Perempuan dan Masa Depan Lingkungan, Sebuah Kritik Terhadap Sistem Patriarki

0

FILSAFAT, Bulir.id – Ekofeminisme merupakan gerakan yang menggabungkan perjuangan untuk kesetaraan gender dengan pelestarian lingkungan. Bayangkan sebuah dunia di mana penindasan perempuan dan perusakan alam dipandang sebagai dua sisi mata uang yang sama.

Pada tahun 1970-an, ekofeminisme muncul selama periode gerakan sosial dan tantangan terhadap otoritas yang mapan. Gerakan ini berkembang dari pemahaman bahwa ada hubungan erat antara penindasan perempuan dan eksploitasi alam.

Istilah “ekofeminisme” diciptakan oleh feminis Prancis Françoise d’Eaubonne dalam bukunya yang berjudul *Le Feminisme ou la Mort* (Feminisme atau Kematian) yang diterbitkan pada tahun 1974. D’Eaubonne berpendapat bahwa masyarakat patriarkal yaitu masyarakat di mana laki-laki cenderung memiliki kekuasaan lebih besar daripada perempuan dapat menimbulkan masalah lingkungan. Masyarakat semacam itu mendorong dominasi dan eksploitasi, alih-alih kerja sama dan kepedulian.

Tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Vandana Shiva dan Carolyn Merchant, berpengaruh dalam membentuk gerakan tersebut. Shiva, seorang akademisi dan aktivis lingkungan asal India, menarik perhatian pada bagaimana model industri Barat mengikis metode pertanian tradisional di India.

Ia berpendapat bahwa hal ini tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga mengesampingkan perempuan yang telah lama menjadi penjaga praktik-praktik tersebut.

Dalam bukunya The Death of Nature, Merchant melangkah lebih jauh dengan memberikan bukti yang menghubungkan degradasi lingkungan dengan penindasan terhadap perempuan. Keduanya berakar dari pergeseran masyarakat menuju revolusi ilmiah dan industri.

Ekofeminisme tidak muncul secara mandiri, melainkan bersamaan dengan gerakan feminis dan lingkungan. Ekofeminisme menekankan bahwa kebebasan sejati bagi perempuan harus sejalan dengan kesejahteraan bumi dan sebaliknya.

Prinsip-Prinsip Inti Ekofeminisme

Ekofeminisme berpendapat bahwa penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi alam saling terkait. Keduanya muncul dari sistem kekuasaan di mana perempuan didominasi dan lingkungan dirusak.

Menurut para ekofeminis, pola pikir yang memungkinkan terjadinya ketidakadilan gender juga memungkinkan eksploitasi sumber daya alam. Keduanya dipandang sebagai objek yang ada untuk kita gunakan dan untuk keuntungan kita.

Pemikiran hierarkis semacam inilah yang ditentang oleh ekofeminisme. Sebaliknya, para ekofeminis ingin agar kita mengutamakan kepedulian dan kerja sama di atas segalanya serta menyadari bahwa segala sesuatu saling terkait.

Di India, Vandana Shiva menggambarkan pola pikir ini melalui karyanya. Shiva menunjukkan bahwa perempuan India di daerah pedesaan seringkali melakukan pekerjaan terbaik dalam menjaga lingkungan mereka. Mereka menggunakan sumber daya seperti air dengan cara yang tidak akan membahayakannya dalam jangka panjang. Mereka bertani secara berkelanjutan.

Selain itu, ekofeminisme menghargai metode-metode ini meskipun masyarakat menyebutnya “feminin” dan mempertanyakan mengapa masyarakat yang sebagian besar dijalankan oleh laki-laki mempromosikan model-model yang merusak demi keuntungan.

Gagasan penting lainnya adalah menerima “pengetahuan yang tertanam dalam diri.” Artinya, menghargai pengalaman hidup dan kebijaksanaan para perempuan, terutama dalam hal alam.

Alih-alih selalu lebih menyukai perspektif yang terlepas seperti yang umum dalam sains atau bisnis, ekofeminisme menyarankan untuk mencoba berhubungan lebih dalam dan lebih hormat dengan Ibu Bumi. Ekofeminisme memperhatikan kesejahteraan perempuan dan planet kita.

Feminisme vs. Ekofeminisme

Feminisme dan ekofeminisme memiliki hubungan yang erat tetapi berfokus pada hal yang berbeda dalam kesetaraan gender. Feminisme bertujuan untuk membongkar struktur penindasan terhadap perempuan dengan memperjuangkan hak, kesempatan, dan representasi yang setara di semua bidang masyarakat.

