Ternyata ini Filsuf Muslim yang Memengaruhi Pemikiran Santo Thomas Aquinas

0

FILSAFAT, Bulir.id – Thomas Aquinas merupakan salah satu filsuf terbesar abad pertengahan. Karya-karyanya masih dipelajari di banyak universitas hingga kini. Para ahli etika dan akademisi mencoba untuk menafsirkan lebih lanjut pemikiran Thomistik, menerapkannya pada isu-isu zaman kita.

Kehidupan dan karier produktif dosen universitas Italia ini terjadi di akhir periode yang umumnya disebut sebagai “Zaman Kegelapan” (berlangsung antara tahun 500-1500 M). Sayangnya, dari namanya saja, Zaman Kegelapan tampak bagi banyak orang modern sebagai periode takhayul dan penindasan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, menurut sejarawan Cambridge, Seb Falk, Abad Pertengahan ini menyaksikan kemajuan ilmiah yang besar. Di dunia sastra, orang-orang mengembangkan ide-ide baru dan melestarikan filsafat dari abad-abad sebelumnya.

Dunia Kristen dan Islam, meskipun secara teologis bertentangan dalam beberapa hal, menyediakan pusat pemikiran utama pada masanya. Ilmuwan Arab Ibn al-Haytham, seorang Muslim yang taat yang meyakini bahwa mempelajari alam membawanya lebih dekat kepada Sang Pencipta, memberikan dunia kamera obscura, pendahulu kamera modern pada abad ke-11.

Para sarjana modern juga menunjuk Ibn al-Haytham sebagai salah satu orang pertama yang menggunakan metode ilmiah. Dan seperti yang ditunjukkan Falk, Gereja Katolik mendirikan universitas; para biarawan menyalin manuskrip dan mengembangkan jam mekanik. Menurutnya pengetahuan ilmiah paling maju untuk sebagian besar Abad Pertengahan Eropa “berasal dari dunia Islam.”

Falk menunjukkan bahwa, para sarjana Muslim dan Yahudi membangun karya mereka berdasarkan pemikiran para filsuf sebelumnya dari Yunani atau India. Terlebih lagi, budaya Arab membantu melindungi dan melestarikan filsafat Yunani kuno.

Antara tahun 750 dan 950, gerakan penerjemahan berlangsung di Baghdad yang menjaga karya-karya Aristoteles dan para klasik lainnya tetap hidup sementara tulisan-tulisan yang sama kehilangan pengaruhnya di Barat. Hal ini penting untuk dicatat karena sebagian besar filsafat Aquinas sendiri bersumber dari Aristoteles. Sama seperti yang kemudian dilakukan Thomas Aquinas, para pemikir Arab mulai memasukkan gagasan-gagasan Yunani ke dalam filsafat mereka.

“Angelic Doctor” itu sendiri akan bermain-main dengan gagasan-gagasan dari para filsuf Arab dalam tulisan-tulisannya. Abad Pertengahan ternyata tidak begitu terbelakang dalam hal sains dan pembelajaran.

Aquinas dan Akademisi

Santo Albertus Magnus (Albert Agung) mendidik Thomas muda. Ia kemudian mengajar di Universitas Paris, yang berawal pada pertengahan abad ke-12, sehingga universitas tersebut masih tergolong baru ketika Thomas muncul.

Aquinas menulis himne-himne puitis yang masih dinyanyikan dalam liturgi Katolik hingga saat ini, seperti “O Salutaris Hostia” dan “Tantum Ergo.” Ia muncul di antara Gereja yang Berjaya dalam Paradiso karya Dante Alighieri dan berbicara kepada Peziarah (Dante mempelajari Aquinas secara mendalam).

Dipuji sebagai santo oleh Gereja Katolik Roma, Thomas termasuk dalam ordo religius yang dikenal sebagai Dominikan dan menjalani hidupnya sesuai dengan moral Kristen. Filsafatnya meresapi teologinya, sebagaimana teologinya membentuk filsafatnya. Seperti Ibn al-Haytham dan penganut kepercayaan Abrahamik lainnya pada era ini, ia adalah seorang jenius yang tidak melihat pertentangan antara mengenal Tuhan dan mengetahui tentang dunia alam.

Dalam tulisannya, yang paling terkenal di antaranya adalah Summa Theologica, ia mengemukakan tesis-tesisnya serta kontra-tesis (bantahan) dari para penentan baik yang nyata maupun yang dibayangka serta bukti-bukti dan kontra-bukti. Ia merujuk pada banyak pemikir pagan, terutama para filsuf Yunani kuno, serta rekan-rekan sezamannya, para ulama Islam. Meskipun mengutip filsuf lain, tidak berarti persetujuan, dan juga tidak menjamin bahwa ia menentang.

