Sulitnya Menghentikan Messi, Begini Taktik Jitu Van Gaal

0

SPORT, Bulir.id – Perjumpaan antara Belanda dan Argentina di Piala Dunia membangkitkan kenangan di generasi yang berbeda.

Mario Kempes telah menginspirasi Argentina untuk meraih kemenangan di final 1978. Ada sentuhan dan penyelesaian yang luar biasa dari Dennis Bergkamp untuk membawa Belanda ke semifinal 1998. Atau pertemuan tahun 2014 yang menegangkan yang berakhir dengan kiper Argentina Sergio Romero menjadi pahlawan adu penalti.

Ada persaingan yang telah lama berkembang antara bangsa-bangsa yang menambah romantisme sepak bola dunia termasuk Argentina dan Belanda.

Laga ini menjadi laga terakhir bagi Messi di timnas Argentina sebab usianya tak lagi muda. Messi dianggap oleh banyak orang sebagai pemain terhebat yang pernah ada di panggung internasional.

Di pundak Messi, disematkan harapan besar untuk membawa pulang trovi berlapis emas itu. Sepanjang karir sepak bolanya, ia belum pernah mencicipi turnamen terbesar antar bangsa ini.

Untuk mencapai kesuksesan terbesar karirnya itu, pemain terbaik dunia tujuh kali tersebut harus mampu menumbangkan dominasi anak asuhan Van Gaal. Namun jalan itu tidak mudah, sebab negara kincir angin itu memiliki pertahanannya cukup tangguh.

Messi harus mampu melewati Van Dijk yang menjadi salah satu bek terbaik dunia selama lima tahun terakhir.

Jika ada yang bisa menghentikan Messi dengan salah satu dribel khasnya, bek tengah Liverpool itu perlu menggabungkan kecepatan dan ketepatan.

Juru racik Van Gaal pernah ditanya bagaimana ia berencana untuk menghentikan Messi. Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab pertanyaan ini selalu gagal dijawab oleh banyak pelatih selama bertahun-tahun.

“Akan sangat bodoh untuk mengungkapkan taktikmu sendiri,” katanya sambil tersenyum. “Tapi tidak terlalu sulit untuk memberikan jawaban apa pun. Anda bisa saja menemukan jawabannya sendiri,” kata Van Gaal.

Ini akan menjadi pertarungan antar dua kekuatan bersejarah sepak bola. Argentina sebagai juara dua kali, lebih memilih untuk memainkan permainan penguasaan bola. Sedangkan Belanda, finalis yang kalah tiga kali  akan memainkan taktik serangan balik.*