Filter Media Sosial: dari Realitas ke Hiperrelitas Baudrillard

0

FILSAFAT, Bulir.id – Di era digital ini, semua realitas dapat diubah sekaligus dimodifikasi sesuai selera. Berbagai platform media sosial memanjakan dengan berbagai fitur yang menarik untuk mengubah realitas menjadi hiperrealitas. Dari instagram, facebook hingga tiktok dan berbagai media sosial lainnya menyuguhkan ilusi yang terkadang sulit dibedakan dengan realitas.

Pemikir Prancis Jean Baudrillard menyebut ini “hiperrealitas.” Ini adalah keadaan di mana ilusi dan simulasi lebih nyata daripada kehidupan nyata. Ketika kita menciptakan citra daring ini, kita mulai berpikir bahwa sosok daring yang sempurna ini adalah siapa kita di kehidupan nyata. Tetapi kenyataannya berbeda. Dan hipotesis Baudrillard berlaku di sini dan sekarang lebih dari sebelumnya. Mengapa? Itulah pertanyaan yang perlu kita telusuri.

Hiperrealitas adalah konsep filosofis yang diciptakan oleh Jean Baudrillard, yaitu ketika beberapa hal yang meniru realitas tampak lebih nyata daripada realitas itu sendiri, misalnya, foto, video, dan unggahan media sosial yang telah difilter. Saat kita melihatnya, kita tidak dapat memastikan apakah itu nyata atau dibuat oleh AI.

Baudrillard menjelaskannya menggunakan empat tahapan yang ia sebut sebagai “tanda” atau simbol. Tahap pertama adalah tanda yang mencerminkan realitas. Misalnya, potret diri Anda. Tahap kedua adalah tanda yang mengganggu realitas tersebut. Tahap ketiga adalah tanda yang berpura-pura mewakili sesuatu yang nyata, tetapi sebenarnya tidak. Terakhir, tahap terakhir adalah simulasi murni. Ini adalah sesuatu yang tidak memiliki hubungan dengan realitas apa pun. Ini hanyalah sekumpulan simbol yang merujuk pada simbol lain. Budaya influencer media sosial adalah ilustrasi yang bagus untuk hal ini.

Untuk mengeksplorasi masalah ini lebih dalam, kita dapat melihat banyak beredar foto dan video di media sosial yang seringkali menampilkan realitas yang dimodifikasi sedemikian rupa sebagaimana realitas sesungguhnya.

Foto dan video itu memiliki naskah dan cuplikan yang diedit agar tampak seperti kejadian benar-benar terjadi. Misalnya makanan yang tampak lezat dan menggugah selera dalam iklan. Ketika Anda benar-benar memesannya di restoran, tampilannya sangat menyedihkan.

Menurut Baudrillard, simulasi semacam itu saat ini ada di mana-mana. Alih-alih berurusan dengan dunia nyata, kita semakin sering berurusan dengan gambar atau representasinya. Dan seringkali, representasi tersebut tidak mewakili kenyataan.

Filter Media Sosial dan Simulasi Diri

Media sosial (instagram, facebook, tiktok) adalah contoh bagus dari hiperrealitas. Saat kita mengunggah foto di sana, kita melakukan lebih dari sekadar membagikannya. Kita menampilkan sebuah pertunjukan. Berkat filter, kulit kita terlihat bagus. Dan aplikasi pengubah wajah membuat setiap senyuman bersinar. Dan kutipan-kutipan di bawah setiap foto memungkinkan kita untuk terlihat jauh lebih keren secara online.

Namun kenyataan itu kejam. Kita tidak selalu menunjukkan siapa kita sebenarnya. Kita menunjukkan kepada orang lain siapa yang ingin kita jadikan diri kita. Dan rangkuman yang diedit ini terdengar sangat cocok dengan gagasan Jean Baudrillard tentang simulasi: kita adalah salinan tanpa model asli yang jelas.

Ya, Baudrillard berpendapat, citra sangat penting sehingga mengalahkan realitas. Semua profil Instagram kita begitu “dipoles” dan difilter sehingga kita ditampilkan tanpa cela. Jadi, alih-alih “diri” yang sebenarnya, Anda menampilkan diri ideal tersebut dalam upaya mendapatkan lebih banyak “like” dan pengakuan.