Terkadang ia menyisipkan gagasan para pemikir Muslim untuk menawarkan sudut pandang berbeda terhadap pemikirannya sendiri, di lain waktu, ia memperkuat proposisinya sendiri dengan mendukungnya melalui kesepakatan dari para filsuf tersebut. Contoh yang terakhir tidak mengganggu hati nuraninya sebagai seorang Kristen, karena mengambil kebijaksanaan dari sumber ciptaan apa pun sesuai dengan pemahaman Alkitab bahwa semua kebijaksanaan berasal dari Tuhan (lihat Amsal 2:6). Aquinas bahkan berpendapat bahwa “menghina perintah akal budi sama dengan menghina perintah Tuhan.”

Aristoteles dan Kekuatan Akal Budi

Aristoteles (384-322 SM) adalah tokoh penting dalam filsafat di dunia pra-Kristen dan memiliki pengaruh besar pada Aquinas. Ia percaya bahwa manusia memiliki jiwa dan kemampuan mereka untuk berpikir rasional membedakan mereka dari makhluk hidup lainnya.

Aristoteles berupaya memahami lebih dalam pengalaman hidup sehari-hari yang umum. Kualitas yang membedakan metodologi filosofisnya dari banyak pendahulunya adalah klasifikasi temuannya. Ia mengamati berbagai hal, karakteristik, dan fungsinya, lalu mengklasifikasikannya sesuai dengan itu. Dalam hierarki keberadaan, ia menempatkan manusia di puncak karena kita adalah hewan rasional, “hewan yang bertanya dan berpikir, mampu terlibat dalam pemikiran filosofis,” seperti yang diungkapkan oleh penulis Mortimer Adler. Aristoteles percaya bahwa segala sesuatu memiliki sifat yaitu, serangkaian kualitas unik yang membedakannya dari semua jenis hal lainnya.

Aquinas sangat mengagumi banyak karya Aristoteles, dan mengasimilasi pemikiran filsuf kuno itu ke dalam pemikirannya sendiri. Konsep alam menurut Aristoteles juga digunakan oleh Aquinas. Begitu pula dengan empat sebab Aristoteles yang kemudian diadopsi oleh filsuf skolastik tersebut. Hal ini menambah pemahamannya tentang kausalitas efisien, yang mendasari bukti kedua dari lima buktinya untuk keberadaan Tuhan.

Meskipun demikian, penerimaan Thomas Aquinas terhadap Aristoteles pada awalnya kontroversial. Pada awalnya, otoritas Gereja memperingatkan umat beriman terhadap Aristotelianisme. Namun akhirnya, Thomas memberikan kuliah umum tentang Aristoteles, yang menimbulkan penentangan. Pada tahun 1273, rekannya, Santo Bonaventura, juga berupaya mengadakan sejumlah konferensi di mana ia justru menentang pandangan Aristotelian, “termasuk ajaran Thomas.” Meskipun demikian, persetujuan Aquinas pada akhirnya didukung oleh Gereja.

Namun, Aquinas tidak begitu saja menerima semua gagasan Aristoteles. Menurut buku Lives of the Saints karya Butler, “Selama masa penahanannya [ketika keluarganya memenjarakannya], Thomas… konon menulis sebuah risalah tentang kesalahan-kesalahan logika Aristoteles.” Meskipun ia menghargai Aristoteles, hal itu tidak menghalangi Aquinas untuk terus berpikir secara jernih.

Plato dan Jiwa Manusia

Sebagai tokoh sezaman yang lebih senior dari Aristoteles (belum lagi gurunya), Plato sangat memengaruhi filsafat Yunani kuno dan dengan demikian arah pendidikan dalam peradaban Barat. Plato (sekitar 428-sekitar 347 SM) tidak hanya memengaruhi Aristoteles tetapi juga sumber-sumber lain yang akan membentuk keyakinan Aquinas, seperti keyakinan Santo Agustinus dari Hippo. Meskipun demikian, pandangan Aquinas lebih sejalan dengan Aristoteles, yang visinya tentang realitas berbeda dalam beberapa hal utama dari Plato.

