Fakultas Teknik Unika Atma Jaya Jakarta Gelar Workshop Engineering Anthropometry di BRIN, Serpong

0
Workshop bertema ”Engineering Anthropometry The Measurement of Human Body Dimensions and Its Application for Design and National Standard” yang dihadiri para peneliti BRIN di Gedung 417, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang Selatan pada Rabu (8622).

Tabur, BULIR.ID – Fakultas Teknik Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta menggelar Workshop Engineering Anthropometry bertempat di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kawasan Puspitek, Serpong Tangerang Selatan, Rabu (8/6).

Workshop ini secara khusus membahas upaya sistematis memanfaatkan informasi mengenai sifat, keterbatasan dan kemampuan manusia untuk menghasilkan rancangan yang efektif, nyaman dan aman bagi pengguna atau yang dikenal dengan istilah Ergonomi.

Hadir dalam workshop ini antara lain, Yanto, ST. MSc. PhD selaku fasilitator dan pembicara — juga menjabat sebagai kepala Prodi Fakuktas Teknik Unika Atma Jaya, Dr.Ir. Wibawa Prasetya., MM selaku Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya, Nur Tjahyo Eka Darmayanti, MSi yang merupakan Kepala Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar BRIN, utusan instansi Pemerintahan, peneliti dan para dosen dari sejumlah Universitas di Jabodetabek.

Sebagai Fasilitator, Yanto menerangkan ergonomi sebagai sebuah disiplin ilmu yang asing bagi hampir sebagian masyarakat Indonesia dengan sangat terukur dan sistematis.

Ia menegaskan salah satu prinsip dasar dalam Ergonomi adalah “fitting the product/task to the person, dimana produk, peralatan dan mesin dirancang dengan mempertimbangkan manusia sebagai pengguna. Menurut Yanto, informasi dasar di atas harus diperhatikan saat merancang sebuah produk.

“Salah satu informasi dasar yang harus digunakan dalam perancangan produk yang digunakan oleh pengguna adalah dimensi produk harus sesuai (match) dengan dimensi penggunanya. Oleh karena itu, informasi mengenai dimensi tubuh pengguna, dalam hal ini antropometri menjadi penting bagi perancang,” tegas Yanto.

Ia menambahkan, Ketidaksesuaian antara dimensi tubuh si pemakai dengan peralatan atau benda yang dipakainya (anthropometry mismatch) dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pemakainya dan lebih jauh lagi berdampak kepada kesehatan pemakainya. Sebagai akibatnya bagi industri, pelanggan akan menjauhi produk-produk yang tidak dirancang secara ergonomis tersebut.

Sekretaris Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya, Dr. Ir. Wibawa Prasetya

“Contoh sederhana, pakaian yang digunakan, meja kursi yang dipakai akan nyaman digunakan jika sesuai dengan dimensi tubuh dari penggunanya. Sebaliknya, apa yang kita pakai menimbulkan ketidaknyamanan karena dirancang tidak sesuai dengan dimensi dan bentuk tubuh,” katanya.

Menurut Yanto, Pemerintah sendiri sebenarnya telah mengeluarkan peraturan
Untuk mencegah terjadinya anthropometry mismacth dengan mengeluarkan SNI sebagai acuan.

“Sebagai contoh, pemerintah mengeluarkan SNI 8518: 2018 dan SNI 8519: 2018 yang mengandung informasi dimensi meja dan kursi yang dapat menjadi acuan pihak sekolah,” tutup Yanto.

Yanto sendiri merupakan salah satu peneliti ergonomi Indonesia dengan kekhususan di bidang anthropometry, telah melakukan banyak kajian dimensi produk di Indonesia yang dihubungkan dengan dimensi pengguna, termasuk beberapa SNI yang dikeluarkan oleh BSN.

Berdasarkan hasil penelitiannya, banyak ditemukan ketidaksesuaian (mismatch) dimensi alat/produk yang digunakan dengan dimensi antropometri pengguna. Lebih jauh, dalam salah satu kajian yang dipublikasikan di Applied Ergonomics, salah satu jurnal top di dunia untuk bidang ergonomi, banyak siswa-siswi sekolah dasar yang menggunakan meja dan kursi sekolah dengan ukuran yang jauh lebih tinggi dari seharusnya – yang dapat berimplikasi terhadap kesehatan siswa dalam jangka panjang.

