Kisah 108 Solusi dari Presiden Prabowo: Review Buku Problem Solving Ala Presiden Prabowo: Presiden Solusi (2026)

0

Oleh Denny JA

Jakarta, BULIR.ID – Pak Slamet tidak pernah membayangkan bahwa musuh terbesarnya bukan hama, bukan pula harga pupuk. Musuh terbesarnya adalah kekeringan.

Di awal 2024, sawahnya di Indramayu mulai retak-retak. Tanah yang biasanya hijau berubah menjadi hamparan cokelat yang pecah seperti kulit yang kehabisan darah.

Ketika hampir satu juta hektare sawah Indonesia mengalami kekurangan air, masa depan jutaan keluarga ikut terancam. Lalu datanglah bantuan pompa air dari pemerintah.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian meluncurkan program bantuan pompa air besar-besaran.

Sebanyak 77.270 pompa diesel dan pompa listrik disalurkan sepanjang 2024–2025, lalu ditambah 11.000 pompa lagi pada 2026 untuk membantu petani mengambil air dari sungai, embung, dan sumber air terdekat.

Ketika pompa itu mulai bekerja, air kembali mengalir ke sawah Pak Slamet. Padi yang hampir mati perlahan hidup kembali. Panen yang semula diperkirakan gagal akhirnya terselamatkan.

Bagi sebagian orang, itu hanya bantuan pompa. Namun bagi keluarga Pak Slamet, itu adalah penyelamatan masa depan.

Anak Pak Slamet tetap bisa bermimpi kuliah. Kisah itu tampak sederhana. Namun justru di situlah makna sebuah kebijakan publik diuji.

Sebab ketahanan pangan sebuah bangsa sering kali dimulai dari satu hal yang sederhana: air yang berhasil tiba tepat waktu di sawah petani.

Dan kisah sejenis itu hanyalah satu dari 108 solusi yang didokumentasikan dalam buku ini.

-000-

Buku Problem Solving Ala Presiden Prabowo: Presiden Solusi adalah dokumentasi sistematis atas berbagai persoalan nasional yang dihadapi Indonesia dan langkah-langkah penyelesaiannya.

Ini dipotret selama periode awal 18 bulan pemerintahan Presiden Prabowo.

Buku ini disusun oleh tiga penulis yang berasal dari dunia riset kebijakan publik, komunikasi, dan dokumentasi pemerintahan.

Tiga penulis buku ini adalah Muhammad Qodari, Dirgayuza Setiawan, dan Agung Gumilar Saputra.

Ketiganya berasal dari latar belakang yang berbeda, namun dipertemukan oleh satu kesamaan: ketertarikan yang kuat pada data, kebijakan publik, dan komunikasi pemerintahan.

Muhammad Qodari dikenal luas sebagai pendiri Indo Barometer, pernah bekerja di Lingkaran Survei Indonesia, dan salah satu analis opini publik berpengaruh di Indonesia.

Dirgayuza Setiawan adalah
seorang penulis yang sudah
banyak menulis dan
menyunting buku mengenai
transformasi ekonomi, sejarah, dan strategi pembangunan nasional.

Sementara itu, Agung Gumilar Saputra dikenal sebagai peneliti dan pengolah data kebijakan yang berpengalaman menerjemahkan informasi kompleks menjadi rekomendasi yang mudah dipahami dan dapat dijalankan.

Yang menarik, ketiga penulis ini kini berada dalam lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo dan berperan sebagai bagian dari tim yang membantu Presiden dalam bidang komunikasi publik, analisis data, dan perumusan narasi kebijakan.

Latar belakang mereka menjelaskan mengapa buku ini tidak ditulis sebagai karya akademik yang penuh teori, dan juga tidak disusun sebagai buku politik yang penuh slogan.

Buku ini lahir dari perpaduan antara cara berpikir berbasis data, pengalaman membaca opini publik, serta kebutuhan untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana berbagai kebijakan pemerintah dirancang untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi rakyat.