Kekhawatiran tentang menganggap ilusi (atau bayangan) sebagai kebenaran sudah ada setidaknya sejak zaman Plato. Dan para penggemar media sosial saat ini memiliki versi terbaru dari metafora ini dalam Alegori Gua. Kita bahkan mulai berpikir bahwa semua orang lain memiliki kehidupan yang terbaik, dan kita menderita. Dan itu memang benar, bahkan jika kita memahami bahwa itu adalah realitas yang telah disaring.

Di sinilah sindrom penipu muncul. Kita merasa gagal mencapai sesuatu yang sebenarnya tidak nyata. Dan ini membuat kita bingung. Kita tidak tahu siapa diri kita sebenarnya.

Jadi, ketika Baudrillard mengatakan bahwa simulasi dapat menggantikan realitas, dia benar. Kita hidup saat ini sebagai persona media sosial kita, bukan sebagai diri kita yang sebenarnya.

Influencer dan Komersialisasi Simulacrum

Namun bagaimana dengan influencer? Mereka, sebenarnya, adalah masalah lain. Mereka tidak hanya menjalani hidup mereka dan menunjukkannya di media sosial, tetapi juga menjual hidup mereka kepada kepentingan tertentu. Tidak ada yang bersifat pribadi karena semuanya bisa bersifat promosi. Secangkir kopi pagi bukan lagi momen kenikmatan. Itu adalah konten. Liburan bukan lagi istirahat, melainkan iklan untuk sebuah resor.

Tokoh-tokoh yang memengaruhi kita menampilkan kehidupan mereka dengan begitu cemerlang. Mereka memiliki pakaian terbaik dan senyum paling cerah, seolah-olah setiap saat. Ini, menurut Baudrillard, adalah simulakrum. Sederhananya, itu adalah salinan kehidupan yang begitu dipoles sehingga menggantikan realitas itu sendiri.

Pengalaman dikomersialkan di sini. “Malam yang nyaman di rumah” mungkin disponsori oleh perusahaan lilin. Bahkan emosi seperti kegembiraan atau kerentanan dipasarkan sebagai momen berbagi yang #relatable. Dan inilah yang ditakutkan Baudrillard. Konsumsi lebih penting daripada objek itu sendiri. Hanya pengalaman media sosial yang penting.

Mari kita kembali ke filsafat kuno. Apakah Anda ingat apa yang dikatakan Epicurus tentang kegembiraan dan kesenangan? Dia menyatakan bahwa keduanya berasal dari kesenangan duniawi, dan harus dialami secara langsung, bukan dikomersialkan.

Namun, kebahagiaan kontemporer bergantung pada menemukan lokasi terbaik untuk foto dan lebih banyak kepentingan. Kita tidak hanya diminta untuk eksis, tetapi juga untuk melakukannya dengan penuh selera, menjadikan semuanya hanya sebuah pertunjukan. Kita tidak lagi memahami realitas. Kita hanya menelusuri tiruannya yang mengkilap.

Runtuhnya Makna dalam Skrol

Skrol menjadi irama kehidupan kontemporer tetapi jika kita melakukannya setiap hari, setiap jam, setiap detik, yang kita lihat dalam hidup kita hanyalah foto, meme, video, dan iklan. Bagaimana hal itu memengaruhi kita? Kita menjadi mati rasa, Jean Baudrillard menyebut ini sebagai ledakan makna.

Yang kita lihat di media sosial hanyalah konten yang serupa. Tidak ada yang benar-benar menonjol lagi. Ada begitu banyak berita, lelucon, tragedi, dan tarian yang sedang tren sehingga menjadi cukup sulit untuk memutuskan apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Seringkali, kita lupa apa yang sebenarnya kita lakukan di media sosial. Dan Baudrillard telah memperingatkan kita tentang hal ini. Ia menyebutkan bahwa di lautan digital dan tanda ini, makna menjadi kabur. Dunia menjadi sebuah tontonan tunggal.

