Krisis Modernitas: Mengapa Kita Membutuhkan Visi Kosmik Baru

0

FILSAFAT, Bulir.id – Modernitas merupakan salah satu konsep paling berpengaruh dalam sejarah intelektual dunia, telah memberikan kontribusi besar terhadap perubahan arah dan eksistensi berbagai masyarakat. Lahir antara abad keenam belas dan kedelapan belas di Eropa, modernitas muncul sebagai produk dari periode Pencerahan.

Periode ini ditandai dengan memudarnya pengaruh agama yang signifikan dan otoritas Gereja Katolik Roma yang dominan. Pudarnya pengaruh agama diikuti oleh perkembangan pandangan dunia baru, pandangan dunia humanistik yang didukung oleh materialisme.

Pandangan dunia ini merupakan puncak dari proses transformasi yang telah dimulai sejak Renaisans. Zaman Pencerahan berkontribusi pada evolusi kognisi manusia, menghasilkan kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya di bidang seni, budaya, sastra, dan sains.

Perkembangan ini menandai transisi dari periode abad pertengahan ke periode modern. Modernitas berlandaskan pada tiga tema sentral: Rasionalisme, Antroposentrisme, Individualisme.

Rasionalisme: gagasan ini berpendapat bahwa pandangan dunia manusia harus selalu dipandu oleh sains dan pola pikir ilmiah. Ini menunjukkan bahwa setiap fenomena di alam dapat diamati, dibedakan, dan diinterpretasikan. Ia menegaskan bahwa kepercayaan dan gagasan manusia harus didasarkan pada fakta, informasi yang telah diverifikasi dan dibuktikan kebenarannya melalui pengujian dan eksperimen yang ketat. Ilmuwan seperti Rene Descartes dan filsuf seperti David Hume, Voltaire dan Francis Bacon, adalah beberapa tokoh terkemuka pada periode tersebut.

Antroposentrisme: gagasan ini menganggap manusia sebagai makhluk terpenting di alam semesta dengan keyakinan bahwa alam harus tunduk kepada manusia. Gagasan ini mengadopsi pendekatan materialistis yang khas terhadap kehidupan. Revolusi Industri abad ke-18 di Inggris, yang kemudian menyebar ke negara-negara Eropa lainnya dan selanjutnya ke Amerika Utara, adalah manifestasi dari gagasan ini.

Individualisme: sebuah prinsip utama liberalisme, berpendapat bahwa manusia adalah makhluk rasional yang mampu menentukan apa yang terbaik bagi mereka. Dalam konteks itu, pusat dunia manusia adalah individu, bukan masyarakat, komunitas, atau bahkan negara. Ia menolak gagasan kolektivistik tentang eksistensi manusia, dengan berargumen bahwa hak dan kebebasan yang melekat pada setiap individu merupakan benteng penting terhadap campur tangan kekuasaan kolektif atau negara. Ia menganggap bahwa manusia adalah penentu nasib mereka sendiri dan menolak pandangan deterministik tentang kehidupan manusia. Dengan demikian, mereka menganjurkan kerangka kerja liberal-kapitalis di mana pasar dijunjung tinggi sebagai lembaga terbaik untuk penyebaran barang-barang sosial dan peluang ekonomi.

Meskipun Zaman Pencerahan melahirkan humanisme sekuler, sayangnya hal itu memicu keyakinan bahwa agama harus sepenuhnya ditempatkan di ranah pribadi, sementara ranah publik akan memiliki pandangan materialistis yang kuat dan semangat sekuler yang kental.

Dalam konteks tersebut, gagasan modernitas sekuler melahirkan tiga kekuatan sosio-ekonomi, yang meskipun merupakan produk langsung dari mesin filosofis ini, telah menjadi bencana karena beberapa alasan di anataranya; bencana ekologis, eksploitasi manusia dan keterasingan.

