Catatan Pinggir Bulir: Masa Depan Kebenaran dan Misinformasi di Medsos

0

Oleh: Djanuard Lj*

OPINI, Bulir.id – Kebenaran di era digital ini menjadi problem umat manusia sebab bersamaan dengan itu ia melahirkan apa yang kita sebut sebagai Post Truth (pasca kebenaran). Di era tersebut ditandai dengan penjungkirbalikan fakta. Seringkali fakta obyektif tidak mendapat tempat dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi.

Post Truth menjadi tak terbendung beriringan dengan pesatnya revolusi digital, memengaruhi berita dan informasi. Menjamurnya media sosial semisal facebook, twittter, tiktok dll menjadi lahan subur berkembangnya narasi yang kebenarannya belum tentu dipertanggungjawabkan.

Sebuah studi pada tahun 2016 yang menganalisis interaksi 376 juta pengguna Facebook dengan lebih dari 900 outlet berita menemukan bahwa orang cenderung mencari informasi yang selaras dengan cara pandangannya. Hal ini membuat banyak orang rentan menerima dan bertindak berdasarkan informasi yang salah.

Misalnya, betapa masif dan liarnya berita beredar di platform media digital terkait kasus pembunuhan Vina di Cirebon. Hal itu membuat gaduh media sosial dan media masa yang seringkali memainkan emosi massa sehingga menimbulkan bias dan menyudutkan pihak tertentu (pembulian).

Banyak orang dengan bebas menyebarkan informasi yang kebenarannya belum bisa dipertanggungjawabkan secara sahih. Bahkan liarnya informasi dan berita tersebut menyebabkan beberapa orang dan institusi tertentu disudutkan.

Dunia digital telah melahirkan kebenaran baru (post truth/pasca kebenaran) yang mana kebenaran itu tidak lagi didikte oleh pihak tertentu yang memiliki otoritas namun dapat dijalin oleh siapa saja. Setiap fakta pasti ada kontra-faktanya dan semua kontra-fakta dan fakta tersebut terlihat sama di dunia maya, sehingga membingungkan.

Alih-alih berlindung di balik tembok kebebasan berekspresi, manusia mempertontonkan kebebasan sekaligus brutalitas. Sebagaimana dalam kasus Vina, setiap orang menjadi hakim dan bahkan tuhan atas yang lain.

Kecanggihan gawai membuat pengguna gawai tidak cepat menyadari dirinya bisa menghasilkan brutalitas lewat pesan-pesannya. Homo digitalis (manusia sebagai makhluk digital) menjelma menjadi homo brutalis (manusia brutal).

Kebencian dan prasangka yang berinkubasi dan terus dipupuk dengan plintiran logika pasca kebenaran (post truth) menginfeksi para pengguna yang berseliweran di dunia maya. Hanya dengan satu klik kasus pembunuhan vina sekejab viral. Betapa mudahnya di era hoaks ini untuk melakukan subversi atas nama kebebasan.

Keresahan ini menimbulkan pertanyaan, “Apa yang akan terjadi pada dunia informasi online di masa mendatang? Munculnya โ€œberita palsuโ€ (hoax) dan berkembangnya narasi palsu yang disebarkan oleh pengguna media online memberikan tantangan bagi platform media digital.

Pihak-pihak yang berupaya menghentikan penyebaran informasi palsu (hoax) berupaya merancang sistem teknis yang dapat menyingkirkan penyebaran informasi palsu dan meminimalkan cara dan skema lainnya menyebarkan kebohongan dan misinformasi.

Pertanyaannya adalah dalam 10 tahun ke depan, akankah metode terpercaya muncul untuk memblokir narasi palsu dan memungkinkan informasi paling akurat mendominasi ekosistem informasi secara keseluruhan? Atau akankah kualitas dan kebenaran informasi online memburuk karena penyebaran ide-ide yang tidak dapat diandalkan, bahkan terkadang berbahaya dan mengganggu stabilitas sosial.

Salah satu guru besar di bidang Filsafat, F. Budi Hardiman dalam tulisannya di sebuah jurnal Filsafat Diskursus yang berjudul โ€œManusia Dalam Prahara Revolusi Digitalโ€ menganjurkan bahwa komunikasi mesti ditata kembali. Pengajar Universitas Pelita Harapan itu menjelaskannya dalam empat poin.

Pertama, melalui proses yuridiksi interaksi digital. Perlu ada undang-undang yang lebih tepat guna untuk menata ruang lingkup digital. Kedua, membangun moralitas ruang digital. Kita perlu menciptakan etika komunikasi digital untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat luas. Ketiga, solidaritas pengguna digital untuk mengantisipasi hoax secara komprehensif dan berkelanjutan. Keempat, penguatan kepemimpinan pluralis di era digital. Melalui penataan komunikasi digital, hidup bermasyarakat diharapkan semakin lebih memiliki kepekaan sosial untuk tetap menghargai martabat manusia yang lainnya.

Pada akhirnya platform media digital perlu untuk tetap berkomitmen pada kebenaran. Sebab kebenaran merupakan kualitas manusia yang merupakan konstruksi mental dan bukan kondisi fisik.

Salah satu Filsuf Jerman, Heidegger memberikan wawasan bahwa teknologi sebagai salah satu cara atau model pengungkapan yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menjadikan dunia sebagai tempat pengungkapan dan keterbukaan pada kebenaran (aletheia). Media digital dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan keluarga, membangun relasi dengan sesama dan dunia jika digunakan dengan benar.

Sebagai pengguna media digital yang berakal budi mesti mengutamakan kebenaran dan kejujuran. Sebab jika media digital digunakan secara benar, dapat mendukung pengembangan dialog yang tulus dan solidaritas berdasarkan kebenaran. Sebaliknya kebohongan publik (hoax) merupakan patologi sosial yang mengindikasikan lunturnya kepercayaan antar individu, serta redupnya ikatan sosial dalam kehidupan komunitas.

Sejatinya setiap platform media digital perlu memberikan berita yang bermanfaat sehingga dapat mengenyangkang jiwa dan menyehatkan akal. Setiap media digital dituntut untuk memilah dan memilih sumber-sumber informasi ataupun sosok yang memiliki pengalaman dan tidak memiliki alasan untuk berkata tidak jujur.

Pada akhirnya di era post-truth ini, media digital dituntut untuk konsisten, berani dan disiplin untuk mempertahankan kebenaran dari arus informasi yang korosif.*


*Djanuard Lj merupkan alumnus Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Kini bekerja sebagai konten kreator dan penulis tetap di media online Bulir.id