Paus Fransiskus Ajak Umat Katolik Arab Berani Wartakan Injil

0

VATIKAN, Bulir.id – Pemimpin umat Katolik Sedunia, Paus Fransiskus mengunjungi umat Katolik Semenanjung Arab dsn merayakan misa di Gereja Hati Kudus, Manama, Bahrain, pada 6 November 2022.

Paus asal Argentina itu mendorong umat Katolik di semenanjung Arab itu untuk berani mewartakan Injil di negara tempat mereka berpijak.

“Semua yang dibaptis telah menerima Roh dan dengan demikian menjadi nabi. Karena itu, kita tidak bisa berpura-pura tidak melihat perbuatan jahat, agar bisa menjalani kehidupan yang tenang dan tidak mengotori tangan kita,” kata paus.

Di negara berpenduduk mayoritas muslim itu, Paus bertatap muka dengan para imam Katolik, religius, dan umat awam pada hari terakhir kunjungan bersejarahnya ke Bahrain.

Perjalanannya 3-6 November termasuk pertemuan dengan pemimpin tertinggi Bahrain, Yang Mulia Raja Hamad, pemimpin Muslim, dan komunitas Katolik. Sekaligus, ia merayakan Misa dengan sekitar 30.000 orang di stadion sepak bola nasional Bahrain. Ini merupakan Misa yang dilangsungkan di ruang publik pertama di negara itu.

Umat Katolik yang terlibat berasal dari negara-negara Arab seperti Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar. Termasuk juga dari Lebanon.

Dalam sambutannya, administrator apostolik Arabia utara, Uskup Paul Hinder, OFM Cap, mengatakan orang-orang yang hadir mencerminkan “keragaman budaya dan etnis Gereja migran di belahan dunia Arab ini.”

“Banyak dari mereka berjuang setiap hari dan melakukannya dengan penuh iman.  Percaya bahwa kita semua ada di tangan Bapa Surgawi,” kata uskup itu.

Tercatat bahwa Vikariat Apostolik Arab Utara memiliki 60 imam dan sekitar 2 juta umat Katolik. Ada sekitar 1.300 katekis awam yang mengajar lebih dari 16.000 anak.

“Mereka semua bekerja sebagai sukarelawan, terkadang dalam kondisi yang sangat sulit karena pembatasan di beberapa negara mengenai kebebasan beragama, izin kerja, dan izin tinggal,” katanya.

Selanjutnya dalam refleksinya, Paus Fransiskus mengutip kata-kata Yesus dalam Yohanes 7:37-38 “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

Kata-kata ini membuat saya berpikir tentang tanah ini. Meskipun benar bahwa ada padang pasir yang luas, ada mata air segar yang mengalir di bawah tanah yang mengairinya, kata paus”

“Itu adalah gambaran yang indah tentang siapa Anda dan di atas segalanya tentang bagaimana iman bekerja dalam hidup kita. Di permukaan kemanusiaan kita tampak kering oleh sejumlah kelemahan, ketakutan, tantangan dan masalah pribadi atau sosial dari berbagai jenis, ”katanya.

“Namun, di lubuk jiwa, dalam keintiman hati, mengalir air segar yang tenang dan sunyi dari Roh, yang menyegarkan padang pasir kita dan memulihkan kehidupan pada apa yang kering, yang membasuh semua yang mengotori kita dan memadamkan kehausan kita akan kebahagiaan.”

Orang Kristen adalah minoritas kecil di Bahrain, sebuah negara pulau di Teluk Persia. Lebih dari 70% dari total populasi 1,5 juta  adalah Muslim, sementara hanya ada sekitar 161.000 umat Katolik yang tinggal di negara itu, menurut statistik Vatikan 2020.

Gereja Hati Kudus dibangun pada tahun 1939 di atas tanah yang disumbangkan oleh penguasa Bahrain, Sheikh Haman bin Isa Al Khalifa. Itu adalah Gereja Katolik pertama yang dibangun di Teluk Persia, dan terletak di Manama, ibu kota Bahrain dan kota terbesar, yang berpenduduk sekitar 200.000 jiwa.

Selama seminggu, gereja mempersembahkan Misa dalam bahasa Inggris, Prancis, Malayalam, Tamil, Arab, Filipina, Urdu, Sri Lanka, Spanyol, Bengali, dan Konkani. Ada 10 Misa yang dipersembahkan pada hari Jumat dan sekitar delapan Misa dipersembahkan setiap hari Minggu.

Paus Fransiskus memimpin misa hari Minggu dalam bahasa Inggris, sementara pidatonya disampaikan dalam bahasa Italia dengan terjemahan bahasa Inggris secara langsung.

Dalam pidatonya, Fransiskus mendorong mereka yang telah menemukan sukacita mengenal dan mencintai Kristus untuk tidak menyimpannya untuk diri mereka sendiri, tetapi bekerja untuk membantunya bertumbuh.

“Sukacita ini lahir dari hubungan dengan Tuhan. Meskipun perjuangan dan malam gelap yang kadang-kadang kita alami, kita tidak sendirian, karena Dia bersama kita. Bersama Tuhan, kita bisa menghadapi dan mengatasi segalanya, bahkan jurang kesakitan dan kematian.”

Paus menjelaskan bahwa cara terbaik untuk membantu sukacita tumbuh adalah dengan memberi.

“Ya, sukacita Kristiani secara alami menular, karena Injil membuat kita melampaui diri kita sendiri untuk berbagi keindahan kasih Tuhan,” katanya.

“Oleh karena itu, sangat penting bahwa kegembiraan ini tidak diredupkan atau dibiarkan tidak dibagikan dalam komunitas Kristen. Bahwa kita tidak membatasi diri untuk melakukan sesuatu dengan paksaan, tanpa antusiasme atau kreativitas,” tambahnya.

Paus Fransiskus mengatakan Yesus Kristuslah yang menyatukan dan meresmikan satu bahasa cinta, sehingga bahasa manusia yang berbeda tidak lagi jauh dan dapat dipahami.

“Dia meruntuhkan penghalang ketidakpercayaan dan kebencian, untuk menciptakan ruang bagi penerimaan dan dialog. Dia membebaskan kita dari rasa takut dan menanamkan keberanian untuk pergi keluar dan bertemu orang lain dengan kekuatan belas kasih yang tidak bersenjata dan melucuti senjata,” tutupnya.*