Berabad-abad yang lalu, Socrates memiliki keyakinan yang sama. Apakah Anda ingat pertanyaannya? Dia percaya bahwa menuliskan sesuatu (bukan berbicara) akan membuat orang tampak bijak tanpa benar-benar bijak. Dia tidak seperti orang lain, takut akan pengetahuan palsu semacam itu. Bayangkan saja apa yang akan dia katakan tentang para filsuf TikTok.

Media sosial menjanjikan koneksi antar manusia. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Pikiran mendalam kita bisa menjadi tidak berarti di tengah lautan topik yang sedang tren. Jadi, apakah suara kita benar-benar didengar? Atau kita hanya hanyut dalam selancar media sosial?

Keluar dari Simulasi: Apakah Kembali ke “Kenyataan” Mungkin?

Tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan ini. Jika kita melihatnya melalui sudut pandang Baudrillard, dia mungkin akan mengatakan “tidak.” Mengapa? Karena kita sudah terlalu jauh terperangkap dalam simulasi. Kita tidak dapat memahami apa yang nyata dan apa yang direkayasa dan disaring.

Namun, sebagian orang mungkin tidak setuju. Ya, banyak orang berusaha mengembalikan “keaslian” mereka. Beberapa melakukan “detoks digital”. Beberapa hanya mengunggah beberapa foto sebulan. Beberapa hanya berbagi foto dengan “teman dekat”. Dan beberapa menghapus aplikasi media sosial sama sekali.

Berabad-abad yang lalu, Thoreau menulis tentang meninggalkan masyarakat untuk menemukan tempat sunyi guna menemukan kembali apa yang benar-benar penting. Itu seperti pelarian kecil dari kenyataan.

Tapi bagaimana dengan Baudrillard? Mengapa dia begitu negatif saat menjawab pertanyaan ini? Karena dia melihat hiperrealitas di mana-mana. Namun, mungkin jika kita tahu bahwa kita hidup dalam simulasi, kita dapat belajar menggunakannya dengan bijak. Karena tidak semua yang ada di media sosial itu buatan. Ada banyak hal nyata, kita hanya perlu menggali lebih dalam.

Jadi, apakah kembali ke “kenyataan” itu mungkin? Ya, jika kita menggunakan media sosial dengan bijak. Kita hanya boleh mengunggah sesuatu yang memiliki makna mendalam. Kita harus hidup untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Dan kita harus menghindari mengatur setiap momen, tetapi belajar untuk menikmatinya.

Jadi, apa itu Hiperrealitas Baudrillard dan Era Digital?

Teori hiperrealitas Baudrillard memungkinkan kita menganalisis media sosial secara berbeda. Kita melihat bahwa media sosial bukan hanya aplikasi untuk bersenang-senang. Ini adalah tempat di mana realitas dan kepalsuan menjadi kabur. Kita menggunakannya untuk menampilkan diri kita mirip dengan orang lain, bukan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan nyata.

Foto-foto kita menggunakan banyak filter. Akun kita terkadang diatur oleh algoritma. Dan yang kita lakukan adalah mengikuti para influencer dan ingin terlihat serta hidup seperti mereka. Tetapi semua itu hanyalah tiruan palsu dari kenyataan. Kita berada di tengah-tengah antara dua versi diri kita: siapa kita sebenarnya dan siapa yang kita pamerkan.

Coba pikirkan, apakah unggahanmu menunjukkan apa yang sebenarnya kamu lakukan? Atau kamu hanya berusaha membuatnya terlihat bagus agar mendapatkan lebih banyak “like”? Apakah kamu mencoba berteman? Atau kamu hanya ingin menciptakan “pertunjukan” digital agar orang lain iri?

Menurut Baudrillard, mungkin sekarang kita berada di titik di mana hanya ada salinan (tanda) tanpa ada hal yang disalin darinya (asli). Diri kita di dunia maya lebih penting daripada diri kita di dunia nyata. Namun tetap saja, kita masih punya pilihan.

Media sosial bukan hanya aplikasi lucu untuk memamerkan gaya hidup kita. Aplikasi media sosial telah berubah menjadi sesuatu yang lebih menyeramkan. Ia adalah kekuatan yang merusak persepsi diri kita. Dan kita harus mempertimbangkan hal ini jika kita tidak ingin menjalani kehidupan yang ilusif.*