Drs. Asri Hadi: Sosok yang Mengabdi Tak Mengenal Purna dari Ruang Kampus ke Panggung Publik

0

Jakarta, BULIR.ID – Bagi sebagian orang, pensiun adalah waktu untuk beristirahat, menikmati hari tua bersama keluarga, dan melepaskan diri dari hiruk-pikuk pekerjaan. Namun bagi Drs. Asri Hadi, M.A., kata “pensiun” seolah tidak pernah benar-benar ada dalam kamus hidupnya.

Setelah menutup masa tugasnya sebagai dosen senior di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada tahun 2023, ia justru kian sibuk. Jadwalnya padat dengan kegiatan di berbagai organisasi dan media nasional.

“Selama kita masih bisa berbagi dan bermanfaat bagi orang lain, berarti kita belum benar-benar pensiun,” ujarnya dengan senyum yang khas, penuh semangat.

Asri Hadi menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di dunia pendidikan pemerintahan. Sebagai pengajar di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) — yang kemudian bertransformasi menjadi IPDN — ia dikenal sebagai dosen yang disiplin, cerdas, dan memiliki cara mengajar yang membumi.

Bagi para mahasiswanya, sosoknya adalah kombinasi antara ketegasan birokrat dan kehangatan seorang mentor. Ia tak hanya mengajarkan teori pemerintahan dan komunikasi publik, tetapi juga nilai integritas dan etika pengabdian. Selama mengajar, Asri Hadi kerap diundang sebagai narasumber di berbagai seminar dan forum akademik.

“Beliau sering berkata, tugas seorang pamong bukan hanya melayani rakyat, tapi juga mendidik dirinya agar pantas melayani,” kenang salah satu mantan mahasiswanya.

Sosok berdarah Minang ini, juga merupakan dosen di Sekolah Komando TNI Angkatan Laut (SESKOAL). Berkat pengbadiannya, dia dianugerahi  penghargaan Satyalancana Dwidya Sistha

Tiga Amanah Baru di Bidang Humas

Setelah purnabhakti, alih-alih beristirahat, Asri Hadi justru menapaki babak baru. Dunia komunikasi dan humas yang dulu ia ajarkan di kelas, kini menjadi ladang pengabdian nyata. Ia dipercaya menjadi anggota bidang Hubungan Masyarakat (Humas) di tiga lembaga bergengsi sekaligus:

Pertama adalah di Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) – organisasi yang menaungi akademisi dan praktisi pemerintahan di seluruh Indonesia, dengan fokus pada pengembangan ilmu dan etika penyelenggaraan pemerintahan. Di sini, Asri Hadi bertugas mengelola strategi komunikasi publik dan media organisasi.

Kedua, Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI) – wadah para profesional di bidang pengadaan barang dan jasa. Dalam lembaga ini, ia berperan sebagai anggota bidang Humas, Komunitas, dan Media DPP IAPI, membantu memperkuat citra organisasi sekaligus mendorong tata kelola pemerintahan yang transparan.

Ketiga, Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Jakarta – organisasi masyarakat yang bergerak dalam upaya pencegahan dan pemberantasan kejahatan sosial serta peningkatan kesadaran hukum publik. Melalui peran humasnya, Asri Hadi mengedukasi masyarakat agar lebih sadar hukum dan aktif menjaga keamanan sosial.

“Saya percaya, kekuatan komunikasi yang jujur dan terbuka dapat membangun kepercayaan publik. Dan kepercayaan adalah pondasi dari pemerintahan yang baik,” tuturnya.

Mengabdi Lewat Pena dan Pikiran

Selain aktif di organisasi, Asri Hadi juga dikenal luas di dunia jurnalisme. Ia adalah Pemimpin Redaksi portal berita INDONEWS.ID, media nasional yang konsisten mengusung jurnalisme positif — menampilkan berita dan opini yang mendorong dialog konstruktif di tengah derasnya arus informasi.

Di luar itu, ia juga menjadi Dewan Pakar Bulir.id, Dewan Redaksi Editor.id, serta Pimpinan Perusahaan Hariankami.com, tiga media yang memiliki karakter berbeda namun memiliki misi serupa: memberikan informasi yang mencerahkan publik.

Tidak hanya di ruang redaksi, Asri Hadi juga aktif di balik layar industri media digital. Ia dipercaya sebagai Bendahara Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI), organisasi yang menaungi media daring di Tanah Air dan memperjuangkan profesionalisme serta keberlanjutan ekosistem media digital.

“Media harus menjadi ruang pembelajaran publik. Kita tak bisa melawan arus informasi, tapi bisa mengarahkan arus itu ke hal-hal yang mencerdaskan,” katanya dengan penuh keyakinan.