Bagi Plato, tubuh adalah penghalang eksternal bagi jiwa, dan hasil dari kehidupan yang baik melibatkan kematian dan pencapaian kebahagiaan tanpa tubuh. Bagi seorang Kristen yang taat yang percaya pada kebangkitan tubuh di akhirat, pemisahan tubuh dan jiwa ala Plato seperti itu sama sekali tidak masuk akal. Jadi, persepsi Aquinas tentang jiwa manusia berbeda dengan persepsi Plato.

Penekanan Plato yang berlebihan pada jiwa dan keyakinannya bahwa jiwa menyediakan kemampuan penalaran dapat dikatakan memengaruhi, atau setidaknya selaras dengan, keyakinan yang dianut Thomas Aquinas. Ia juga berpendapat bahwa di dalam jiwa terdapat akal budi.

Aquinas memandang jiwa sebagai sesuatu yang lebih unggul daripada tubuh, sementara pada saat yang sama, menyatu dengan tubuh. Hingga saat ini, para teolog Kristen percaya bahwa pria dan wanita diciptakan sebagai imago Dei, menurut gambar dan rupa Allah. Banyak juga yang mengatakan bahwa kemiripan dengan Allah ini terutama terdapat di dalam jiwa, dari mana muncul kemampuan rasional seseorang.

Plato dan Aquinas sama-sama memandang jiwa sebagai sesuatu yang spiritual non-materi. Mereka berdua memandang jiwa sebagai sesuatu yang abadi, ada tanpa akhir sejak penciptaannya. Namun sekali lagi, mereka berbeda karena Plato memandang manusia terutama sebagai jiwa; itulah bagian terpenting baginya. Aquinas, bagaimanapun, berbicara tentang kepercayaan Kristen bahwa manusia adalah gabungan tubuh dan jiwa atau kesatuan.

Rahmat dalam Al-Ghazzali

Abu Hamid Muhammad al-Ghazzali (1058-1111) adalah seorang teolog Muslim yang menganut gaya hidup sederhana. Ia memberikan kuliah tentang berbagai topik di Kolese Nizamiyah di Baghdad (Irak modern). Ia adalah seorang Sufi, seorang mistikus Muslim, yang mencari pengetahuan tentang Tuhan melalui pengalaman. Bukunya, Doktrin Para Filsufqqq, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin setelah kematiannya, dapat diakses dan dikutip oleh Albert dan muridnya, Thomas. REA Shanab mengatakan bahwa Aquinas “mempelajari karya-karya filsuf Islam, terutama karya Ghazali, di Universitas Napoli.” Shanab percaya bahwa pemikiran mistikus tersebut sangat memengaruhi biarawan Dominikan itu.

Tentu saja, dalam membingkai hubungan antara Sang Pencipta dan umat manusia, al-Ghazzali dan Aquinas mungkin memiliki pandangan yang sama. Dalam The Alchemy of Happiness, al-Ghazzālī membahas tujuan orang beriman dalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Tujuan kehidupan spiritual, katanya, adalah cinta kepada Tuhan. Bahaya spiritual, kemudian, adalah bahaya yang “menghalangi cinta kepada Tuhan di dalam hati manusia.” Mencapai tujuan yang luhur tersebut membutuhkan pertolongan Tuhan. “Kelestarian manusia dan pencapaian kesempurnaan pada akhirnya juga sepenuhnya bergantung pada rahmat Tuhan.”

Cita-cita tersebut mencerminkan konsep Kristen tentang rahmat, yaitu kehidupan Allah dalam jiwa manusia, yang menghidupkannya dan memungkinkan seseorang untuk melakukan perbuatan baik. Kita perlu bekerja sama dengan rahmat untuk memperoleh keselamatan. Dalam kata-kata Aquinas, setelah Adam dan Hawa berdosa, manusia “membutuhkan bantuan rahmat untuk menghindari kejatuhan” dan “untuk layak masuk surga.” Meskipun ini kemungkinan bukan pengaruh langsung dari al-Ghazzali, gagasan tentang rahmat merupakan contoh titik temu antara pemikiran Kristen dan Muslim.

Ibn Rushd (Averroes) dan Keberadaan serta Kesempurnaan Tuhan

Bahkan sebelum zaman Aquinas, ajaran Aristoteles telah mengalami kebangkitan kembali di Timur di kalangan filsuf Islam. Salah satu pemikir tersebut adalah Ibn Rushd, yang lebih dikenal dengan nama Latinnya, Averroes (1126-1198).

