Jelang Pilkada 2024, BULIR.ID Gelar Diskusi Publik “Menanti Pemimpin Baru Menuju NTT Bermartabat”

0

JAKARTA, Bulir.id – Menjelang Pilkada serentak pada Oktober 2024, Bulir.id menggelar diskusi publik dengan tema “Proyeksi Pembangunan NTT Lima Tahun ke Depan.” Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara yang juga merupakan putra dan putri terbaik NTT yang memiliki kekayaan pengalaman dan ide-ide konstruktif.

Mereka antara lain Dr. Yohanes Don Bosco Doho selaku Pengamat Etika Komunikasi Publik dan Dosen LSPR, Dr. (c) MM Ardy Mbalembout selaku Politisi dan Advokat terkemuka dan Stela Nau selaku Founder Komunitas NTT Muda. Sedangkan Drs. Asri Hadi yang merupakan Dosen Senior IPDN dan Dewan Pakar Bulir.id menjadi pemantik diskusi tersebut.

Diskusi publik ini lahir dari keresahan kaum muda NTT diaspora atas berbagai problem akut misalnya kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Sehingga NTT saat ini membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan sehingga wajah NTT terlihat lebih cerah.

Masalah kemiskinan menjadi masalah fundamental yang telah menimbulkan masalah-masalah ikutan yang lainnya seperti masalah kesehatan, stunting, dan gizi buruk. Di sisi lain, sistem pendidikan yang belum baik juga turut dan telah menyumbang bagi rendahnya mutu pendidikan di provinsi yang sering dipelesetkan menjadi “Nanti Tuhan Tolong” itu.

Dari masa ke masa dengan pergantian kepemimpinan, NTT terus memiliki segudang problem yang harus diselesaikan. Maka dari itu, pemimpin baru hasil Pilkada 2024 harus mampu menemukan formula baru untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Ranking ketiga terbawah yang disematkan pada provinsi ini mengindikasikan bahwa provinsi ini sangat bermasalah dengan isu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang harus segera dibenahi. Pembenahan ini hanya mungkin terjadi bila pemimpin baru sungguh-sungguh berpihak kepada masyarakat.

Keresahan inilah mendorong bulir.id, sebuah media online nasional menghadirkan para akademisi dan pemerhati sosial yang juga merupakan putra dan putri NTT untuk mendiskusikan ke manakah arah NTT harus melangkah dan pemimpin seperti apa yang dibutuhkan untuk menahkodai provinsi termiskin ke-3 di Indonesia tersebut?

Sejatinya, problem laten itu bersumber dari para pemimpin itu sendiri. Dengan demikian hal ini sangat berkorelasi dengan etika publik, kehendak baik untuk menjadi pemimpin yang bermartabat.

Dari sudut pandang etika, Dr. Yohanes Don Bosco memberikan sebuah analisis kritis dan sistematis atas problem krusial yang tengah dihadapi NTT. Dosen kelahiran Flores, 17 Agustus 1972 itu secara spesifik menyoroti problem etis para pemimpin kita.

Menurutnya, problem etis para pemimpin itu menjadi sebuah keresahan para aktivis sosial, hukum hingga akademisi dan tentu juga menjadi keresahan kita bersama. Keresahan itu bukan tanpa alasan, sebab realitas menunjukkan bahwa para pemimpin kita seringkali mengabaikan etika komunikasi publik sehingga berdampak buruk pada kebijakannya.

Padahal menurutnya, etika publik merupakan suatu prinsip penting yang menyangkut kewajiban dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam pelayanan publik. Hal ini menjadi standar atau norma yang menentukan baik atau buruk, benar atau salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab sebagai pelayanan publik.

Dosen senior di Institut Komunikasi Dan Bisnis LSPR itu juga menyinggung terkait etika politik yang harus berhadapan dengan korupsi dan kepentingan, ketegangan antara prinsip, nilai pribadi dan tuntutan profesional dan pengintegrasian nilai-nilai etis dalam pengambilan keputusan dan bagaimana menghadapi logika pasar.

Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya dituntut harus rasional melainkan juga harus mempunyai orientasi situasi dan paham terhadap problem di NTT. Hal ini mengandaikan pemimpin mesti juga memiliki kompetensi teknis, leadership dan berintegritas.

Lebih lanjut, Doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta ini mengatakan bahwa NTT saat ini dan seterusnya membutuhkan pemimpin yang berintegritas. Baginya integritas sebagai sebuah kejujuran dan kesungguhan untuk melakukan yang benar dan adil dalam setiap situasi sehingga mempertajam dalam mengambil sebuah keputusan dan tindakan.

Menurutnya, pemimpin yang berintegritas itu mesti memiliki 5 hal yakni berkarakter, memiliki konsep, kompetensi, koneksi dan komitmen. Kelima hal tersebut menjadi modal utama yang harus dimiliki setiap calon pemimpin atau pun pemimpin untuk membawa NTT bermartabat.

Sebagai masyarakat NTT diaspora, kita memiliki kerinduan akan sebuah perubahan, hingga keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan. Sehingga momentun 5 tahun ke depan harus menjadi momen yang menentukan, menjadikan Pilkada 2024 sebagai wadah memilih pemimpin yang bisa mengangkat wajah NTT di pentas nasional.

Pemimpin baru hendaknya mengetahui dengan sungguh-sungguh berbagai permasalahan provinsi ini sehingga arah pemerintahannya menjadi terarah dan berpihak kepada kesejahteraan masyarakat.*