Ternyata Begini Alasan, Mengapa Friedrich Nietzsche Mengatakan ‘Tuhan Telah Mati’?

0

FILSAFAT, Bulir.id – Filsuf dan polemis Jerman abad ke-19, Friedrich Nietzsche, terkenal dengan adagiumnya bahwa “Tuhan sudah mati”, dalam sebuah buku berjudul Such Spoke Zarathustra tahun1883, yang sering digambarkan sebagai karya fiksi filosofis, atau fiksi teori.

Namun apa sebenarnya maksudnya dengan hal ini, dan apa signifikansi pernyataan Nietzsche bahwa “Tuhan sudah mati” bagi mereka yang mencoba memahaminya saat ini? Untuk memahami apa yang sebenarnya dimaksud Nietzsche di sini, penting untuk menyelidiki konteks pemikiran Nietzsche yang lebih luas.

Budaya Barat Sedang Berubah

Dalam Thus Spoke Zarathustra, ide-ide Nietzsche disampaikan oleh seorang tokoh bernama Zarathustra, yang berbicara dengan cara yang ambigu dan tampak bertentangan. Dengan demikian, Nietzsche mencoba untuk memahami cara-cara di mana budaya Barat sedang berubah atau telah berubah pada saat pergolakan sosial yang besar, ketika pemikiran Pencerahan dan revolusi industri mengambil alih, dan struktur normatif masyarakat dan agama menjadi berantakan. Dengan demikian, pernyataannya adalah salah satu ekspresi yang paling dikenal luas dan kontroversial tentang perubahan tersebut.

Penting untuk memahami pernyataan Nietzsche dalam konteks filosofis dan historis ini bukan sebagai pernyataan sederhana tentang ada atau tidaknya ada sebagai yang ilahi, tetapi pengamatan mendalam tentang pergeseran lanskap budaya dan potensi implikasinya terhadap nilai-nilai dan makna manusia.

Agama Menjadi Usang

Pertama, ini adalah klaim yang murni bersifat kultural. Pernyataan bahwa “Tuhan telah mati” tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harfiah sebagai kematian fisik dari yang ilahi. Sebaliknya, ini melambangkan pergeseran yang signifikan dalam budaya dan masyarakat Barat, terutama dalam bidang kepercayaan agama dan moral.

Nietzsche mengamati penurunan nilai-nilai agama tradisional secara bertahap, dan sama kritisnya dengan dia terhadap nilai-nilai tersebut, dia juga terkejut dengan cara di mana nilai-nilai tersebut digantikan. Secara khusus, pandangan Kristen tentang dunia, moralitas dan masyarakat menghilang dengan cepat, tanpa ada yang menggantikannya.

Di sisi lain, Nietzsche menyadari bahwa ilmu pengetahuan, nalar, dan sekularisme semakin menonjol. Oleh karena itu, kepercayaan agama tradisional kehilangan monopoli mereka atas pikiran orang dan kemampuan mereka untuk membentuk cara orang berperilaku. Di masa lalu, agama telah memainkan peran sentral dalam memberikan makna, tujuan, dan pedoman moral bagi individu dan masyarakat.

Agama merupakan gudang makna, dan menyentuh hampir setiap bagian kehidupan masyarakat secara mendalam. Hal ini berfungsi sebagai fondasi untuk pemahaman bersama tentang dunia dan tempat manusia di dalamnya. Namun, Nietzsche percaya bahwa dengan merosotnya kepercayaan religius, ada bahaya kekosongan moral dan eksistensial. Tanpa bimbingan dari tuhan transenden atau tatanan ilahi, manusia mungkin akan menghadapi krisis nilai dan makna.

Pergeseran Nilai-nilai Budaya 

Dalam konteks ini, “Tuhan telah mati” menjadi metafora bagi hilangnya kebenaran moral yang absolut dan universal serta runtuhnya otoritas agama tradisional. Nietzsche tidak sedang merayakan kematian Tuhan, melainkan memperingatkan konsekuensi potensial dari masyarakat tanpa landasan moral yang kuat. Ia khawatir bahwa hilangnya nilai-nilai agama tradisional dapat mengarah pada nihilisme, sebuah keadaan di mana kehidupan dianggap tidak memiliki makna atau nilai intrinsik.

Posisi Nietzsche mengenai perubahan dalam budaya Barat ini bersifat ambigu bahkan ia tampaknya tidak sepenuhnya yakin tentang semua implikasi dari pergeseran dramatis ini. Di satu sisi, tantangan penurunan nilai agama juga merupakan sebuah peluang. Ini adalah kesempatan bagi individu untuk menciptakan nilai-nilai mereka sendiri, untuk merangkul “Kehendak untuk Berkuasa” (dorongan fundamental mereka untuk menjadi otonom) dan untuk menegaskan kehidupan dengan cara mereka sendiri.

Nietzsche selalu mendorong manusia untuk bertindak sebagai individu yang mandiri, dan agar individu yang mandiri tersebut bertanggung jawab atas keberadaan mereka sendiri, menemukan nilai-nilai mereka sendiri, dan berjuang untuk pertumbuhan pribadi dan mengatasi diri sendiri, semacam perlawanan terhadap kekuatan eksternal yang mengendalikan.

Nietzsche Sengaja Menulis dengan Cara yang Konfrontatif

Gaya penulisan Nietzsche adalah salah satu yang paling terkenal dan penting dalam literatur Barat. Gaya penulisan Nietzsche sering kali dilebih-lebihkan, keras, dan berlebihan; karena Nietzsche menulis dengan cara yang konfrontatif, penting untuk tidak membiarkan hal tersebut mengacaukan pemahaman kita tentang apa yang sebenarnya ia maksudkan.

Nietzsche melihat dirinya sebagai seorang guru, dan terkadang pelajaran yang ingin ia ajarkan kepada kita lebih baik dipelajari bukan melalui diskusi yang tenang dan rasional, tetapi dengan melemparkan sesuatu dan berteriak.

Memang, gaya polemik Nietzsche dapat dipahami sebagai cerminan dari urgensi yang ia rasakan terhadap masalah yang ia tulis. Memang, dia merasa bahwa budaya Barat berada di persimpangan jalan, dan dia sangat ingin agar kita tidak mengambil jalan yang salah. Oleh karena itu, Nietzsche menyatakan “Tuhan sudah mati” karena ia ingin kita bangun dan menyadari betapa cepatnya budaya Barat berubah, dan belum tentu menjadi lebih baik.*