Ibn Rushd berupaya meneliti agama dengan kritis, tetapi ia juga berpendapat bahwa ajaran Islam harus dipatuhi meskipun klaim seorang filsuf tidak selaras dengan prinsip-prinsip dasar agamanya. Ibn Rushd percaya bahwa alam semesta pasti diciptakan oleh pikiran seseorang, dan ia mengamati bahwa semua yang ada “disetel dengan sangat baik,” tepat, dan teratur. Baginya, ini berfungsi sebagai bukti keberadaan ilahi. Demikian pula, dengan meneliti struktur alam semesta, Aquinas mengatakan bahwa organisasi semacam itu tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Seperti Averroes, ia berpendapat bahwa keteraturan ini mendukung keberadaan Sang Pencipta.

Korelasi antara teologi Aquinas dan Averroes lebih jauh lagi. Dalam De Ente et Essentia risalahnya tentang keberadaan dan esensi, filsuf Dominikan tersebut membedakan antara esensi (hakikat atau apa yang menjadikan suatu hal seperti apa adanya) dan eksistensi (atau keberadaan) dari segala sesuatu. Ia mengutip filsuf-filsuf masa lalu, termasuk Averroes dan Avicenna. Ia menunjukkan di mana mereka salah, tetapi ia juga mengakui kebenaran yang mereka sampaikan.

Aquinas juga mengatakan bahwa hal itu tidak berlaku untuk Tuhan. Ia menulis: “Esensi Tuhan diidentifikasi dengan keberadaan-Nya sendiri… Ia tidak memiliki esensi yang terpisah dari keberadaan-Nya.” Ia menguraikan kesempurnaan Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud murni, dengan mengutip beberapa tokoh terkenal untuk memperkuat tesisnya: Aristoteles dan Ibnu Rushd.

Aquinas percaya bahwa tidak ada tingkatan kualitas dalam diri Tuhan, bahwa Dia sempurna dan juga tidak berubah. Bagi Aquinas dan Averroes, jika Tuhan benar-benar Tuhan, maka Dia adalah kesempurnaan total.

Ibn Sina (Avicenna) dan Refleksi atas Wahyu Ilahi

Avicenna adalah versi Barat dari nama filsuf Muslim Abu ‘Ali al-Husayn ibn Sina. Avicenna (980-1037) merenungkan pertanyaan-pertanyaan metafisika dan menulis tafsir atas ayat-ayat Al- Qur’an. Dalam karyanya Summa contra Gentiles, Thomas Aquinas mengutip Avicenna sebanyak 17 kali, yang menggarisbawahi pentingnya cendekiawan Al-Qur’an ini.

Avicenna mempertahankan pengaruh Aristoteles. Sebagai seorang monoteis, ia juga berada di antara garis keturunan filosofis yang terdiri dari apa yang disebut “teis klasik.” Teis klasik adalah para pemikir yang menganut gagasan kesederhanaan ilahi: gagasan bahwa Tuhan adalah satu, unik, dan tak berubah. Kesederhanaan ilahi menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan, bahwa Dia bukanlah salah satu di antara banyak perwakilan dari suatu jenis entitas tetapi adalah wujud-Nya sendiri, dan bahwa Dia tidak tersusun dari banyak bagian.

Bagi seorang teis klasik, Tuhan tidak dapat dipisahkan; tidak ada unsur-unsur Tuhan yang terpisah dan berbeda dari yang lain. Seperti yang diyakini Aquinas, esensi dan keberadaan Tuhan adalah satu. Penulis Kristen kuno Tertullian berkata, “Makhluk tertinggi haruslah unik, tanpa tandingan… Jika Tuhan tidak satu, Dia bukanlah Tuhan.” Keyakinan yang sama telah dipertahankan oleh Katolik serta oleh para pemikir Protestan seperti Martin Luther dan John Calvin.

Kesederhanaan ilahi dikomunikasikan dalam Alkitab. Keesaan Tuhan dalam alam juga dijelaskan dengan jelas dalam Al-Qur’an. Baik Aquinas maupun Avicenna percaya pada kesederhanaan ilahi karena keduanya sangat selaras dengan prinsip-prinsip kepercayaan masing-masing. Keduanya termasuk dalam agama-agama Abrahamik yang menekankan wahyu ilahi Sang Pencipta. Terpengaruh oleh penekanan semacam itu, baik Avicenna maupun Aquinas berupaya menafsirkan apa yang mereka anggap sebagai tulisan suci: Avicenna merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an; Aquinas, ayat-ayat Kitab Suci. Keduanya berusaha untuk memahami Tuhan lebih dalam.*