Catatan Pinggir Bulir: Media Sosial dan Kesadaran Moral Pengguna

0

Oleh: Djanuard Lj

 

OPINI, Bulir.id – Entah disadari atau tidak, era digital telah banyak mengubah perilaku manusia. Media sosial seperti facebook, X, whatsapp, Tik Tok dan Instagram mempermudah penyebaran dan pertukaran informasi. Deretan media sosial tersebut memberi ruang komunikasi sebagai realisasi baru kodrat sosial manusia. Namun penyebaran dan pertukaran informasi yang cepat tersebut tak hanya bermanfaat melainkan juga memunculkan problem baru. Ternyata penyebaran informasi tersebut bergerak lebih cepat daripada kesadaran moral pengguna.

Kicauan-kicauan atau klik pengguna media sosial seringkali tidak lagi mempertimbangkan etika dan moral sebagai dasar atau sandaran untuk komunikasi manusia sebagai makhluk sosial sekaligus rasional. Pengguna media sosial sekadar hanya menunjukkan bahwa ia eksis, sebagaimana aku klik maka aku ada (premo ergo sum) yang berlawanan dengan adagium termasyur Descartes, aku berpikir maka aku ada (Cogito Ego Dum).

Tanpa kita sadari bahwa setiap cuitan atau klik yang kita lakukan mengubah sesuatu di dunia ini. Klik sendiri merupakan sebuah keputusan, simpati dan antipati, prihatin dan ketidakpedulian. Sebagaimana yang dalam tragedi penganiaayaan yang dialami oleh Prada Lucky, berita kematiannya mendapat simpati dan empati dari berbagai kalangan sehingga membuka tabir di balik kematiannya.

Namun, kematiannya tak hanya ditangisi oleh keluarga yang ditinggalkan melainkan juga mendapat cibiran, antipati dan ketidakpedulian dari orang-orang yang tidak punya nurani. Sebagaimana yang dilakukan oleh pemilik akun Nafa Arshana yang memberikan komentar pedas (tidak sepatutnya) di akun fecebook terkait kematian Prada Lucky, meskipun dikemudian hari menyampaikan permintaan maaf.

Klik atau cuitan antipati Nafa Arshana hanya akan membakar suasana dan menambah luka bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Hal ini menunjukkan, pengguna media sosial tidak lagi menggunakan kesadaran moralnya untuk menanggapi isu-isu yang berkembang. Sejatinya cuitan atau klik mesti merupakan pelaksanaan sebuah keputusan, sekaligus juga mencerminkan karakter pengguna media sosial tersebut.

Merujuk pada filsafat Aristoteles, keputusaan (prohaeresis) selalu merujuk pada cerminan karakter. Baginya, keputusaan seseorang menunjukkan keutamaan paling jelas sekaligus menunjukkan suatu penilaian atas karakter daripada tindakan-tindakannya. Pikiran tidak membuat manusia menjadi baik atau buruk, tetapi keputusan membuat kita menjadi baik atau buruk. Keputusanlah yang memulai suatu tindakan moral.

Sebagai makhluk bermoral, manusia digital dihadapkan dengan pilihan-pilihan moral dalam komunikasi digital untuk mewujudkkan yang baik dan menghindari yang jahat. Perlu kehati-hatian dalam mencuit atau berkomentar dalam dunia maya, sekaligus pengguna media sosial membutuhkan kecermatan reflektif sebelum melakukan tindakan digital.

Manusia merupakan tuan atas teknologi, tanpa ada kesadaran moral maka alat-alat ciptaannya dapat memperalat manusia sehingga kehilangan sensibilitas moralnya. Perlu disadari bahwa yang menentukan hidup bukanlah mesin-mesin cerdas melainkan sikap dan respon kita terhadapnya yang membuat perbedaan. Hanya ada dua kemungkinan manusia dapat menolak atau menerimanya.*