Bencana Ekologis: antroposentrisme memperlakukan alam sebagai sumber daya semata dan mengeksploitasinya atas nama ‘kemajuan’. Hal ini telah menyebabkan krisis ekologis kronis yang melanda planet ini. Pelepasan emisi gas rumah kaca yang tidak terkendali oleh industri-industri pencemar di seluruh wilayah Euro-Atlantik selama empat hingga lima abad terakhir telah mengakibatkan kondisi cuaca ekstrem yang meluas di belaham bumi lain. Banjir, tanah longsor, kekeringan, dan suhu musim panas yang ekstrem menjadi kejadian rutin. Kenaikan permukaan laut meningkat.

Lebih buruk lagi, kenaikan suhu global mengancam keanekaragaman hayati Bumi, mengakibatkan perubahan pola migrasi spesies, dan ketidakmampuan komunitas rentan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang tiba-tiba tersebut. Hal ini telah menyebabkan peningkatan jumlah pengungsi iklim dan menempatkan banyak negara di bawah ancaman serius perubahan iklim. Terlepas dari kesadaran global, hanya ada sedikit urgensi moral dalam memerangi perubahan iklim.

Instrumen Penindasan dan Pemaksaan: Semangat ekspansi ekonomi yang dipengaruhi oleh abad Pencerahan juga menyebabkan upaya pencarian Eropa akan pasar dan sumber daya baru. Seiring dengan ekspansi produksi industri, persaingan imperial meningkat, yang menghasilkan kelahiran Zaman Imperialisme dan bentuk politiknya yang paling terlihat, Kolonialisme. Sebagian besar Asia, Afrika, dan Amerika Latin berada di bawah kendali Eropa karena kekuatan-kekuatan saingan berusaha untuk memperluas pengaruh komersial dan kendali geopolitik mereka.

Keterasingan Individu: Dengan menganggap manusia sebagai pusat kesadaran sosial, modernitas Barat telah merusak fondasi organik masyarakat lain. Individualisme telah menyebabkan keterasingan manusia dari sesamanya, yang berujung pada eksistensi sosial yang terpisah dan memicu krisis modern seperti depresi, kesepian, dan kelelahan. Filsuf dan akademisi Korea Selatan-Jerman, Byung Chul Han, dalam bukunya The Burnout Society, menyoroti bahwa penekanan pandangan dunia neoliberal pada pengembangan peradaban teknokratis telah bertanggung jawab atas melemahnya ikatan organik masyarakat Barat, sehingga menyebabkan kemerosotan dalam ikatan komunitarian berupa persatuan, persaudaraan, dan yang terpenting, keluarga.

Dalam konteks itu, ia berpendapat dalam salah satu karyanya yang lain, Psikopolitik: Neoliberalisme dan Teknologi Kekuasaan Baru, bahwa pandangan dunia neoliberal secara teknologi mengalihkan gagasan tentang keintiman dan sensualitas, sehingga berkontribusi pada komersialisasi gagasan tersebut yang manifestasinya dapat ditemukan dalam munculnya platform streaming OnlyFans di banyak negara Barat. Ketika gagasan tentang keintiman menjadi objek komodifikasi, seperti yang terjadi dalam konteks ini, jiwa menjadi objek konsumsi.

Mengingat kondisi yang ada, neoliberalisme yang dikomersialkan pada dasarnya telah merusak sifat transendental jiwa manusia. Vitalitas dan dasar organik jiwa telah terkoyak, membuatnya hampa dan kehilangan akar. Di dunia di mana individu berjuang untuk menemukan jati diri mereka yang sebenarnya, psiko-politik neoliberalisme telah melepaskan gagasan yang tak masuk akal ini. Kehilangan akar ini mencerminkan argumen Eric Voegelin tentang hilangnya partisipasi dalam gagasan tentang keberadaan yang sebenarnya.

Dihadapkan dengan krisis yang meluas yang dipicu oleh kekuatan modernitas sekuler, inilah saatnya untuk memulai pencarian visi kosmik moral yang baru. Bagian pertama dari visi ini adalah mengemukakan pendekatan Barat, dalam konteks ini gagasan pertama adalah ekologi Kristen. Berlandaskan pada gagasan yang diartikulasikan dalam Laudato Si, konsep ini dikembangkan oleh mendiang Paus Fransiskus, dalam ensikliknya tahun 2015 Laudato Si (Tentang Kepedulian terhadap Rumah Kita Bersama). Mengambil inspirasi dari kehidupan dan ajaran Santo Fransiskus dari Assisi. Ensiklik tersebut menyatakan bahwa krisis ekologi zaman kita berasal dari pandangan dunia antroposentris yang diadvokasi oleh modernitas sekuler.

Hal ini menyerukan “konversi ekologis”, transformasi hati dan pikiran di mana kita harus melihat diri kita bukan sebagai pemilik ciptaan tetapi sebagai pengelola alam. Ia mengkritik paradigma teknokratis, menggarisbawahi perlunya penanaman dimensi moral pada inovasi teknologi: pengendalian diri, kearifan moral, dan penolakan terhadap pola pikir konsumerisme.

Namun, ekologi Kristen adalah bagian pertama dari visi baru; bagian selanjutnya adalah pendekatan Timur, khususnya dari negara peradaban Timur (Asia). Gagasan ini disebut modernitas Timur. Gagasan ini meyakini bahwa modernitas harus merupakan perpaduan antara perkembangan dan kemajuan material dan spiritual. Perkembangan material mengarah pada pemenuhan keinginan dan aspirasi manusia ilmiah. Namun, bagi manusia ilmiah, materialisme mengarah pada kekosongan. Kekosongan ini diisi oleh peningkatan spiritual, bukan hanya kesadaran diri sendiri, tetapi juga kesadaran alam semesta.

Dalam tradisi Timur (Asia) percaya pada kepuasan komprehensif dari empat prinsip pengorganisasian kehidupan manusia; Artha, Dharma, Kama dan Moksha. Artha berkaitan dengan kepuasan keinginan materi; Dharma dengan pelaksanaan kewajiban seseorang sebagaimana diatur oleh hukum suci; Kama berkaitan dengan pemuasan keinginan sensual, yang termanifestasi dalam seni dan budaya; sementara Moksha berkaitan dengan pencapaian keselamatan dari ilusi kehidupan.

Bagian penting dari modernitas Timur adalah kepercayaan bahwa peradaban manusia memiliki hubungan yang kuat dengan alam. Gagasan ini memandang kosmos yang diatur oleh tatanan kosmik, sebagai ekspresi roh universal; di dalam roh kosmik bersemayam Atman, jiwa yang menjelma dalam setiap manusia. Jiwa tertanam dalam roh universal. Oleh karena itu, modernitas Timur percaya pada pelestarian alam sebagai dharma individu. Manifestasi visi ini ditemukan dalam gagasan “alam dan segala isinya adalah satu kesatuan keluarga.”

Modernitas Timur dan ekologi Kristen muncul dari tradisi metafisika yang berbeda, tetapi keduanya bertemu dengan kuat dalam kritik mereka terhadap modernitas sekuler dan penegasan mereka tentang visi kosmik moral. Kesimpulannya, modernitas Timur dan ekologi Kristen menganjurkan kemajuan materi dengan kerendahan hati dan eksistensi kolektif dengan pandangan dunia kosmik yang kuat. Kedua doktrin tersebut, meskipun dipisahkan oleh geografi dan sejarah, memiliki pandangan dunia yang sama: penciptaan itu suci, teratur, dan kosmik.

Oleh karena itu, di zaman di mana kemerosotan peradaban, kerusakan ekologis, dan pengaruh teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menjadi norma yang disayangkan, yang dibutuhkan saat ini adalah kembali kepada apa yang dikemukakan oleh filsuf Amerika Eric Voegelin, tatanan spiritual yang dipulihkan yang diatur oleh koeksistensi harmonis antara keteraturan, makna, dan nilai warisan alam yang dianugerahkan kepada kita oleh Ibu Pertiwi, dan di mana jiwa telah menyelaraskan dirinya dengan sifat transendental realitas yang terkikis oleh modernitas sekuler.*