Cegah Narkoba Zaman Now: Mulai dari Rumah, Sekolah dan Sahabat Maya

0

Oleh
Kombes Pol. Dr. Vivick Tjangkung*)

Jakarta, BULIR.ID – Selama bertahun-tahun, pencegahan narkoba di Indonesia sering diwarnai dengan pendekatan yang top down: ceramah panjang di aula sekolah, baliho dengan wajah seram, atau video dramatik yang menampilkan masa depan kelam pecandu. Meskipun tujuannya baik, cara ini sering kali gagal menembus hati dan pikiran anak muda—terutama Generasi Alpha (mereka yang lahir sekitar 2010 ke atas) dan Generasi Z yang kini menjadi panutan adik-adiknya.

Generasi ini hidup di dunia yang serba cepat, penuh informasi, dan sangat dipengaruhi oleh media sosial. Mereka lebih menghargai komunikasi yang personal, otentik, dan relevan dengan keseharian mereka. Ancaman dan kata-kata “jangan” sering kali justru memicu rasa penasaran. Karena itu, pencegahan narkoba perlu berubah arah—dari pendekatan yang kaku dan menggurui menjadi soft approach yang lahir dari orang terdekat, nilai agama, kekuatan budaya, dan dukungan teman sebaya.

Salah satu inspirasi datang dari BNNK Tangerang, yang tengah memadukan berbagai unsur ini dalam program pencegahan berbasis soft approach. Alih-alih mengandalkan metode menakut-nakuti, mereka membangun kesadaran melalui kegiatan yang menyenangkan, dialog yang setara, dan kolaborasi lintas komunitas.

Mengapa Generasi Alpha Butuh Pendekatan yang Berbeda?

Generasi Alpha tumbuh dengan teknologi sejak lahir. Mereka sudah terbiasa mencari informasi sendiri, membentuk opini dari berbagai sumber, dan mendapatkan validasi dari interaksi digital. Sifat ini membawa peluang sekaligus risiko.

Peluangnya: mereka bisa dengan cepat memahami bahaya narkoba jika disampaikan dengan bahasa dan medium yang mereka sukai—video pendek, game edukatif, atau pengalaman interaktif. Risikonya: mereka juga bisa terpapar konten yang membenarkan atau bahkan mempromosikan penggunaan narkoba, terutama dari media sosial yang bebas dan tanpa filter.

Maka, pencegahan tidak cukup dilakukan lewat seminar tahunan. Ia harus hadir setiap hari, dalam bentuk interaksi yang alami dari lingkar terdekat mereka: keluarga, sekolah, dan sahabat (termasuk sahabat maya).

Keluarga Sebagai Benteng Pertama dan Terpenting

Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki hubungan hangat, komunikasi terbuka, dan kepercayaan dengan orang tua cenderung lebih tahan terhadap tekanan untuk mencoba narkoba. Keluarga bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga “laboratorium” pertama tempat anak belajar mengenali nilai, emosi, dan pilihan hidup. Jika di rumah mereka terbiasa diajak berdialog, dihargai pendapatnya, dan diberi contoh nyata hidup sehat, peluang mereka tergoda narkoba akan jauh berkurang.

Di sinilah soft approach menemukan pijakan kuatnya yaitu melalui komunikasi dua arah dengan tidak hanya memberi perintah, tetapi mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi. Selain itu, diterapkan pendidikan berbasis kasih sayang dengan menjelaskan bahaya narkoba dengan bahasa yang membangun, bukan menakut-nakuti. Dan yang terpenting, adalah konsistensi teladan dari orang tua yang hidup sehat dan bebas dari penyalahgunaan zat akan menjadi panutan kuat.

BNNK Tangerang telah mendorong pelatihan orang tua melalui parenting class berbasis komunitas. Di sini, orang tua belajar teknik komunikasi empatik, cara mengenali tanda-tanda awal perubahan perilaku anak, serta strategi membangun kepercayaan tanpa terlalu mengontrol.

Lingkungan Sekolah adalah Ruang Aman untuk Bertumbuh

Kita memahami bahwa sekolah adalah “dunia kedua” bagi anak. Anak usia sekolah menghabiskan sebagian besar waktu di luar rumah, bertemu guru, teman, dan membentuk identitas sosialnya. Pendekatan pencegahan di sekolah selama ini sering terjebak pada acara seremonial. Padahal, sekolah bisa menjadi pusat inovasi pencegahan jika mau menerapkan soft approach.

Beberapa langkah yang efektif misalnya integrasi kurikulum. Materi bahaya narkoba masuk dalam pelajaran secara kontekstual—misalnya, lewat mata pelajaran seni, olahraga, atau literasi digital. Sekolah juga dapat memaksimalkan program ekstrakurikuler positif melalui kegiatan kreatif seperti musik, teater, olahraga ekstrem, atau coding club bisa menjadi “alternatif dopamine” yang sehat bagi anak. Dalam mengawal semua aktivitas positif ini guru bertindak sebagai mentor, tidak sekadar  menjadi pengajar, tetapi menjadi pendamping yang bisa menjadi tempat curhat siswa.