Karena itu, Presiden Solusi dapat dibaca sebagai jembatan antara dunia kebijakan, dunia data, dan dunia komunikasi publik.

Mereka tidak menulis manifesto politik, melainkan menghimpun berbagai kasus konkret yang menunjukkan bagaimana sebuah masalah diidentifikasi, dirumuskan, lalu dicari jalan keluarnya.

Itulah sebabnya buku ini lebih menyerupai katalog pemecahan masalah dibanding kumpulan pidato politik.

-000-

Apa isi buku ini?

Secara sederhana, buku ini adalah peta besar mengenai bagaimana negara bekerja menyelesaikan persoalan rakyat.

Di dalamnya terdapat 108 kasus yang mencakup pertanian, pendidikan, kesehatan, pangan, investasi, industri, energi, hilirisasi, perumahan, perlindungan sosial, birokrasi, teknologi, infrastruktur, diplomasi, hingga pemberdayaan ekonomi rakyat.

Selain bantuan pompa untuk petani yang terdampak kekeringan, buku ini juga memuat penyederhanaan distribusi pupuk bersubsidi, percepatan pembangunan lumbung pangan, program makan bergizi gratis, dan pembangunan sekolah unggulan.

Juga soal penguatan layanan kesehatan, digitalisasi birokrasi, pengembangan industri hilirisasi mineral, penguatan ketahanan energi, peningkatan investasi asing, hingga penguatan diplomasi ekonomi Indonesia.

Yang menarik, setiap topik disusun dengan pola yang konsisten. Masalah dijelaskan terlebih dahulu. Setelah itu solusi yang diambil pemerintah dipaparkan.

Kemudian dijelaskan pula dampak yang diharapkan. Format seperti ini membuat pembaca dapat menilai sendiri hubungan antara problem dan solusi secara lebih objektif.

Sesungguhnya buku ini bukan hanya tentang 108 solusi. Buku ini juga tentang perubahan cara memandang negara. Negara tidak lagi dipahami sebagai panggung politik, melainkan sebagai mesin yang terus belajar menyelesaikan masalah rakyat.

-000-

Merenungkan buku ini, terasa tiga kekuatannya.

Kekuatan Pertama: Buku Ini Mengubah Politik Menjadi Problem Solving

Kebanyakan buku politik berbicara tentang ideologi, konflik, atau pertarungan kekuasaan. Buku ini mengambil jalan berbeda. Fokusnya bukan siapa yang menang atau kalah dalam politik, melainkan persoalan apa yang berhasil diselesaikan.

Pendekatan ini penting karena rakyat sesungguhnya hidup di dunia yang konkret. Petani membutuhkan air. Nelayan membutuhkan solar. Pelajar membutuhkan sekolah yang lebih baik.

Pasien membutuhkan layanan kesehatan yang lebih cepat. Mereka tidak hidup di ruang seminar politik, melainkan di ruang kehidupan sehari-hari.

Karena itu buku ini menggeser fokus dari politik sebagai arena perebutan kekuasaan menjadi politik sebagai instrumen penyelesaian masalah.

Pergeseran cara pandang ini memiliki nilai pendidikan publik yang besar. Ia mengingatkan bahwa ukuran utama pemerintahan bukan seberapa keras retorikanya, tetapi seberapa nyata manfaat yang dirasakan rakyat.

-000-

Kekuatan Kedua: Buku Ini Menawarkan Data yang Lebih Penting daripada Narasi

Di era media sosial, opini sering kali lebih cepat menyebar dibanding fakta. Buku ini mencoba melakukan hal yang sebaliknya. Ia mengumpulkan data, angka, program, dan hasil yang dapat diverifikasi.

Pendekatan berbasis data sangat penting karena kebijakan publik tidak boleh hanya dinilai berdasarkan kesan. Sebuah program perlu diukur berdasarkan dampaknya.