Hal ini membahas isu-isu seperti diskriminasi gender, hak reproduksi, dan kesetaraan di tempat kerja. Misalnya, gerakan feminis telah menjadi kunci keberhasilan yang diraih oleh gerakan perempuan terkait hak suara atau upah yang setara.

Ekofeminisme membawa feminisme lebih jauh dengan memasukkan perspektif lingkungan. Aliran ini berpendapat bahwa penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi alam saling terkait, keduanya berakar dari nilai-nilai patriarki yang memprioritaskan dominasi dan kontrol.

Ekofeminisme bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga menyerukan hubungan yang lebih selaras antara manusia dan Bumi. Salah satu contohnya adalah bagaimana para ekofeminis menunjukkan bahwa praktik-praktik industri merugikan perempuan sekaligus planet ini, seperti bahan kimia beracun dalam pertanian yang tidak hanya memengaruhi tanaman tetapi juga pekerja pertanian perempuan di sekitarnya.

Sementara feminisme arus utama cenderung berfokus pada isu-isu sosial daripada isu-isu lingkungan, ekofeminisme tidak membedakan keduanya. Ekofeminisme mempertimbangkan kedua aspek tersebut ketika memikirkan cara terbaik untuk mewujudkan keadilan.

Dengan menarik perhatian pada fakta bahwa perempuan dan lingkungan sering kali mengalami eksploitasi ganda, ekofeminisme memperluas wacana feminis ke wilayah baru. Ekofeminisme tidak hanya menyerukan kesetaraan hak tetapi juga perombakan sistem kita sehingga semua orang (dan segala sesuatu) mendapat manfaat.

Ekofeminisme dan Kritik terhadap Patriarki

Secara sederhana, ekofeminisme adalah kritik terhadap sistem patriarki karena sistem tersebut menindas perempuan dan merusak lingkungan. Patriarki, yang ingin mengendalikan dan mendominasi, memperlakukan perempuan dan alam sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi oleh laki-laki dan ini menyebabkan banyak masalah bagi masyarakat dan Bumi.

Sebagai contoh, masyarakat yang dipimpin oleh laki-laki mungkin lebih peduli pada menghasilkan uang dari industri daripada bagaimana hal itu memengaruhi lingkungan dalam jangka panjang.

Jika dipikirkan seperti ini, tidak mengherankan jika terjadi deforestasi. Hutan purba ditebang agar orang dapat menanam tanaman komersial atau menambang mineral di bawahnya. Mereka tidak pernah mempedulikan bahwa hutan membantu mengatur iklim atau bahwa kelompok masyarakat adat menganggapnya sebagai tempat suci yang dihuni oleh roh-roh yang layak dilestarikan.

Di masyarakat-masyarakat ini, terutama perempuanlah yang menderita akibatnya, karena mereka kehilangan akses terhadap sumber daya yang penting bagi keluarga dan pendapatan mereka. Situasi ini paling berdampak buruk bagi mereka. Namun, hal ini juga menggambarkan bagaimana ketidakadilan yang saling terkait memengaruhi perempuan dan lingkungan: persis seperti inilah isu yang ingin diatasi oleh ekofeminisme.

Contoh nyata dari kritik ini adalah promosi pertanian industri secara global, yang sering mengabaikan kearifan tradisional para petani perempuan tentang cara bertani secara berkelanjutan (merawat sumber daya agar lestari).

Hal ini tidak hanya memiskinkan perempuan-perempuan tersebut. Selain itu, hal ini juga dapat menyebabkan erosi tanah (ketika tanah tertiup angin atau hanyut karena tidak ada lagi yang menahannya), merusak keanekaragaman hayati (berbagai tumbuhan dan makhluk hidup yang ada di suatu daerah), dan merusak lingkungan secara umum.

Dengan mempertanyakan sistem yang mengutamakan laki-laki seperti ini, ekofeminisme mengatakan bahwa kita harus menemukan cara yang lebih baik untuk melakukan sesuatu yang tidak hanya mengeksploitasi alam atau mengabaikan hak-hak perempuan dengan hasil positif bagi manusia dan planet ini.

Interseksionalitas dalam Ekofeminisme

Interseksionalitas penting dalam pemikiran ekofeminisme karena mengakui bahwa perjuangan untuk keadilan lingkungan terhubung dengan perjuangan untuk kesetaraan gender. Dan keduanya juga terkait dengan ras, kelas, dan ketidaksetaraan global.

Ekofeminisme bukan hanya tentang melawan penindasan terhadap perempuan atau perusakan alam. Ini tentang memahami bagaimana ketidakadilan semacam ini juga berhubungan dengan ketidakadilan lainnya.

Sebagai contoh, perempuan Papua mungkin memiliki pengalaman yang sangat berbeda dari mereka yang hidup dalam kehidupan yang lebih beruntung. Mereka sering menghadapi berbagai tantangan, seperti kerusakan lingkungan, eksploitasi ekonomi dan rasisme. Karya Vandana Shiva di India menjadi contoh yang baik tentang penerapan ekofeminisme interseksional.

Poin yang disampaikan Shiva tentang Revolusi Hijau di India menunjukkan bahwa ketika pertanian industri dipromosikan, perempuan miskin di pedesaan paling terpukul. Meskipun mereka selalu menjaga benih dan pengetahuan pertanian, hal-hal ini menjadi kurang penting bagi masyarakat luas. Akibatnya, komunitas menjadi lebih miskin, dan lingkungan mereka pun ikut menderita.

Di Kanada, gerakan Idle No More yang dipimpin oleh perempuan Pribumi memberikan contoh lain. Di antara hal-hal lain, gerakan ini berkampanye menentang proyek-proyek pipa yang akan merusak lahan atau lapangan kerja bagi masyarakat adat.

Ini menunjukkan bagaimana ekofeminisme dapat mengatasi tidak hanya masalah gender dan ekologi, tetapi juga masalah yang lebih luas seperti kolonialisme dan rasisme. Dengan merangkul semua aspek ini bersama-sama, kita mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan dapat memperjuangkan solusi yang adil bagi semua pihak.

Kritik dan Perdebatan dalam Gerakan Ekofeminisme

Ekofeminisme tidak lepas dari kritik dan perdebatan internal. Salah satu tuduhan utama yang dilayangkan kepadanya adalah esensialisme. Hal ini terkadang menyiratkan bahwa perempuan memiliki kedekatan bawaan dengan alam karena peran mereka sebagai pengasuh dan pemelihara, secara biologis.

Sebagai contoh, dengan menekankan hubungan alami perempuan dengan lingkungan, ada bahaya bahwa ekofeminisme pada akhirnya tanpa disadari akan mendukung gagasan patriarki yang ingin dihilangkan. Ini termasuk keyakinan bahwa perempuan secara alami lebih peduli dan, oleh karena itu, memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga planet ini.

Kritik ini telah memicu banyak diskusi di kalangan ekofeminis. Beberapa setuju bahwa mereka perlu berhati-hati agar tidak menggunakan bahasa yang menyiratkan bahwa semua perempuan memiliki kualitas tertentu (bahasa esensialistis).

Namun, para ekofeminis lainnya mengatakan penting untuk melihat bagaimana perempuan seringkali menjadi pemimpin dalam menjaga lingkungan. Dan hal ini patut diaoresiasi.

Untuk menanggapi poin-poin ini dengan tepat, banyak ekofeminis berpendapat bahwa mereka harus mempertimbangkan interseksionalitas dan memikirkan beragam pengalaman yang dialami perempuan. Ini berarti bagaimana berbagai bentuk diskriminasi dapat saling terkait.

Mereka mengatakan ekofeminisme bukan berarti memandang semua perempuan sama persis. Sebaliknya, ekofeminisme melihat bagaimana masyarakat yang dibentuk oleh patriarki dan kolonialisme merugikan perempuan dan bumi/alam.

Dengan memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang berakar dalam tersebut, ekofeminisme berharap dapat menjadi gerakan yang lebih kaya dan terbuka. Sebuah gerakan yang mengakui bagaimana faktor-faktor seperti budaya dan gender memengaruhi orang secara berbeda bahkan sambil menyerukan keadilan lingkungan untuk semua orang.

Kesimpulan

Ekofeminisme adalah filsafat dan gerakan yang menggabungkan perjuangan untuk kesetaraan gender dengan keadilan lingkungan. Filsafat ini berpendapat bahwa ide-ide patriarki yang menindas perempuan juga berada di balik sebagian besar eksploitasi alam.

Dengan menantang sistem yang mendominasi kedua gender dan lingkungan, ekofeminisme ingin menciptakan dunia di mana setiap orang memperlakukan satu sama lain dan alam dengan lebih baik. Dunia yang mengakui bahwa kita semua terhubung dan dunia yang mengambil pendekatan yang lebih holistik terhadap keadilan sosial sehingga keadilan tersebut bertahan lebih lama.

Ekofeminisme dapat dilihat dalam aktivisme akar rumput atau dunia akademis tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ekofeminisme mengajak kita untuk mempertimbangkan kembali bagaimana kita berhubungan satu sama lain serta dengan lingkungan sekitar kita karena kita mungkin membutuhkan keduanya secara sama pentingnya di masa depan.

Singkatnya, ekofeminisme mengajak kita tidak hanya untuk memperjuangkan hak asasi manusia tetapi juga untuk melindungi planet tempat kita hidup.*


Djanuard Lj