Sahabat Maya demi Jejak Digital yang Menentukan

Bagi Generasi Alpha, dunia nyata dan dunia maya nyaris tak terpisahkan. Mereka punya “sahabat dekat” yang mungkin belum pernah ditemui secara fisik, tetapi berinteraksi setiap hari di ruang digital. Teman sebaya—termasuk yang di dunia maya—memiliki pengaruh luar biasa pada pilihan perilaku anak. Satu posting yang membenarkan penggunaan narkoba bisa memengaruhi banyak orang, begitu juga sebaliknya.

Inilah mengapa literasi digital menjadi senjata penting. Anak perlu mengenali konten manipulative karena tidak semua yang terlihat keren di media sosial adalah aman atau benar. Dibutuhan latihan membangun komunitas positif dengan cara mengikuti akun-akun inspiratif, bergabung di grup hobi sehat, dan berbagi konten bermanfaat. Melalui aktivitas dunia maya yang positif dan inspiratif, anak dapat menjadi agen perubahan. Anak menggunakan kreativitas untuk menyebarkan pesan anti-narkoba yang menghibur sekaligus mengedukasi.

Di BNNK Tangerang telah dibentuk Cyber Volunteer—yaitu tim remaja yang membuat konten positif, membanjiri media sosial dengan narasi hidup sehat, dan melawan hoaks tentang narkoba. Dengan cara ini, algoritma media sosial bisa “dipaksa” lebih banyak menampilkan pesan edukatif ketimbang konten negatif.

Pendekatan Agama dan Budaya untuk Memperkuat Identitas

Agama dan budaya adalah sumber nilai yang mampu memberi rasa bangga dan arah hidup. Nilai religius yang dikemas dengan pendekatan yang ramah anak dapat memberikan kerangka moral yang kuat. Begitu pula budaya lokal—ritual, lagu, tarian, atau kisah rakyat—bisa menjadi media kreatif untuk mengajarkan hidup sehat dan menjauhi narkoba. Misalnya, lomba musik tradisional yang diiringi pesan moral, atau pementasan drama adat yang mengangkat kisah kehancuran akibat kecanduan. BNNK Tangerang kerap bekerja sama dengan tokoh agama dan budayawan untuk menyelipkan pesan anti-narkoba dalam khotbah, festival budaya, hingga konten podcast lokal.

Soft Approach: Mengajak, Bukan Menghakimi

Soft approach yang diterapkan BNNK Tangerang menempatkan anak sebagai subjek, bukan objek. Mereka dilibatkan sebagai kreator, bukan sekadar pendengar. Prinsipnya sederhana namun kuat yaitu empati untuk memahami apa yang dirasakan anak, bukan hanya apa yang harus mereka lakukan. Kolaborasi dengan menggandeng keluarga, sekolah, komunitas, tokoh agama, dan dunia digital. Kreativitas dalam mengemas pesan pencegahan dalam format yang mereka sukai—meme, musik, game, atau video pendek. Semua ini butuh konsistensi bukan sebatas pada kampanye musiman, tapi membentuk budaya sehari-hari.

Pencegahan yang Berakar di Hati

Generasi Alpha adalah masa depan bangsa apalagi menyongsong Indonesia Emas tahun 2045. Maka, melindungi mereka dari narkoba bukan sekadar tugas negara, tetapi tanggung jawab kita semua—keluarga, guru, teman sebaya, dan komunitas digital.

Kita perlu meninggalkan cara lama yang kaku dan mengancam, beralih ke pendekatan yang hangat, membangun, dan relevan dengan dunia mereka. Dari ruang makan keluarga, lapangan sekolah, hingga chat group dunia maya—pesan untuk hidup sehat dan bebas narkoba harus hadir sebagai bagian alami dari kehidupan sehari-hari.

BNNK Tangerang telah memberi contoh bahwa soft approach bukan sekadar teori. Ia bisa menjadi gerakan nyata yang mengajak anak muda menjadi garda terdepan melawan narkoba, bukan karena takut, tapi karena mereka paham dan peduli. Jika pendekatan ini dilakukan secara konsisten di seluruh Indonesia, kita tidak hanya mencegah generasi Alpha dari bahaya narkoba, tetapi juga membentuk generasi yang percaya diri, berkarakter, dan siap memimpin bangsa menuju masa depan emas**.

Penulis adalah Kepala BNN Kota Tangerang, Alumni Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta, dengan Disertasi tentang Pola Komunikasi Persuasif Polri dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba