Asri Hadi dan Filosofi Nemenin Aja

0

NEMENIN AJA

Jakarta, BULIR.ID – Di usia ketika banyak orang memilih menyepi, Asri Hadi justru melangkah lebih jauh. Dua tahun terakhir masa pensiunnya bukanlah jeda, bukan pula garis akhir; melainkan gerbang baru menuju babak kehidupan yang ia jalani dengan penuh semangat. Baginya, hidup itu harus terus berjalan—dan selama masih ada detik yang berdetak, masih ada ruang untuk memberi manfaat kepada siapa saja.

Seperti iklan Coca-Cola pada zamannya—mungkin juga masih berlaku hingga kini—di mana saja, ke mana saja, kapan saja, Asri Hadi hadir dengan suka cita. Ia bukan hanya seorang kawan perjalanan, melainkan pendengar yang setia; bukan sekadar teman nongkrong, tetapi menjadi ruang aman bagi siapa pun yang ingin membagi cerita, unek-unek, gagasan, atau sekadar obrolan ngalor-ngidul yang menyejukkan jiwa.

Di meja kopi, ruang rapat, aula kampus, lorong gedung pemerintahan, hingga kursi di tengah keramaian mal, ia tetap orang yang sama: sosok yang ikhlas menemani siapa saja—tanpa syarat, tanpa pamrih, tanpa perlu alasan. Kehadirannya seperti jeda lembut dalam hiruk pikuk dunia yang makin cepat.

Perjalanan panjangnya dimulai dari dunia akademik. Sejak 1986, ia mengabdikan diri sebagai dosen senior di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), membentuk ribuan calon pemimpin daerah. Di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Sesko AL), ia menjadi dosen tamu, mengajar tentang sistem keamanan swakarsa—sebuah bidang yang menuntut kedalaman analisis sekaligus kepekaan sosial.

Ilmu bukan sekadar profesi baginya, melainkan wujud cinta yang tidak pernah padam. Langkah akademiknya dimulai dari Sosiologi di FISIP UI dan kemudian membawanya terbang ke Australia melalui beasiswa untuk menempuh pendidikan S2 di Monash University. Di sana ia meraih gelar Master of Arts, menyempurnakan fondasi intelektualnya yang kelak menjadi bekal dalam setiap kiprah publiknya.

Di balik tutur lembutnya ada kegigihan yang mengakar. Ia terlibat lama dalam gerakan pencegahan narkoba, menjadi bagian dari Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN). Dari diskusi dengan aktivis hingga menghadiri konferensi internasional di Singapura, Malaysia, Australia, dan negara lainnya, ia selalu hadir sebagai suara yang lantang mengingatkan bahaya narkoba.

Meski sempat mengundurkan diri menjelang HANI 2022, semangat pengabdiannya tidak surut. Tahun 2025, ia kembali memantapkan langkah: dilantik sebagai anggota Bidang Humas Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Jakarta. Pelantikannya pada 12 November 2025 menjadi bukti bahwa pengabdiannya pada keamanan dan edukasi publik bukan kisah masa lalu, melainkan bab yang terus berkembang.

Di dunia media, nama Asri Hadi bukan sekadar hadir—ia menjadi penjaga nilai. Sebagai Pemimpin Redaksi Indonews.id, ia tetap memandu arah pemberitaan dan menjaga marwah jurnalisme yang beretika. Pada usia 67 tahun, publik menggambarkannya sebagai sosok yang “tak pernah pensiun dari pengabdian.”

Peran kepemimpinannya di media juga mengantarnya menerima penghargaan dari Mitra Seni Indonesia, ketika Indonews menjadi media partner dalam perhelatan seni Tutur Puan. Di tengah gempuran informasi instan, Asri tetap memperlakukan setiap berita sebagai cermin realitas yang perlu dijaga kejujurannya.

Jembatan antara Akademik, Pemerintahan, dan Sosial

Dalam hidupnya, ia menjelajahi banyak ruang:
— Anggota pengurus Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI).
— Ketua Umum Forum Intelektual Studi untuk Indonesia (FIS UI).
— Pengurus Humas IAPI (Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia) periode 2024–2029.

Jejaknya menjelma layaknya jembatan panjang yang menghubungkan kampus, birokrasi, organisasi sosial, dan dunia media. Ia hadir tidak untuk menjadi pusat perhatian, tetapi untuk memastikan semua pihak bisa saling mendengar.

Di Mata Publik: Sosok Multi-talenta yang Merendah

Di kehidupan sehari-hari, figur Asri Hadi sering digambarkan sebagai pribadi yang multi-talenta. Ia mengajar, menulis, berdiskusi, membangun jaringan, dan menggerakkan komunitas. Namun ia menjalaninya tanpa ambisi publik, tanpa retorika berlebihan.

Ada kisah sederhana namun penuh makna: suatu hari ia muncul di Pondok Indah Mall, lalu berbincang akrab dengan tokoh militer purnawirawan. Tidak ada pertemuan resmi, tidak ada agenda, hanya percakapan dua manusia tentang kehidupan. Dari momen-momen seperti itulah kehangatan Asri terpancar—bahwa jembatan sosial bisa dibangun dari sebaris senyum dan secangkir kopi.

Alumni FISIP UI yang Tak Pernah Lupa Akar

Sebagai alumni FISIP UI angkatan 1978, Asri Hadi tetap aktif mengayomi generasi penerus. Ia ikut mendukung Indriyani Ratnaningsih sebagai kandidat Ketua ILUNI FISIP UI 2025–2028. Bagi Asri, loyalitas bukan perkara institusi—melainkan rasa cinta pada rumah yang membentuk diri.

Filosofi yang Ia Jalani: “Nemenin Aja”

Pada akhirnya, seluruh kisah panjang ini menjelma pada sebuah filosofi sederhana: menemani.

Asri Hadi memahami bahwa tidak semua orang butuh solusi; banyak hanya ingin didengar. Tidak semua pertemuan butuh hasil; cukup ada ruang untuk bercakap. Tidak semua kebersamaan butuh tujuan; kadang hanya perlu kehadiran.

Dalam dunianya, menemani bukan sikap pasif, tetapi tindakan aktif untuk hadir sepenuh hati. Ia menemani bukan karena diminta, melainkan karena ia percaya bahwa manusia diciptakan untuk saling menenangkan.

Dua tahun masa pensiun bukan membuatnya berhenti—melainkan membuat langkahnya semakin ringan. Ia bergerak bebas, tanpa batas, tanpa tekanan jabatan. Ia hadir sebagai manusia yang lengkap: pendidik, jurnalis, aktivis, alumni, sahabat, dan penenang.

Dan di tengah semua gelar yang pernah ia sandang, mungkin gelar paling indah yang melekat padanya adalah ini:

Seseorang yang selalu bersedia… menemani aja.

Sebab bagi Asri Hadi, hidup bukan soal berapa banyak yang kita capai, tetapi berapa banyak yang bisa kita dampingi.
Dan dalam menemani, ia menemukan cara paling tulus untuk terus mengabdi—bahkan setelah usia kerja berakhir.