Talkshow “Women Leadership and Diplomacy” Tegaskan Pentingnya Peran Perempuan dalam Kepemimpinan Publik dan Diplomasi Global

0

Jakarta, BULIR.ID – Pusat Studi Gender dan Kepemimpinan Birokrasi Politeknik STIA LAN Jakarta menyelenggarakan talkshow bertajuk “Women Leadership and Diplomacy: Strengthening Women’s Role in Public Leadership and Global Engagement” sebagai bagian dari upaya mendorong penguatan peran perempuan dalam kepemimpinan publik serta keterlibatan aktif dalam dinamika global.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional yang memiliki rekam jejak panjang di bidang diplomasi dan hubungan internasional, yakni Nana Yuliana, Ratu Silvy Gayatri, Dian Wirengjurit, serta Acep Sumantri. Diskusi yang berlangsung dinamis ini dipandu oleh moderator Aulia Rahmawati.

Ketua Pusat Studi, Dr. Hidayaturahmi, MPA, dalam laporannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan talkshow ini merupakan bagian dari komitmen Politeknik STIA LAN Jakarta dalam mendukung penguatan peran perempuan di sektor publik. Talkshow diikuti tidak kurang dari 300 orang berasal dari kementerian/lembaga, perguruan tinggi, NGO, pemerintah provinsi/kota/kabupaten serta undangan lainnya. Kegiatan Talkshow ini dilaksanakan secara daring dan luring.

Ia menekankan bahwa isu kepemimpinan perempuan bukan hanya menjadi agenda kesetaraan, tetapi juga merupakan kebutuhan strategis dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar dalam menghadirkan kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi.

“Forum ini diharapkan terjadi pertukaran gagasan, pengalaman, serta praktik baik dari para narasumber yang dapat menjadi inspirasi bagi peserta, khususnya generasi muda. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus mendorong terciptanya ekosistem yang mendukung perempuan dalam mengembangkan kapasitas dan mengambil peran kepemimpinan,” ujar Amy.

Sementara itu Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. R. Luki Karunia, MA. saat membuka Talkshow dengan bangga memperkenalkan Pusat Studi Gender dan Kepemimpinan Birokrasi (PSGKB) Politeknik STIA LAN Jakarta  merupakan pusat studi pertama dan satu-satunya di Republik ini yang bernaung langsung di bawah Lembaga Administrasi Negara mengedepankan isu-isu gender dan kepemimpinan birokrasi.

PSGKB lahir bukan dari sekadar formalitas akademik, melainkan dari kebutuhan nyata akan riset mendalam dan aksi nyata untuk membangun sumber daya manusia yang inklusif. Kami ingin membangun wadah kolaborasi yang menautkan tiga komponen vital: Negara, Privat, dan Masyarakat. Melalui PSGKB, kami merangkul perguruan tinggi negeri maupun swasta, kementerian/lembaga, think tank, NGO, CSO, hingga industri untuk bersama-sama mencetak pemimpin birokrasi masa depan yang sensitif terhadap kesetaraan gender.

“Langkah ini adalah wujud nyata komitmen Politeknik STIA LAN Jakarta dalam mendukung Asta Cita Prabowo-Gibran. Kami fokus pada penguatan kesetaraan gender dan pengembangan kepemimpinan SDM yang unggul. Kami percaya bahwa untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, kita memerlukan pemimpin birokrasi yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga inklusif dan transformatif,” ujar Luki Karunia.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Lembaga Administrasi Negara, Dr. Muhammad Taufik, DEA. sebagai Keynote Speech memulai dengan sebuah bayangan kecil. Lebih dari seabad lalu seorang perempuan muda dari Jepara duduk dalam sunyi, menggenggam pena dan menuliskan isi pikirannya ke atas kertas. Ia bukan pejabat. Ia tidak berdiri di podium forum internasional. Ia tidak memiliki jabatan, apalagi kekuasaan formal. Namun dari ruang yang sederhana itu, lahir gagasan-gagasan yang melampaui zamannya. Perempuan itu adalah Raden Ajeng Kartini.

Melalui surat-suratnya, Kartini berbicara kepada dunia—tentang harapan, tentang keadilan, tentang kemanusiaan. Tulisannya menembus batas geografis, melintasi sekat budaya, dan menggugah kesadaran banyak orang, bahkan jauh setelah ia tiada. Ia tidak hadir secara fisik di panggung global, tetapi suaranya sampai ke sana.

“Tanpa kita sadari, apa yang dilakukan Kartini sesungguhnya adalah bentuk diplomasi—bukan diplomasi dalam arti formal yang kaku, melainkan diplomasi yang lahir dari ketulusan gagasan dan kekuatan nilai,” ujar Taufik.

Diplomasi gagasan, ketika ia menuangkan pemikirannya tentang pendidikan, emansipasi, dan kebebasan berpikir.
Diplomasi nilai, ketika ia memperjuangkan kesetaraan dan martabat manusia melalui kata-kata yang jujur dan berani.
Diplomasi kemanusiaan, ketika ia menyentuh hati banyak orang dan membangun jembatan pemahaman lintas bangsa.

