Dukung Pariwisata Daerah, Kehadiran Grab Dinilai Mudahkan Mobilitas Wisatawan 

0

LABUAN BAJO, Bulir.id – Fenomena kehadiran Grab di Indonesia memang selalu menjadi topik hangat yang memicu perdebatan sengit, mulai dari aspek legalitas hingga dampaknya terhadap transportasi konvensional.

Layanan transportasi berbasis online ini meskipun memberikan kemudahan dan membuka lapangan pekerjaan, tak lantas diterima baik oleh semua lapisan warga termasuk warga Labuan Bajo.

Suara lantang penolakan pun kian bergema datang dari beberapa asosiasi jasa transportasi yang sudah lama beroperasi di kawasan wisata Premium Labuan Bajo. Bagi mereka kehadiran Grab hanya akan merugikan pengusaha jasa transportasi lokal (konvensional).

Meski demikian tidak semua masyarakat Labuan Bajo menolak kehadiran Grab. Salah satu pemuda yang lantang bersuara menentang pihak yang menolak kehadiran Grab adalah Febri Nggala.

Baginya kehadiran Grab justru memberikan sejumlah besar manfaat bagi daerah tersebut. Masyarakat dipermudah mobilitasnya sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi pencari kerja.

Lebih lanjut ia menambahkan, Labuan Bajo sebagai daerah wisata premium harus membuka diri terhadap perkembangan zaman dan teknologi. Sebab kehadiran transportasi oline ini mempermudah akses, hemat waktu dan tepat waktu bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi.

Alumnus Universitas Pamulang itu menambahkan bahwa kehadiran trasportasi online ini memberikan sejumlah dampak ekonomi. Memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang terutama bagi kaum muda yang sedang mencari pekerjaan. Sekaligus meningkatkan pendapatan terutama pendapatan mitra pengemudi.

Ojek online telah menjadi solusi transportasi alternatif, terutama di kalangan mahasiswa dan pekerja dan wisatawan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Baginya, di tengah sulitnya mencari pekerjaan, menolak Grab justru dianggap menutup peluang ekonomi bagi warga sendiri. Ia juga menilai, penolakan bukan solusi terbaik. Jika ada kekhawatiran dari sopir lokal atau pelaku transportasi konvensional, maka yang dibutuhkan adalah aturan yang adil, bukan dengan menolak secara membabi buta.

Ia juga berharap pada pemerintah daerah seharusnya hadir mencari solusi terbaik agar transportasi online dan konvensional bisa berjalan berdampingan.

Sebagai pemuda Manggarai Barat, ia berharap masyarakat melihat persoalan ini secara kritis. Kemajuan daerah tidak boleh dihambat oleh kepentingan kelompok tertentu. Labuan Bajo harus maju, terbuka, dan siap menerima perubahan demi kesejahteraan bersama.*