru, melainkan sebuah undangan terbuka bagi kampus, alumni, dan mahasiswa untuk bersama-sama memikirkan keberlanjutan nilai-nilai Salemba dalam format dan teknologi yang relevan dengan zaman.

Ia menyebutkan, harapan untuk menghadirkan kembali spirit Salemba hanya mungkin terwujud jika mendapat respons positif dari civitas academica UI, dukungan pendanaan berkelanjutan, serta pengelolaan yang dipercaya kepada figur-figur berintegritas.

“Semoga peringatan ini tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi kompas moral bagi kita semua,” tutup AZA.

Acara peringatan setengah abad Suratkabar Salemba juga dihadiri dan diwarnai oleh sambutan Prof. Emil Salim yang menerima penghargaan sebagai pelopor surat kabar kampus UI, serta keynote speech dari Yusril Ihza Mahendra dan Chairul Tanjung.

Hadir pula tokoh-tokoh lintas kampus seperti Heri Akhmadi (UGM), Heri Akhmadi (ITB), dan Harun Alrasyid (ITS), menegaskan posisi Salemba sebagai warisan intelektual pers mahasiswa yang melampaui generasi dan almamater.*