Berapa hektare sawah yang terselamatkan. Berapa sekolah yang dibangun. Berapa rumah yang direnovasi. Berapa investasi yang masuk. Berapa lapangan kerja yang tercipta.

Dengan cara itu, pembaca diajak untuk berpikir secara lebih rasional. Buku ini tidak menuntut pembaca untuk setuju. Buku ini justru mengajak pembaca untuk memeriksa, membandingkan, dan mengevaluasi.

Di tengah banjir informasi yang sering emosional, sikap seperti ini menjadi semakin berharga.

-000-

Kekuatan Ketiga: Buku Ini Menjadi Arsip Sejarah Awal Pemerintahan

Setiap pemerintahan membutuhkan dokumentasi. Tanpa dokumentasi, publik hanya mengingat kesan-kesan yang berubah sesuai arus politik.

Buku ini berfungsi sebagai arsip yang merekam apa yang dilakukan pemerintah pada periode awal kekuasaannya.

Kelak, beberapa tahun kemudian, publik dapat membuka kembali buku ini dan bertanya: apakah solusi-solusi yang dijanjikan benar-benar berhasil? Apakah target-targetnya tercapai? Apakah dampaknya sesuai harapan?

Dalam ilmu kebijakan publik, dokumentasi seperti ini sangat penting. Ia menjadi titik awal evaluasi. Tanpa catatan awal, tidak ada dasar untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan.

Karena itu nilai buku ini tidak hanya terletak pada isinya hari ini, tetapi juga pada fungsinya sebagai dokumen sejarah bagi generasi mendatang.

Buku ini juga membuka ruang bagi evaluasi independen. Dengan menyajikan data program dan klaim dampak, pembaca dapat memverifikasi, dan membandingkan capaian dengan sumber lain.

-000-

Kelemahan utama buku ini adalah kedekatannya dengan pemerintahan yang sedang berkuasa. Ia berisiko dianggap lebih menonjolkan keberhasilan dibanding mengulas kegagalan, hambatan, atau kritik secara setara.

Namun justru karena itulah buku ini penting dibaca: bukan sebagai putusan akhir, melainkan sebagai dokumen awal yang menyediakan data, klaim, dan capaian yang kelak dapat diuji, diverifikasi, dikritik, atau dibenarkan oleh sejarah.

Tanpa dokumentasi seperti ini, publik hanya mewarisi opini; dengan dokumentasi, publik memiliki bahan untuk melakukan evaluasi yang lebih objektif.

-000-

Dua buku di bawah ini dapat memperkaya wawasan kita. tentang buku Presiden Solusi diatas. Buku pertama berjudul The Fifth Risk, ditulis oleh Michael Lewis, 2018

Buku ini menjelaskan bahwa fungsi utama pemerintah sering kali tidak terlihat oleh publik. Banyak pekerjaan negara justru berkaitan dengan mencegah krisis sebelum krisis itu terjadi.

Lewis menunjukkan bagaimana birokrasi yang kompeten dapat menyelamatkan jutaan orang tanpa pernah muncul di halaman depan surat kabar.

Gagasan ini relevan dengan Presiden Solusi. Banyak program yang tercatat dalam buku tersebut tidak spektakuler secara politik. Namun dampaknya sangat besar.

Pompa air bagi petani, distribusi pupuk, perbaikan data bantuan sosial, dan reformasi pelayanan publik mungkin tampak administratif. Namun justru program-program itulah yang menentukan kualitas hidup rakyat sehari-hari.

Buku Lewis mengajarkan bahwa negara yang baik bukan negara yang paling banyak berpidato, melainkan negara yang paling efektif mengelola risiko sebelum menjadi bencana.

-000-

Buku kedua: How Change Happens. Penulisnya Duncan Green, 2016

Duncan Green menjelaskan bahwa perubahan sosial hampir tidak pernah terjadi melalui satu kebijakan besar yang heroik. Perubahan biasanya lahir dari akumulasi ratusan langkah kecil yang saling memperkuat.

