Hercules, Preman Legendaris Penyayang Kaum Dhuafa Dipercaya Jabat Posisi Penting di Pemprov DKI

0
Direktur Bulir.id selaku Wakil Sekretaris GRIB DPC Jakarta Pusat Rikard Djegadut bersama Pendiri selaku Ketua Umum GRIB, Hercules Rosario Marshal

Tabur, BULIR.ID – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengangkat Rosario de Marshall atau yang lebih dikenal dengan nama Hercules menjadi tenaga ahli Direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya.

Kabar ini mengejutkan banyak pihak. Karena kini Hercules sudah berbeda dengan Hercules yang dulu. Kabar mengejutkan tersebut dibenarkan oleh tokoh Badan Musyawarah (Bamus) Betawi Eki Pitung. Tokoh Betawi ini juga ikut diangkat menjadi tenaga ahli di BUMD milik Pemprov DKI itu.

“Saya sebenarnya enggak tahu soal Hercules, tapi begitu ada kabar itu saya langsung konfirmasi ke pak Dirut Pasar Jaya. Pak Dirut bilang emang Hercules diangkat juga,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari Indozone, Senin (21/2/2022).

Direktur Bulir.id Rikard Djegadut selaku kader Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) menyampaikan ucapan selamat kepada sang Ketua Umum. Menurutnya, Hercules adalah pantas menduduki jabatan tersebut lantaran kiprahnya selama ini yang sukses menjalankan sejumlah kegiatan usaha.

“Memang yang orang tahu selama ini, beliau adalah seorang preman. Namun publik jarang tahu bahwa ternyata di balik itu, beliau adalah pengusaha handal yang sukses menjalankan sejumlah kegiatan usaha mulai dari pasar, perkapalan, properti dan masih banyak lagi,” kata pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Jakarta Pusat (Jakpus) ini di Jakarta, Senin (21/2/22).

Selain itu, tambahnya, sang Ketua Umum punya kepedulian yang tinggi terhadap kondisi sekitar. Hal itu terbukti dari aktivitasnya yang rutin memberikan makan bagi fakir miskin anak-anak yatim piatu. Hal ini dilakukannya rutin setiap hari Jum’at dengan jumlah hampir 500an nasi bungkus.

“Beliau setiap hari Jum’at itu selalu memberi makan anak yatim piatu hampir 500an. Itu duit berasal dari kantong pribadinya. Setiap kali ada bencana, GRIG, organisasi masyarakat yang didirikannya juga selalu yang pertama berada di lokasi membawa sembako dan berbagai kebutuhan bagi warga korban,” bebernya.

Kisah Hercules Penyayang Kaum Dhuafa

Setelah keluar dari penjara terkait kasus penyerobotan lahan, Hercules mulai menata hidupnya. Ia meninggalkan dunia hitam sebagai preman.

Kini, selain menekuni bisnis, ia bertekad membesarkan ormas yang didirikannya, Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB), yang bergerak di bidang sosial.

Kesaksian tentang perubahan Hercules diceritakan juga oleh Gus Ipang Wahid atau Irfan Asy’ari Sudirman Wahid di akun instagram pribadinya @ipangwahid, Jumat 24 September 2021 silam.

“Mendengar kisah Ketua Umum GRIB yang anggotanya 1,4 juta orang itu seperti menonton film,” jelas Ipang.

Hercules dan kelompoknya sudah malang melintang di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat sejak 1980-an. Sebelumnya, ia datang ke Jakarta dari Timor Timur untuk berobat. Namun, karena tidak betah, ia memilih hidup di Tanah Abang.

Hercules dikenal sebagai sosok pemberani dan tidak takut mati. Berbagai pertempuran dilakukannya untuk menjaga harga diri dan wilayahnya.

“Yang saya ingin ceritakan adalah, ternyata Bung Hercules ini memiliki jiwa kepedulian sosial yang sangat tinggi. Apalagi sejak beliau bertobat dan memilih jalan agama,” beber cicit Hadratusy Syekh KH M Hasyim Asy’ari ini.

Gus Ipang juga mengaku kagum dengan cara hidup Hercules saat ini. Hercules banyak terlibat dalam kegiatan sosial seperti membangun masjid dan membantu pedagang kecil. Hercules juga giat beribadah, puasa, dan berbagi dengan kaum dhuafa.

“Banyak yang tidak terbayangkan. Inilah yang menginspirasi saya. Membangun banyak masjid tanpa koar-koar. Memberi makan fakir miskin tanpa pemberitaan. Apalagi mimpinya membantu para pedagang kecil dan UMKM. Jadi makin tambah malu saja saya,” imbuh Gus Ipang.

Titik Balik

Sementara itu, Hercules menceritakan titik balik dalam hidupnya karena ia merasa umur seseorang tidaklah panjang. Ia memiliki keyakinan bahwa sehebat-hebatnya seseorang suatu hari akan mati juga.

“Presiden akan mati, menteri akan mati juga, preman bakal mati, ustadz juga akan mati. Tinggal menunggu waktu. Maka perlu persiapan,” tandas Hercules.

Bagi Hercules, selama ini banyak orang melihat dirinya dari satu sisi saja, sebagai preman. Lupa pada kebaikan yang ia berikan kepada masyarakat luas. Padahal kasus yang menjeratnya ada yang direkayasa seperti kasus pemerasan. Ternyata korban yang ditampilkan saat pengadilan digelar tidak kenal Hercules.

Untuk itu, agar putra-putrinya tidak mengalami hal yang sama, Hercules mengirimkan anak-anaknya ke luar negeri untuk belajar yang serius.

“Saya usaha perkapalan, pertanian, pasar, bekerja di perusahaan. Menyekolahkan anak, yang pertama perempuan di Canberra, kedua lelaki di California Amerika Serikat dan terakhir perempuan di Melbourne Australia,” tegasnya.

Hercules juga dekat dengan sosok tokoh muda Nahdlatul Ulama, yaitu Gus Miftah. Ia sering mengundang Gus Miftah ke rumahnya. Seperti saat santunan 4000 ribu anak yatim.

“Hidup mati ada di tangan Allah. Titik balik ini supaya apa yang selama ini saya jalani di dunia hitam bisa diampuni. Allah sudah memberikan kesempatan untuk hal itu,” tandasnya.*