Saat HUT RI ke-77 Benar-Benar Dimaknai Sebagai Pesta Rakyat, InI yang Dilakukan “Rumah Sarwono”

0

Jakarta, Bulir.id – Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-77 dirayakan secara meriah di berbagai di tempat dan daerah di seluruh Indonesia.

Perayaan-perayaan itu dibungkus dalam satu tema besar kemerdekaan, yakni: “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. Pengusungan tema ini tentu saja berangkat dari suatu kesadaran kolektif tentang tiga hal berikut:

Pertama, Kemerdekaan Indonesia merupakan wujud kelatenan rakyatnya sendiri untuk memutus mata rantai penjajahan. Bahwa berabad-abad lamanya Indonesia dijajah, tetapi pada saatnya ia bangkit berdiri.

Rakyat Indonesia pada waktu itu membangun basis perjuangan yang integral dengan memadukan seluruh kekuatan yang ia miliki baik dari sisi kebudayaan, ekonomi, politik maupun agama. Di sisi lain, perjuangan-perjuangan kedaerahan diikat oleh satu garis komando yang sama, yakni: berani mati untuk dan atas nama negeri.

Kedua, perjuangan rakyat Indonesia mendapat bentuknya yang baru hari-hari ini. Selain harus berhadapan dengan sistem Ekonomi-Politik yang feodal dan kapitalistik, sistem hukum dan tata-kelola pemerintahan yang rusak, rakyat negeri juga sedang berjuang menapaki tangga darurat kemerdekaan yang terhimpit pandemi global Covid 19.

Sementara itu di daerah-daerah terpencil, pemerataan dan akses terhadap pendidikan yang berkualitas sulit terealisasi. Pada hal sebaik-baiknya bangsa yang merdeka adalah bangsa yang rakyatnya melek pendidikan sehingga mampu memberdayakan dirinya sendiri dan bisa bersaing dengan masyarakat internasional di tengah laju perkembangan informasi dan teknologi mutakhir.

Ketiga, berkaca pada situasi hari ini, maka dibutuhkan desain, bangunan dan keberlanjutan perjuangan melalui kebijakan nasional jangka panjang yang bisa menunjang kemandirian rakyat dari banyak aspek. Dalam rangka itu, semua elemen bangsa, secara individual maupun kolektif harus bahu-membahu melibatkan diri menjaga api perjuangan agar tidak mudah padam.

Dedikasi “Rumah Sarwono”

Menyadari kemerdekaan sebagai usaha rakyat Indonesia sendiri, maka penghormatan dan dedikasi terhadap rakyat, terlepas dari status sosial dan latar belakangnya masing-masing, harus dirayakan secara sungguh-sungguh dalam rangka menjemput HUT RI yang ke-77.

Itulah yang dilakukan oleh “Rumah Sarwono”, salah satu unit usaha Joglo Group. Rumah Sarwono dalam rencananya akan menggelar Pesta Rakyat untuk memeriahkan Kemerdekaan RI tepat pada tanggal 17 Agustus di Balai Sarwono, Jalan Raya Pasar Minggu, Km 18,2, RT.12/RW.1, Pejaten Timur, Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Pesta rakyat ini didedikasikan untuk menghargai perjuangan seluruh rakyat Indonesia, sembari mengingatkan tanggung jawab besar seluruh elemen masyarakat untuk terus berjuang melawan anarkisme, penindasan, terorisme dan gerakkan yang coba merobohkan keutuhan NKRI.

“Perjuangan rakyat harus diapresiasi. Selain itu, acara ini perlu agar semua kalangan dapat merasakan nikmatnya kemerdekaan yang kita diperoleh. Sehingga rasa cinta terhadap negara pun terus berkobar,” kata Asri Hadi, Pemimpin Indonews.id, yang juga merupakan salah satu unit usaha Joglo Group.

Foto istimewa Asri Hadi

Asri Hadi mengajak seluruh masyarakat, terutama yang berdomisili sekitar Rumah Sarwono hadir megambil bagian dari kemeriahan ini, pada Rabu Sore, (17/8) Pukul 15.00 WIB. Pesta rakyat ini akan dimeriahkan dengan beberapa acara hiburan seperti permainan rakyat, tari tradisional, jajanan rakyat, live musik dan layar tancap.

Sosok Asri Hadi sendiri sebenarnya tidak lagi asing. Sebagai tokoh nasional, ia tidak hanya berbicara tentang perjuangan merawat bangsa tetapi lebih diri itu melakukan aksi-aksi nyata.

Ia pernah mengatakan, merawat NKRI harus melampaui cara-cara konvensional dengan tidak hanya membatasi diri pada pendekatan-pendekatan lama yang cenderung eksklusif.

Pendekatan eksklusif yang dimaksud Asri adalah soal pola dan metode menjaga NKRI yang seolah-olah hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pihak-pihak tertentu saja. Ia mengatakan, harus ada komitmen bersama seluruh elemen bangsa untuk sama-sama berjuang, memastikan semua merasa terpanggil agar terlibat aktif dalam menyelamatkan rumah bersama Indonesia.

“Menjaga NKRI menjadi tugas bersama seluruh elemen bangsa. Karena itu, siapa saja, terutama para elite harus menunjukkan komitmennya dengan melibatkan diri secara langsung dalam setiap usaha menopang keberlanjutan NKRI,” ungkap Asri kepada media ini di kediamannya, di Kompleks Institut Pendidikan Depertemen Dalam Negeri (IPDN), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/6/2022).

Dosen Purna bakti di IPDN ini juga mengatakan, tugas menyelamatkan Indonesia juga tidak boleh terjebak dalam pemahaman yang sempit dengan mengedepankan ego kewilayahan atau kedaerahan. Sebab kalau itu yang terjadi, maka setiap orang akan saling lempar tanggung jawab sehingga pembangunan nasional akan berjalan di tempat.

“Jangan terjebak dalam ego kedaerahan. Misal, hanya karena saya orang Minang, saya tidak peduli dan merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk membantu teman-teman kita di daerah lain. Kalau ini yang terjadi, kita tidak akan pernah maju dan konsep NKRI tidak memiliki arti”, katanya.

Sejauh ini, Asri Hadi sendiri telah banyak melakukan aksi nyata untuk menjaga keutuhan NKRI. Dan, apa yang telah dilakukan Asri lebih banyak berorientasi pada penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat, terutama masyarkat di daerah-daerah tertinggal seperti NTT dan daerah-daerah lainnya.

Asri Hadi donasi buku ke NTT

Penggagas Desa Bersinar ini betul-betul menyadari, tantangan keindonesiaan hari ini sangat beragam. Salah satunya ialah melemahnya SDM masyarakat di tengah arus digitalisasi yang semakin kompetitif.

Asri berusaha membuka jalan mengurai kemelut ini dengan melakukan donasi buku ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk NTT. Menurutnya, donasi buku merupakan langkah awal membuka kontak Pandora dari sejumlah keterbelakangan yang mendera masyarakat di sejumlah daerah.

“Arus digitalisasi yang semakin kompetitif harus mengerucut pada aksi nyata menyelamatkan Indonesia. Donasi buku ke NTT ini merupakan bentuk kecintaan saya terhadap masyarakat di sana. Saya sangat berharap, ini dapat membantu membuka akses terhadap sejumlah pengetahuan dan keterampilan baru sehingga dapat bersaing di dunia yang makin kompetitif”, ujar Asri.