Kartini membuktikan bahwa diplomasi tidak selalu membutuhkan jabatan atau kekuasaan. Kadang, cukup dengan keberanian untuk berpikir, menulis, dan menyuarakan kebenaran—sebuah pena bisa menjadi alat yang menghubungkan dunia.

Diplomasi hari ini bukan hanya tentang negosiasi antarnegara, tetapi tentang membangun kepercayaan dalam dunia yang penuh ketidakpastian. Di sinilah kepemimpinan perempuan menjadi semakin relevan.

Kartini mengajarkan tiga hal penting yang justru menjadi fondasi diplomasi modern: Voice (Suara). Berani menyuarakan gagasan, bahkan dalam keterbatasan; Empathy (Empati). Memahami manusia, bukan hanya kepentingan dan Bridge-building (Menjembatani). Menghubungkan dunia lokal dengan global.

Nilai-nilai ini tidak pernah usang. Ia justru menjadi “mata uang baru” dalam diplomasi global saat ini. Nilai Kartini hari ini hidup dalam praktik nyata para pemimpin perempuan Indonesia.

Narasumber pertama, Acep Somantri, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Manajemen memaparkan judul Pengarusutamaan Gender (PUG) Kementerian Luar Negeri. PUG diatur dalam Peraturan Menteri Luar Negeri NO. 21/2020 (Pedoman PUG di Lingkungan Kementerian Luar Negeri).

“Pengarusutamaan Gender adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program dan kegiatan hubungan luar negeri,” ujar Acep Somantri.

Kebijakan ini mendorong responsif gender:

  • Meningkatkan proses perekrutan, pelatihan, dan Manajemen Talenta SDM yang mendorong kesempatan sama bagi laki-laki dan perempuan
  • Mendorong kebijakan yang memfasilitasi dan mengakomodasi kebutuhan keluarga di Kemlu
  • Menciptakan lebih banyak fasilitas yang mendukung hak-hak perempuan, kesehatan ibu dan anak, serta lingkungan kerja yang aman dari tindakan pelecehan seksual
  • Melakukan penelitian untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan laki-laki dan perempuan di Kemlu

Sesi kedua, Nana Yuliana, Dosen Politeknik STIA LAN Jakarta mengambil judul “Memperkuat Peran Perempuan dalam Diplomasi Indonesia” dalam pemaparannya menyoroti pengalaman diplomatiknya selama bertugas di Kuba. Ia menekankan bahwa perempuan memiliki kekuatan dalam membangun pendekatan diplomasi yang lebih humanis dan inklusif. Menurutnya, kemampuan komunikasi interpersonal yang kuat menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menjalin hubungan bilateral yang konstruktif. Ia juga mendorong perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan tidak ragu mengambil peluang di ranah global.

Nana Yuliana menekankan pentingnya kebijakan afirmatif untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan publik. Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini masih terdapat kesenjangan akses bagi perempuan, baik dalam jabatan strategis maupun proses pengambilan keputusan.

Menurutnya, penguatan peran perempuan tidak cukup hanya melalui peningkatan kapasitas individu, tetapi juga harus didukung oleh sistem yang inklusif. Ia mendorong adanya regulasi yang memberikan ruang lebih luas bagi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin, serta pentingnya mentoring dan pengembangan karier berbasis gender equity.

Sementara itu, Ratu Silvy Gayatri menekankan pentingnya pendidikan, penguasaan bahasa asing, serta jejaring internasional sebagai modal utama bagi perempuan untuk berkiprah di dunia diplomasi. Ia menambahkan bahwa negara-negara maju telah menunjukkan praktik baik dalam mendorong kesetaraan gender, yang dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam memperluas peran perempuan di sektor publik.

Pandangan serupa disampaikan oleh Dian Wirengjurit yang menggaris bawahi bahwa perempuan perlu memiliki ketangguhan dan daya adaptasi tinggi dalam menghadapi kompleksitas hubungan internasional. Ia juga menekankan pentingnya integritas, profesionalisme, serta kemampuan negosiasi dalam menjalankan peran sebagai diplomat.

Ia juga membagikan pengalaman panjangnya dalam dunia diplomasi, khususnya terkait tantangan yang dihadapi perempuan dalam menembus struktur birokrasi yang masih didominasi laki-laki. Ia menekankan pentingnya ketekunan, profesionalisme, dan konsistensi dalam membangun kredibilitas sebagai diplomat perempuan. Menurutnya, perubahan memang tidak terjadi secara instan, namun dapat dicapai melalui komitmen jangka panjang dan dukungan kelembagaan.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini juga membuka ruang dialog antara narasumber dan peserta, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan akademisi. Berbagai pertanyaan dan tanggapan yang muncul mencerminkan tingginya minat generasi muda terhadap isu kepemimpinan perempuan dan diplomasi global.

Melalui penyelenggaraan talkshow ini, Pusat Studi Gender dan Kepemimpinan Birokrasi Politeknik STIA LAN Jakarta berharap dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan nasional dan hubungan internasional. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berdaya saing global serta mampu membawa perspektif inklusif dalam setiap proses pengambilan kebijakan.

Dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan di berbagai sektor, termasuk diplomasi, masa depan kepemimpinan yang lebih setara dan representatif menjadi sebuah keniscayaan. Talkshow ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mewujudkan hal tersebut, sekaligus menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun dunia yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.