Dalam salah satu seminar internasional yang diadakan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) yaitu ICONSTAM 2021, Yanto, PhD juga membagikan hasil penelitiannya dimana lebih dari 80% sekolah swasta dan 90% sekolah negeri tidak menggunakan ukuran meja dan kursi yang sesuai SNI.

Untuk memberikan wawasan mengenai teknik pengukuran dan aplikasinya dalam perancangan, termasuk dalam kaitannya dengan standar nasional (SNI), pelatihan/workshop dengan tema ”Engineering anthropometry: The measurement of human body dimensions and its application for design and national standard”.

Kepala Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar BRIN, Nur Tjahyo Eka Darmayanti, MS

Melalui pelatihan ini, diberikan pengetahuan mengenai standarisasi pengukuran antropometri, instrumen atau alat yang digunakan, serta bagaimana menerapkan dalam perancangan, termasuk studi kasus penerapan data untuk perancangan dan penggunaan dalam pengembangan standar nasional.

Kerja Sama Peneliti, Apresiasi dan Harapan

Sementara itu, selaku ketua panitia workshop, wibawa Prasetya dalam sambutannya mengatakan, hampir 80 persen aktivitas pelajar dari jam 07.00-13.00 adalah duduk di kursi. Hal tersebut merupakan rutinitas yang tak dapat dihindari, sehingga terkadang tidak menyadari jika posisi duduk yang salah dapat menyebabkan nyeri di punggung, leher, dan bahu.

“Dalam kondisi ini, meja dan kursi merupakan salah satu yang harus diperhatikan. Apakah meja dan kursi yang digunakan pelajar ergonomis atau tidak, sehingga nyaman untuk digunakan selama mengikuti pelajaran. Meja dan kursi ergonomis adalah meja dan kursi yang dirancang secara khusus agar memenuhi kebutuhan penggunanya. Meja dan kursi ergonomis dibuat agar penggunanya merasa nyaman, lebih sehat bahkan disebut-sebut mampu meningkatkan produktivitas dalam banyak hal,” kata Wibawa.

Kerja sama antara semua elemen menurut Wibawa, akan sangat menentukan proyek besar keberhasilan memahami ergonomi sebagai disiplin ilmu baru, sehingga dapat menghindari kekeliruan pemahaman yang sesekali dapat merugikan masyarakat.

“Ke depan diharapkan terbentuk kerjasama penelitian antara prodi Teknik Industri Unika Atma Jaya dengan BRIN dibidang ergonomi yang hasilnya dapat berupa evaluasi SNI, menghasilkan SNI standar yang baru serta berbagai bentuk lainya,” sambungnya.

Nur Tjahyo Eka Darmayanti selaku Kepala Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar BRIN, mengaku bangga dan memberikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan workshop ini.

“Bangga dan suprise atas terselenggaranya kegiatan ini. Ternyata, usut punya usut, ini diawali dengan kegiatan ikon stand internasional yang dilangsungkan pada saat kita masih di BSM. Dan ternyata sejak saat itu pula, ada proposal dan kerja sama yang serius. Terima kasih kepada Pak Budi dan Pak Yanto terus berkomitmen sehingga kegiatan hari ini bisa dilaksanakan,” kata Eka.

Yanto, ST. MSc. PhD, salah satu peneliti ergonomi Indonesia dengan kekhususan di bidang antropometri

Eka juga mengaku, awalnya tidak memahami tema yang diangkat dalam workshop, tetapi setelah mendapat penjelasan, ia menyadari betapa pentingnya Workshop Engineering Anthropometry.

“Memang tema itu familiar, tetapi ternyata berisi tentang suhu tubuh manusia, gula, otot dan lemak yang punya kaitannya dengan fasilitasi kerja, keperluan-keperluan operasional stasiun kerja serta berorientasi pada penciptaan produk sesuai dengan ukuran yang diminati. Ini sangat menarik dan sesuatu yang baru bagi saya,” terang Eka.

Eka lalu meminta kepada peserta yang hadir agar benar-benar memahami peran penting ergonomi sehingga dapat mencapai taraf hidup sehat.

“Berharap teman-teman yang hadir di sini, bisa mengerti ya, cara hidup sehat. Besar juga harapan saya agar kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut dengan meningkatkan kerja sama di antara sesama kita,” tutupnya.