Jejak Panjang Seorang Pendidik

Lahir di Dusun Kojai Nagari, Kecamatan Lintau Buo, Tanah Datar, Sumatra Barat pada 26 Mei 1958 sebagai anak kelima dari lima bersaudara dari pasangan H. Ramli Hadi bin Abdul Hadi dan Hj. Sayang Syarif binti Muhammad Syarif, Asri Hadi tumbuh dengan keyakinan bahwa ilmu harus digunakan untuk mengabdi.

Sejak muda, ia dikenal gemar berdiskusi tentang isu sosial dan kebangsaan. Jalan hidup kemudian membawanya menekuni dunia pendidikan pemerintahan—dunia yang menggabungkan idealisme dan disiplin birokrasi.

Sebagai dosen, ia tidak hanya memberi kuliah, tetapi juga membangun karakter mahasiswa agar siap menjadi pamong negara. Tak heran, banyak alumnus IPDN yang kini menduduki jabatan penting di pemerintahan masih menganggapnya sebagai sosok guru yang berpengaruh.

Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, meyakini bahwa pendidikan sejati tidak hanya mencetak pejabat yang cakap, tetapi juga manusia yang berakhlak dan peduli pada sesama.

Dari Panggung Akademik ke Panggung Publik

Bagi Asri Hadi, dunia media dan komunikasi bukanlah hal baru. Sejak awal karier, ia sudah memahami pentingnya peran humas dan media dalam membangun citra lembaga pemerintahan. Kini, setelah tak lagi berdiri di podium kelas, ia berdiri di panggung yang lebih luas: ruang publik.

Ia menjadi jembatan antara akademisi, birokrat, media, dan masyarakat. Setiap perannya, baik sebagai penulis, komunikator, maupun penggerak organisasi, selalu berorientasi pada satu hal: membangun komunikasi yang sehat antara pemerintah dan rakyat.

“Tantangan kita hari ini bukan kurangnya informasi, tapi berlebihnya informasi yang tidak terverifikasi. Humas harus hadir sebagai penjaga akurasi dan etika,” tegasnya.

Di usia yang seharusnya menikmati masa tenang, Asri Hadi tetap beraktivitas layaknya profesional muda. Ia masih menghadiri rapat organisasi, memimpin redaksi, menulis artikel opini, hingga menjadi narasumber seminar. Semangatnya yang seolah tak pernah surut membuat banyak kolega kagum.

Salah satu rekan sejawatnya menyebut Asri Hadi sebagai sosok “pembelajar sejati.”
“Pak Asri selalu punya energi untuk belajar hal baru. Ia tak pernah berhenti mengikuti perkembangan zaman, terutama di dunia digital,” ujar seorang kolega dari AMDI.

Bagi Asri Hadi, pengabdian bukanlah tentang jabatan, tetapi tentang kontribusi. Ia yakin, setiap ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya yang menuntun generasi berikutnya.

Mengabdi Sepanjang Hayat

Kini, aktivitas sehari-harinya dipenuhi dengan menulis, berdiskusi, dan membangun jejaring komunikasi lintas sektor. Ia menjadi contoh nyata bahwa pengabdian kepada bangsa tidak berhenti di meja kuliah, melainkan terus berlanjut dalam setiap langkah kehidupan.

Dengan kiprah di tiga lembaga humas, empat media nasional, dan asosiasi media digital, Asri Hadi membuktikan bahwa seorang pendidik sejati tidak pernah berhenti mendidik — hanya medianya yang berubah. Dari ruang kuliah ke ruang redaksi, dari seminar ke layar digital, ia terus menebarkan nilai-nilai integritas, etika, dan profesionalisme.

“Selama bangsa ini masih butuh pencerahan, saya akan terus menulis, berbicara, dan berbuat. Karena bagi saya, pengabdian adalah panggilan jiwa,” ucapnya pelan namun penuh makna.

Sekilas Tentang Drs. Asri Hadi, M.A.

Nama: Drs. Asri Hadi, M.A.

Latar belakang: Dosen senior purnabhakti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) / Institut Ilmu Pemerintahan (IIP).

Posisi saat ini:

    • Anggota Bidang Humas dan Pengelolaan Media PP MIPI
    • Anggota Bidang Humas, Komunitas, dan Media DPP IAPI
    • Anggota Bidang Humas LCKI Jakarta
    • Pemimpin Redaksi INDONEWS.ID
    • Dewan Pakar Bulir.id
    • Dewan Redaksi Editor.id
    • Pimpinan Perusahaan Hariankami.com
    • Bendahara Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI)

Drs. Asri Hadi, M.A. adalah bukti hidup bahwa semangat mengabdi tidak pernah mengenal kata pensiun. Ia tetap berdiri teguh di garis depan, menjaga integritas komunikasi publik, mencerdaskan masyarakat lewat media, dan menjadi teladan bagi generasi muda yang ingin berbuat lebih bagi negeri.