Perspektif ini membantu kita memahami mengapa buku Presiden Solusi memilih menampilkan 108 kasus yang berbeda. Tidak ada satu program yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan bangsa. Kemajuan lahir dari gabungan berbagai kebijakan yang bekerja secara simultan.

Perubahan ekonomi membutuhkan investasi. Investasi membutuhkan infrastruktur. Infrastruktur membutuhkan energi. Energi membutuhkan regulasi. Regulasi membutuhkan birokrasi yang efektif. Semua saling terhubung.

Karena itu kekuatan buku ini bukan pada satu solusi tunggal, melainkan pada gambaran besar mengenai bagaimana berbagai solusi bekerja bersama membentuk arah pembangunan nasional.

-000-

Saya pribadi membaca buku ini bukan hanya sebagai pengamat kebijakan publik, tetapi juga sebagai seseorang yang selama puluhan tahun mengikuti denyut kehidupan masyarakat Indonesia.

Saya pernah berbincang dengan petani yang gagal panen karena kekeringan. Saya pernah mendengar keluhan nelayan yang pendapatannya habis untuk membeli bahan bakar.

Saya juga bertemu keluarga miskin yang melihat pendidikan sebagai satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan.

Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat saya memahami satu hal. Bagi rakyat kecil, kebijakan publik bukan angka dalam laporan.

Kebijakan publik adalah soal apakah anak mereka bisa tetap sekolah. Apakah sawah mereka bisa tetap ditanami. Apakah keluarga mereka bisa makan dengan layak.

Karena itu saya melihat buku ini bukan sekadar kumpulan program pemerintah. Buku ini adalah kumpulan cerita tentang bagaimana negara berusaha hadir di tengah kehidupan rakyat.

-000-

Pada akhirnya, kekuatan terbesar buku Presiden Solusi bukan terletak pada angka 108. Kekuatan terbesarnya terletak pada cara pandang yang diusungnya.

Negara yang baik adalah negara yang tidak berhenti mengidentifikasi masalah, mencari solusi, mengukur hasil, lalu memperbaiki kekurangan.

Saya teringat satu pelajaran penting dari perjalanan panjang mengamati politik Indonesia: rakyat akhirnya tidak hidup dari pidato. Mereka hidup dari air yang mengalir, sekolah yang berdiri, pekerjaan yang tersedia.

Buku ini mengajak kita menilai pemerintahan bukan dari slogan, melainkan dari kemampuan menyelesaikan persoalan nyata rakyat. Dan dalam demokrasi yang sehat, itulah ukuran yang paling penting.

Ukuran keberhasilan pemerintahan bukan retorika, melainkan hasil nyata: air, sekolah, pekerjaan, yang mengubah kehidupan jutaan keluarga; bukti itulah yang harus dicari dan diuji bersama.

Sayangnya, buku ini kurang mengulas hambatan struktural di lapangan, sehingga pembaca tetap perlu membandingkan klaim kesuksesan 108 solusi tersebut dengan data independen demi menjaga nalar kritis publik.

-000-

Dalam tiga dekade terakhir, politik Indonesia terlalu sering dinilai dari kemampuan memenangkan pemilu. Buku ini mengusulkan ukuran yang berbeda.

Bukan berapa banyak suara yang diperoleh seorang pemimpin, melainkan berapa banyak masalah rakyat yang berhasil ia selesaikan.

Pergeseran ukuran inilah yang sesungguhnya menjadi gagasan paling penting dari buku ini.

Karena sejarah pada akhirnya tidak mengingat siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling banyak menyelesaikan masalah.***

Jakarta, 8 Juni 2026

REFERENSI

1. The Fifth Risk — Michael Lewis, W. W. Norton & Company, 2018.
2. How Change Happens — Duncan Green, Oxford University Press, 2016.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1B7k5a7MXY/?mibextid=wwXIfr