SMKN 1 Talibura Gelar Pameran Karya Siswa Siswi Presisi Tahun 2022

0

MAUMERE, Bulir.id – SMKN 1 Talibura Maumere menggelar pameran karya siswa siswi program Penguatan Karakter Siswa Mandiri Melalui Kreasi Seni di Aula SMKN Talibura, Maumere pada Kamis, 24/11/22.

Kegiatan ini dihadiri oleh Pihak Direktorat PPK, Para pengawas sekolah, Fasilitator Presisi, Para Kepala Sekolah SMP, Narasumber, Para Guru dan Siswa Siswi.

Pihak Direktorat PPK dan Fasilitator Presisi

Dalam sambutannya kepala sekolah SMKN 1 Talibura, Hermini Gildus mengaku sangat bangga karena mendapat kepercayaan menjalankan program Presisi.

“Sejak pertama kali mendapat informasi bahwa kami menjadi salah satu sekolah pserta program Presisi. Program telah berjalan sejak bulan Juli dan anak-anak serta guru pendamping telah berproses selama ini sehingga hari ini mereka dapat mempresentasikan karyanya. Kebanggaan ini menjadi lebih lengkap dengan adanya kunjungan dari pihak Direktorat Kebudayaan.”

Satu hal yang lebih menarik adalah bawa dalam program Presisi, anak-anak diberi ruang untuk menentukan sendiri karya apa yang hendak mereka kerjakan berdasarkan potensi yang ada disekitarnya. Selama ini kami juga sering membuat karya tetapi itu adalah inisiatif dari para guru,” ujar Hermini Gildus.

Mikael Maran selaku Korwas Diken Sikka mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh sekolah melalui para guru dan siswa siswi, yang telah menghasilkan karya-karya yang sangat menarik seperti salep dari ekstrak kulit Reo, pupuk bokasi dari kotoran ayam, insektisida nabati, mantel hujan dari daun pandan hutan, kripik pelepah pisang, briket dari kotoran sapi dan bekatul.

Salah satu siswi sedang menjelaskan terkait prodak yang mereka ciptakan dari bahan-bahan yang ada di sekitar mereka.

“Kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi atas karya-karya yang menarik ini. Karya-karya ini hendaknya dikembangkan dan dilanjutkan menjadi produk produk unggulan SMKN 1 Talibura,” ungkapnya.

Kedepannya perlu dibangun kolaborasi antara para guru pendamping Presisi SMKN 1 Talibura, Fasilitator Presisi, para Narasumber dan komunitas yang memiliki keterkaitan dengan konsep Presisi, demi keberlanjutan konsep pembelajaran presisi. Sehingga jika program ini berakhir konsep model presisi tetap dijalankan. Jika ini dijalankan dengan baik maka akan membuahkan hasil yang menarik.

Pupuk organik, salah satu karya siswa siswi SMKN 1 Talibura Maumere

Sedangkan pihak Direktorat Kebudayaan yang diwakili oleh bapak Bimantoro Amirysyano mengaku sangat terkejut dengan karya-karya yang dihasilkan oleh siswa siswi SMKN 1 Talibura karena benar benar memanfaatkan potensi lokal untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang berharga.

“Terus terang hari ini saya merasa sangat gembira dan agak terkejut dengan karya yang dihasilkan oleh anak-anak saat presentasi tadi. Mereka menyampaikannya dengan baik dan memberikan pengetahuan baru bagi hadirin, termasuk kami dan inilah yang diinginkan Presisi,” katanya.

Kripik pelepah pisang, karya siswa siswi SMKN 1 Talibura Maumere

Harapan kami bahwa setelah berakhirnya program ini, paradigma presisi ini terus dikembangkan karena sangat baik dan memiliki keunikan.

Presisi sendiri memiliki kesamaan posisi antara para guru, siswa siswi, kepala sekolah dan narasumber. Komponen komponen itu sama sama berproses dan saling berbagi pengetahuan.

Salah satu siswa peserta program presisi atas nama Enjel mengatakan bahwa ia sangat senang diberi kesempatan dalam program Presisi karena mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan baru.

Program Presisi

Presisi merupakan program direktorat pengembangan kebudayaan, Kemendikbudristek yang berjalan sejak Juli 2022. Program ini awalnya dijalankan oleh 5 sekolah di daerah Jawa sejak tahun 2020. Kemudian di tahun 2021 dijalankan oleh 100 sekolah di 10 daerah di Indonesia, termasuk kabupaten Sikka mendapat kuota 10 sekolah. Pada tahun 2022 Sikka kembali mendapat kuota 5 sekolah, diantaranya SMKN 1 Talibura, SMA Bola, SMP San Karlos Habi, SMPN 1 Paga dan SMPN 45 Watupajung.

Presisi memberi ruang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk menentukan sendiri apa yang mau mereka kerjakan berdasarkan pada hobi, keinginan dan ketertarikan mereka. Penekanannya adalah pada kontekstualitas.

Peserta didik diberi kesempatan untuk melihat, berpikir dan merefleksikan potensi yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka yang potensial untuk dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi sebuah karya.

Setelah itu peserta didik diberi waktu untuk melakukan observasi dengan mencari sumber belajar untuk mendukung proses belajar mereka.

Sumber belajar dapat berupa orang perorang atau kelompok, buku- buku ataupun sumber belajar lain di internet. Sebab saat ini, guru bukanlah menjadi satu-satunya sumber belajar. Tetapi salah satu dari sekian banyak sumber belajar. Jika peserta didik telah memperoleh informasi dan pengetahuan yang cukup untuk berproses menghasilkan sebuah karya, maka peserta didik kemudian akan melakukan uji coba membuat karya yang telah mereka inginkan.

Dalam proses ujicoba, peserta didik akan selalu melakukan diskusi dan konsultasi dengan guru dan juga Nara sumber di luar lingkungan sekolah sebagai sumber belajar lain. Pada tataran ini guru memainkan perannya sebagai Fasilitator (memfasilitasi siswa), mentor (memberi arahan, nasihat dll) dan coach (mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak).

Dalam proses ujicoba untuk menghasilkan sebuah karya, peserta didik tidak dilarang untuk gagal. Karena dengan kegagalan dan percobaan berulang-ulang, peserta didik akan memperoleh banyak informasi dan pengetahuan.

Setelah menghasilkan sebuah karya, peserta didik akan sampai pada tahapan evaluasi 360 derajat. Pada tahapan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mempresentasikan proses yang telah mereka lakukan. Proses ini disaksikan oleh para guru pembimbing, Nara sumber (sumber belajar lain diluar sekolah), orang tua dan teman temannya.

Dari proses ini peserta didik berhak memperoleh nilai dari beberapa mata pelajaran yang bersinggungan dengan karya peserta didik.*Will_Noack