Manfaatkan Kotoran Ayam di Kandang Praktek Sekolah, Siswa SMKN 1 Talibura Produksi Pupuk Bokashi dan Memasarkan ke Desa

Siswa-siswi jurusan Ternak Unggas SMKN 1 Talibura, Maumere produksi pupuk Bokashi sebanyak 2 ton dengan memanfaatkan kotoran ayam yang ada di kandang praktek sekolah

0

MAUMERE, Bulir.id – Siswa-siswi jurusan Agribisnis Ternak Unggas SMKN 1 Talibura, Maumere produksi pupuk Bokashi sebanyak 2 ton dengan memanfaatkan kotoran ayam yang ada di kandang praktek sekolah di Talibura, Maumere, pada Jumat, (10/2/23).

Proses pembuatan pupuk ini dilakukan secara terus menerus sejak bulan Oktober 2022 dan telah dipasarkan diberbagai pihak. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat ini siswa/i SMKN 1 Talibura telah selesai dalam proses pengemasan dan siap droping ke desa Blatatatin sebanyak satu ton.

Proses pengepakan pupuk oleh siswa-siswi SMKN 1Talibura

Salah seorang guru pembimbing Irma Lehan membenarkan hal ini ketika dikonfirmasi media ini via WA. Bahwa anak-anak didiknya di kelas XI jurusan Agribisnis Ternak Unggas telah selesai melakukan proses pengemasan terhadap 1 ton pupuk Bokashi dan siap didroping ke desa Blatatatin.

Lebih lanjut beliau menceritakan bahwa Ide awal pembuatan pupuk ini bermula ketika sekolahnya (SMKN 1 Talibura) mendapat program Penguatan Karakter Siswa Mandiri (Presisi ) dari Kemendikbudristek. Dalam program ini siswa/i diberi ruang untuk melakukan refleksi dan melihat potensi ada yang ada di sekitar lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya.

Pupuk Bokasi yang siap didistribusikan

“Siswa/siswi saya melihat bahwa kotoran ayam di kandang praktek sekolah sangat banyak namun tidak dimanfaatkan, padahal permintaan pupuk bokasi saat ini sangat tinggi, sehingga mereka berinisiatif untuk membuat pupuk Bokashi. Merespon hasil refleksi anak-anak ini, saya selalu mbimbing kemudian memfasilitasi mereka untuk bertemu sumber belajar lain di luar sekolah yaitu pemilik usaha CV Agro Flores Mandiri, Bapak Yoseph Sumanto Nong Files dan PPL Dinas Pertanian Kecamatan Talibura Bapak Petrus Geleng,” kata Irma Lehan.

Para pelajar tersebut berproses kurang lebih selama sebulan untuk melakukan wawancara dan belajar proses pembuatan pupuk serta peluang pasarnya. Setelah itu anak-anak kemudian melakukan ujicoba dan hasilnya sangat memuaskan.

“Mereka sudah mampu melakukannya secara mandiri dan hingga saat ini siswa-siswi telah memproduksi 2 ton dan sudah habis terjual. Kami akan terus berproses karena permintaan pasar cukup tinggi. Selain itu anak anak didik pun bahagia dengan model pelajaran seperti ini,” ungkap Irma.

Nobertus, salah satu siswa yang terlibat dalam program ini mengaku senang karena model pelajarannya menyenangkan.

“Kami jadi banyak tahu karena bisa bertemu dengan narasumber lain di luar sekolah. Selain itu proses pelajarannya pun terjadi di luar ruangan kelas dan sangat memotivasi kami untuk dapat memperoleh uang jajan dari proses belajarnya,” terang Obet.*