Menakar Ulang Makna dan Sakralitas Moke dalam Tradisi Masyarakat Maumere

0
Ilustrasi gambar: upacara adat yang dihadiri oleh du'a mo'an watu pitu (tetua adat) menghadirkan moke sebagai minuman wajib untuk ritual-ritual adat tertentu.

FILSAFAT, Bulir.id Manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui kemampuan berpikir tersebut ia mampu mengolah, menciptakan dan mengembangkan kebudayaan yang beragam.

Selama berabad-abad hasil kreasi manusia tersebut tercermin dalam berbagai macam penemuan sebagai bagian dari produk budaya, salah satunya “Moke”. Moke merupakan minuman beralkohol yang diolah secara tradisional, menjadi bagian penting di setiap lini kehidupan masyarakat Maumere. Minuman ini kerap kali disajikan terutama dalam upacara-upacara ada, acara-acara penting dan juga dalam penyambutan tamu yang dianggap istimewa.

Secara historis minuman tradisional beralkohol tersebut tidak hanya sekadar memiliki efek relaksasi yang ditimbulkannya ataupun efek ekonomi tetapi lebih dari itu, ia mengandung makna filosofis yang sangat mendalam terutama dalam percakapan-percakapan adat. Oleh karenanya tidak mengherankan masyarakat Maumere menyebutnya sebagai “air kehidupan”.

Moke akan tetap menjadi “air kehidupan” sejauh digunakan secara bertanggung jawab sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup, meski demikian masih terdapat banyak kasus penyalahgunaan. Beberapa peminum bahkan terjerumus ke dalam jurang alkoholisme, di mana minum menjadi masalah hidup dan mati.

Sifat moke yang memikat, yang membuat ketagihan bagi sebagian peminum, menempatkannya dalam kategori hal-hal dengan kekuatan dan sifat yang perlu diakui dan dihormati. Meskipun penelitian dan teknik terapi terbaru telah berhasil mengatasi alkoholisme, orang-orang terus, dan akan terus, menyalahgunakan moke.

Apa yang akan dibahas selanjutnya sebagai pemahaman alternatif tentang penyalahgunaan moke dalam konteks pemahaman pra-modern tentang bagaimana kehidupan manusia seharusnya dijalani. Pembaca diminta untuk mengesampingkan, untuk sementara waktu, prasangka modern kita bersama bahwa pengetahuan kita saat ini jauh lebih unggul daripada pengetahuan orang-orang kuno, bahwa kita tahu lebih banyak daripada yang pernah mereka ketahui.

Garis antara penggunaan dan penyalahgunaan moke kerap kali ambigu atau ditarik berbeda untuk setiap orang. Jika seseorang menemukan kerentanan pribadi terhadap kecanduan, maka karena alasan kehati-hatian dan etika, ia harus menghindari minum moke. Tanggapan modern terhadap kecanduan, yang sebagian besar didasarkan pada ilmu eksperimental dan psikologi perilaku, cenderung mengedepankan alasan kesehatan mental dan fisik dengan mengorbankan alasan etika.

Orang Yunani kuno menikmati anggur mereka, beberapa darinya juga menunjukkan kejeniusan yang tajam dan luar biasa dalam puisi, seni, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang baru berkembang. Orang Yunani lainnya membawa filsafat ke dunia yang tidak menerima dan mempertahankannya dari moralitas yang berkuasa dan bermusuhan yang berakar pada tradisi dan takhayul, yang tertutup terhadap kemajuan dalam kebijaksanaan.

Pada tulisan pendek ini kita akan mencoba menggali makna filosofis moke sebagai minuman berkesadaran bagi masyarakat Maumere sebagaimana pada pengantar dijelaskan sebagai air kehidupan. Tentu sebagai air kehidupan moke tidak hanya sekadar memberi efek menyenangkan tetapi lebih dari itu Adalah simbol kebijaksanaan sekaligus spiritual.

Simbol Kebijaksanaan

Sebagai permulaan, kita dapat melihat dalam diskusi-diskusi yang membahas topik-topik penting, di mana orang-orang duduk dan menikmati moke. Fenomena ini sebagai sesuatu yang penting untuk kita pahami. Moke digunakan untuk menenangkan pikiran dan tubuh sehingga topik-topik sulit dapat mengalir lebih alami dalam percakapan.

Moke bisa dikatakan sebagai pelarut, meredakan kecemasan seputar percakapan yang kompleks. Banyak dari kita mengetahui hal ini, tetapi kerap kali para tetua adat mengambil hal yang sudah jelas dan membuatnya eksplisit, memaksa kita untuk memperlambat dan merenungkan hal-hal yang sering kita abaikan. Maka, kita sampai pada tujuan pertama moke.

Dalam tradisi masyarakat Maumere, moke memiliki makna filosofis yang cukup mendalam terutama sebagai simbol kebijaksanaan (air kehidupan). Di dalam diskusi-diskusi terutama di meja adat (meja perundingan), moke menjadi hidangan wajib sebagai bentuk perangsang dalam merangkai gagasan. Seorang juru bicara atau jubir yang ditunjuk dalam perundingan atau diskusi adat akan menjadi lebih percaya diri sekaligus merangsang pikirannya untuk lebih reflektif dalam merangkai argument, jika ia meneguk moke secukupnya.

Dalam pengalam-pengalaman para pendahulu, efek moke pada pikiran dan tubuh (jika diteguk secara proporsional), dapat mengarah pada wawasan filosofis. Efek tersebut dapat membantu seseorang melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, dan memungkinkan eksplorasi pikiran dan perasaan yang lebih bebas dan jujur.

Dengan menikmati segelas moke, seseorang dapat melonggarkan batasan pikiran dan memungkinkan pemikiran yang lebih kreatif dan introspektif. Dengan cara ini, minum dapat menjadi alat untuk penyelidikan filosofis dan refleksi diri. Hasilnya, problem-problem pelik di meja perundingan dapat diselesaikan tanpa harus menimbulkan problem baru.

Namun, penting untuk dicatat bahwa leluhur masyarakat Maumere juga mengingatkan bahaya konsumsi moke berlebihan dan menyadarkan bahaya kecanduan dan ketergantungan. Oleh karena itu perlu diingatkan bahwa moderasi adalah kuncinya, dan minum moke harus dinikmati dengan cara yang bertanggung jawab dan bijaksana.

Dalam pengertian ini, menjadi seorang ‘juru bicara’ bukan hanya tentang minum dan berpikir, tetapi tentang menemukan keseimbangan antara kesenangan dan pengendalian diri. Ini tentang menggunakan moke sebagai sarana untuk mengeksplorasi pikiran dan perasaan seseorang, sambil juga menyadari potensi bahaya dan jebakannya.

Dalam berpikir, seseorang dapat menggunakan moke sebagai alat untuk mengeksplorasi kondisi manusia dan memperoleh wawasan tentang hakikat kebenaran. Namun, seperti halnya semua hal dalam hidup, moderasi adalah kuncinya, dan seseorang harus waspada terhadap potensi bahaya dan jebakan dari minum berlebihan.

Simbol Spiritual

Di banyak tradisi, minuman yang mengandung alcohol kerap kali digunakan dalam ritual atau upacara adat dan keagamaan. Meski demikian tidak semua tradisi atau agama menghalalkannya, Islam misalnya mengharamkan semua jenis alkohol.

Pertanyaannya apakah moke itu suci atau justru menjadi penghalang bagi kesucian? Moke telah memainkan peran yang kompleks dalam tradisi spiritual sepanjang sejarah masyarakat Maumere. Bagi Masyarakat Maumere moke memiliki simbolisme yang kuat, dengannya ia menghadirkan arwah leluhur dan merupakan bagian penting dari ritual sakral upacara adat.

Di berbagai upacara-upacara, kerap kali moke memiliki peranan penting yang tidak bisa tergantikan, misalnya ulu higun (sesajen) sebuah prosesi pemberian makan bagi arwah yang telah meninggal tidak bisa digantikan dengan minuman lain. Sesajen hanya menjadi utuh jika semua komponen sudah dihadirkan termasuk moke yang juga menjadi bagiannya.

Kehadiran moke semacam simbol relasi perjumpaan antara dunia kehidupan dan dunia arwah, ia menghadirkan dua dunia tersebut. Ada keyakinan bahwa dengan ritual pemberian sesajen tersebut, dunia kehidupan mengharapkan restu dari dunia arwah yang dianggap dekat dengan Sang Pencipta atau dalam bahasa setempat disebut dengan Ama Lero Wulan Reta. Kedekatan tersebut diharapkan dapat memberikan berkat sekaligus kesuksesan atau terkabulnya harapan, permintaan yang diinginkan.

