DI ANTARA PILAR-PILAR KEGELAPAN SIANG DI JALAN PULANG

0
Gerard N Bibang

Oleh Gerard N Bibang*

Diam-diam mereka, yang menyebut diri orang-orang terang, merasa sangat sedih; sebab sebentar lagi memasuki fajar, menjelang pagi, dan perjumpaan dengan terang sudah berakhir di kandang hina; mereka pulang ke rumah masing-masing melalui jalan lain; dari sinilah kesedihan itu dimulai; antara mereka bertengkar tentang definisi apa itu terang; mereka berjalan di siang hari tapi merasa seperti di tengah kegelapan; jalan lain itu seperti kegelapan siang

Begitulah nasib orang-orang terang itu! setelah mereka mengalami malam yang bergelimang benderang oleh hujan cahaya yang ulang-alik dari langit ke bumi dan dari bumi ke langit, lalu tinggal di antara mereka, mereka lupa mencari jalan lain yang pas ketika pulang ke rumah

Betapa memilukan! masing-masing mereka selalu menyembunyikan pengalaman terangnya; ada ketakutan; mereka sangat ingin menceritakan kepada orang-orang di sekitarnya, para tetangga dan siapapun yang mereka temui, di tempat pekerjaan, di kantor, pasar, jalanan dan di manapun tapi macet di perkataan; mereka kehilangan keberanian untuk berwarta tentang terang yang benderang itu

Maka, biarpun siang tapi mata mereka merasakan gelap; sebagian dari mereka mengeluh kepada Sang Terang kenapa jalan lain ini begini sulit, tidak ada enak-enaknya; bahkan kebanyakan di antara mereka mengurungkan niatnya untuk menceritakan pengalaman dengan Sang Terang dan lebih memilih untuk menyimpannya diam-diam

Dengan demikian, mereka sejatinya sedang berjalan di kegelapan siang; ada lima pilar pembentuk kegelapan siang; pertama, karena berdasarkan pengalaman, kalau mereka menceritakan pengalaman dengan Sang Terang, masyarakat di sekitarnya menyimpulkan bahwa si pencerita itu orang gila, atau orang sesat, atau orang kafir, atau orang takhayul; masih untung kalau sekadar dituduh sebagai orang lucu atau tukang mengarang; maka mereka pun takut untuk bicara

Kedua, kebanyakan orang-orang yang mendengar cerita mereka tidak memiliki alat untuk memahami, apalagi mempercayai, apa yang dikisahkan

Ketiga, mereka menyangka bahwa cahaya adalah yang tampak oleh mata mereka; padahal sejatinya dalam hati, bukan sudah tinggal di antara mereka

Keempat, cahaya yang mereka maksudkan adalah sesuatu yang membuat benda-benda bisa dilihat oleh mata mereka

Kelima, benda yang bisa mereka lihat dengan mata mereka hanya uang dan kemewahan

Itulah lima pilar kegelapan siang di jalan pulang yaitu di jalan lain setelah bertemu dengan Sang Terang; ah, jalan lain ini lebih banyak salibnya; tapi tidak apa-lah, sejauh-jauh kegelapan, toh akhirnya pada Sang Terang jualah langkah mereka bermuara
*(gnb:tmn aries:jkt:senin:26.12.22).

Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta