STIA LAN Innovation HUB Dorong Penguatan Ekosistem Inovasi

0

Jakarta, BULIR.ID – Politeknik STIA LAN Jakarta memperkuat komitmennya membangun ekosistem inovasi melalui STIA LAN Innovation HUB (SI Hub). Forum ini dirancang sebagai ruang strategis untuk memperkuat sinergi, menyelaraskan program, sekaligus merumuskan langkah bersama dalam pengembangan inovasi di lingkungan perguruan tinggi.

Rapat perdana pengurus SI Hub dibuka Wakil Direktur I Bidang Akademik Politeknik STIA LAN Jakarta, Dr. Alih Aji Nugroho, M.P.A. Dalam rapat tersebut dibahas berbagai peluang pengembangan SI Hub sebagai wadah yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, tenaga kependidikan, praktisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

Keberadaan SI Hub diharapkan mendorong lahirnya gagasan, kreativitas, dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pendidikan maupun penyelenggaraan administrasi publik.

Rapat perdana tersebut memiliki sejumlah agenda utama, yakni penyamaan persepsi seluruh pengurus mengenai tujuan, fungsi, dan lingkup kerja SI Hub; penyusunan program strategis berupa rencana kerja dan prioritas setiap divisi untuk periode berjalan; serta persiapan soft launching SI Hub, termasuk konsep, jadwal, dan pembagian tugas.

Ketua SI Hub, Heny Handayani, S.Hum., M.M., dalam paparannya menjelaskan berbagai aspek kelembagaan SI Hub. Materi yang disampaikan mencakup tujuan, dasar pembentukan dan pengangkatan, persyaratan pembentukan inkubator bisnis, jenis produk yang dapat diinkubasi, definisi inkubator bisnis, skema peran inkubator bisnis bagi perguruan tinggi, ruang lingkup tugas SI Hub, struktur organisasi, susunan pengurus setiap divisi, serta aspek pendukung lainnya.

SI Hub merupakan unit pendukung akademik yang diarahkan untuk mengembangkan ekosistem inovasi, kewirausahaan, hilirisasi hasil penelitian, komersialisasi inovasi, serta pengembangan usaha rintisan atau start-up di lingkungan Politeknik STIA LAN Jakarta.

Dalam menjalankan fungsi inkubasi bisnis, SI Hub mencakup sejumlah kegiatan, yaitu kewirausahaan; hilirisasi hasil penelitian dan inovasi; fasilitasi legalitas dan akses pembiayaan; pembinaan dan pendampingan tenant; pengembangan kemitraan; serta monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.

Tiga Alternatif Peran Innovation Hub

Rapat perdana tersebut juga menghadirkan Seno Hartono, Direktur Advokasi dan Pengembangan Kinerja Kebijakan LAN. Ia memberikan sejumlah masukan mengenai arah pengembangan STIA LAN Innovation HUB, terutama terkait kejelasan definisi dan posisi SI Hub.

Menurut Seno, SI Hub dapat dipahami melalui tiga perspektif, yakni Hub sebagai aktivitas pembinaan, Hub sebagai kanal display, dan Hub sebagai wadah kolaborasi.

Sebagai aktivitas pembinaan, SI Hub dapat berbentuk pendampingan, inkubasi, dan klinik inovasi. Fungsi ini membutuhkan fasilitator tetap, kurikulum, serta anggaran kegiatan yang berulang. Keberhasilannya dapat diukur dari jumlah instansi yang didampingi dan inovasi yang dilahirkan. Namun, terdapat risiko capaian sulit terlihat apabila kegiatan tidak terdokumentasi dengan baik.

Sebagai kanal display, SI Hub dapat berupa situs yang menjadi etalase karya dan praktik baik. Fungsi ini membutuhkan pengelola data, standar operasional prosedur pemutakhiran, serta mekanisme penjaminan validitas informasi. Indikatornya antara lain jumlah entri, jumlah kunjungan, dan tindak lanjut replikasi. Tanpa aktivitas pemasok konten, kanal tersebut berisiko hanya menjadi arsip pasif.

Sementara sebagai wadah kolaborasi, SI Hub menjadi mekanisme yang mempertemukan berbagai aktor. Dalam model ini, pembinaan menjadi mesin penggerak, sedangkan situs berfungsi sebagai etalase. Kebutuhan utamanya meliputi keanggotaan, tata kelola, dan penanggung jawab harian. Keberhasilan tidak hanya diukur dari output kegiatan, tetapi dari nilai pertukaran dan kolaborasi antaraktor.

Seno juga menjelaskan pola pengelolaan ekosistem inovasi yang telah berjalan di tingkat pemerintah. Kementerian PANRB, misalnya, memisahkan Hub JIPP sebagai simpul kerja sama antarinstansi, yang melibatkan komitmen bersama 12 kementerian/lembaga pada Oktober 2023, dengan situs JIPPNas sebagai sistem manajemen pengetahuan yang memuat 2.928 data inovasi periode 2014–2023.

Pola serupa juga berjalan di LAN. Ekosistem inovasi atau Labinovasi menjadi aktivitas pembinaan, INOLAND menjadi kanal pengetahuan, sedangkan datanya mengalir ke JIPPNas. Dengan demikian, situs ditempatkan sebagai instrumen, bukan sebagai definisi dari sebuah hub.

Karena itu, Seno menilai dokumen SI Hub perlu menegaskan bahwa situs merupakan salah satu instrumen, bukan definisi hub. Dengan posisi tersebut, SI Hub tidak berdiri sebagai portal keempat, melainkan tersambung dalam rantai kolaborasi Ekosistem Inovasi/Lab Inovasi – INOLAND – JIPPNas.

Fokus pada Produk Inti

Seno mengusulkan sejumlah fungsi yang dapat dikembangkan STIA LAN Innovation Hub. Pertama, melakukan riset kolaboratif atas inovasi yang sudah berjalan untuk mengetahui faktor yang membuat inovasi berhasil maupun alasan sebuah inovasi berhenti.

Kedua, mendorong hilirisasi tugas akhir dan proyek mahasiswa ASN menjadi inovasi yang dapat diterapkan di instansi asal. Ketiga, mengembangkan studi kasus dan evaluasi sebagai bahan ajar bersama yang siap dipasok ke INOLAND.

Sementara empat fungsi lainnya tetap dapat berjalan, tetapi ditempatkan sebagai fungsi turunan dan bukan sebagai identitas utama SI Hub.

Menurut Seno, SI Hub perlu memilih satu fungsi untuk dijadikan produk inti dalam soft launching. Produk tersebut juga harus memiliki jalur hilir yang kolaboratif menuju ekosistem inovasi Direktorat Advokasi dan Pengembangan Kinerja Kebijakan (APKK) sejak awal. Interoperabilitas antarsitus juga perlu dipastikan.

Dalam pengembangannya, SI Hub juga diarahkan melibatkan aktor dari berbagai unsur melalui pendekatan helix.

Pertama, akademisi, yang mencakup STIA LAN, P3M, dan perguruan tinggi mitra. Kelompok ini memberikan riset, kurasi, dan metode, sekaligus memperoleh lahan penelitian dan pengabdian.

Kedua, pemerintah, antara lain Direktorat APKK LAN, Kementerian PANRB, Kemendagri, dan pemerintah daerah. Pemerintah memberikan kasus nyata serta jalur pembinaan, sementara memperoleh solusi dan analisis yang tervalidasi.

Ketiga, dunia usaha, termasuk pelaku GovTech, penyedia teknologi, dan mitra pembangunan. Dunia usaha dapat memberikan teknologi dan pendanaan serta memperoleh akses ke jaringan pemerintah.

Keempat, komunitas, yang meliputi mahasiswa ASN, alumni, dan komunitas inovator daerah. Mereka dapat menyumbangkan masalah nyata dan tenaga penggerak, sekaligus memperoleh pengakuan dan jejaring.

Kelima, media, baik kanal komunikasi LAN maupun media publik. Media berperan dalam penyebarluasan dan membangun legitimasi publik, sementara memperoleh konten praktik baik yang kredibel.

Untuk itu, perlu ditetapkan aktor prioritas dan simpul harian SI Hub. Selain itu, pembicaraan teknis dengan Direktorat APKK perlu segera dilakukan untuk membahas skema interoperabilitas data dan pembagian peran pembinaan sebelum soft launching.

Kehadiran Seno Hartono serta jajaran pengurus STIA LAN Innovation HUB lainnya memberikan perspektif strategis mengenai pentingnya inovasi, kolaborasi, dan pengembangan gagasan yang memberikan manfaat serta dampak nyata bagi organisasi maupun masyarakat.

STIA LAN Innovation HUB diharapkan menjadi salah satu katalisator dalam membangun budaya inovasi di lingkungan kampus. Keberadaannya juga diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih adaptif dengan menyediakan ruang bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk mengembangkan kreativitas, melakukan eksperimen, serta menghasilkan solusi atas berbagai persoalan administrasi publik.

Melalui STIA LAN Innovation HUB, Politeknik STIA LAN Jakarta menegaskan komitmennya membangun lingkungan akademik yang inovatif, kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada solusi.

Ke depan, Innovation HUB diharapkan tidak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan. SI Hub ditargetkan berkembang menjadi ekosistem yang mampu menghubungkan pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan kebutuhan masyarakat untuk menghasilkan inovasi yang dapat memberikan dampak nyata.