Pemberian sesajen yang termasuk di dalamnya moke sebagai bagian penting ritual merupakan upaya membangun relasi dengan dunia bawah (arwah) dan dunia manusia, manusia berupaya tetap menjaga keharmonisan sehingga manusia tidak mendapatkan malapetaka akibat kemarahan arwah leluhur.

Sejatinya alkohol tidak hanya digunakan oleh Masyarakat Maumere melainkan juga di dalam agama-agama besar seperti Katolik, anggur memainkan fungsi yang sangat penting selama misa. Anggur digunakan oleh imam selama Ekaristi sebagai cairan yang diubah menjadi darah Yesus secara harfiah (suatu proses yang disebut transubstansia).

Ekaristi digunakan untuk mengingatkan umatnya akan pengorbanan yang diberikan Yesus, dan untuk memperbarui jiwa kita melalui darah Anak Domba, menyelamatkan kita dari kematian. Singkatnya, dalam tradisi Katolik anggur berfungsi sebagai jembatan menuju hal yang benar-benar transenden.

Namun, di beberapa agama, alkohol dipandang sangat berbeda. Islam, misalnya, melarang minum alkohol sama sekali, mencerminkan kekhawatiran tentang potensinya untuk mengaburkan pikiran dan jiwa.

Hal ini menciptakan ketegangan yang menarik: di satu sisi, moke dapat menyatukan orang, menandai perayaan, upacara-upacara adat, dan momen kebersamaan. Moke dapat menjadi bagian dari upacara yang penuh sukacita dan pertemuan sakral. Di sisi lain, ia juga membawa risiko kuterputusan hubungan, kecanduan, dan bahaya. Jadi, ketika kita melihat moke melalui lensa spiritualitas. Pertanyaannya menjadi: apakah mokel berfungsi sebagai jembatan menuju hal-hal sakral atau justru terkadang menjadi penghalang?

Moke memang menurunkan hambatan, juga membuat kita lebih terbuka. Namun, moke juga menumpulkan sistem saraf, mendistorsi persepsi, dan dapat memutuskan hubungan kita dengan kompas batin jika kita tidak hati-hati. Ini bukan hanya tentang apa yang kita rasakan secara fisik, tetapi juga apa yang terjadi di bawah permukaan dalam tubuh batin kita.

Oleh karena itu, tradisi masyarakat Maumere memberi kita wawasan lebih dalam tentang penggunaan filosofis moke. Moke memungkinkan kita untuk merenungkan sumber realitas itu sendiri dari semua yang ada.

Mencicipi nektar pohon lontar atau enau membuka pintu menuju perenungan dan membangun jembatan yang sangat kecil antara yang terbatas dan yang tak terbatas. Namun, mungkin mesti dipahami bahwa fungsi terpenting moke bagi masyarakat Maumere adalah penggunaannya dalam upacara adat sebagai pengingat yang agung akan pengorbanan arwah leluhur yang telah berpulang, bersamaan dengan penyembuhan jiwa.

Pada prinsipnya mencicipi anggur bukan hanya tentang merasakan cairan mengalir di lidah dan tenggorokan, tetapi juga tentang bermain dengan tradisi yang diwakili oleh moke tersebut. Moke memberi kita dua wawasan tentang tujuan yakni peremajaan pikiran yang lelah dan perenungan tentang keberadaan fundamental.

Kesimpulan

Dari tulisan singkat ini, kita telah memperoleh wawasan yang berharga, moke telah digunakan oleh para leluhur untuk mendorong batas akal manusia, bahkan melampauinya dan memasuki misteri ilahi. Di zaman modern kita, kita sebaiknya belajar dari tradisi kuno dan memulihkan rasa kontemplatif dan pandangan terhadap misteri.

Sekarang, setiap kali kita menikmati secangkir moke, kita akan ingat bahwa kita turut serta dalam sejarah yang kaya dari leluhur yang telah menggunakan moke untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan terbesar dalam hidup. Dengan mengingat hal itu, kita berharap membaca ini telah menanamkan dalam diri tentang rasa hormat yang baru terhadap moke.*


Djanuard Lj merupkan alumnus Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Kini bekerja sebagai konten kreator dan penulis tetap di media online Bulir.id