Minta Vatikan Evaluasi Elit Gereja Lokal, Sekjen PEKAT: Klerus Tak Bisa Layani Tuhan dan Iblis Sekaligus

0

Jakarta, BULIR.ID – Sekretaris Jenderal Pemuda Katolik Timur (PEKAT), Rikard Djegadut, menyerukan reformasi serius di tubuh Gereja Katolik universal menyusul pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, dari jabatan Uskup Keuskupan Bogor serta pembatalan pengangkatannya sebagai Kardinal dari Indonesia.

Rikard menilai peristiwa tersebut menjadi momentum refleksi mendalam bagi Gereja Katolik, khususnya para elitnya, untuk kembali mempertanyakan visi, misi, dan orientasi pelayanan Gereja di tengah umat.

“Gereja Katolik universal dan para elitnya harus segera berubah. Imam tidak boleh berambisi pada jabatan, sebab manusia tidak bisa melayani Tuhan dan iblis sekaligus,” tegas Rikard dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (21/1/26).

Ia juga mendesak Takhta Suci Vatikan agar segera melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk penyidikan dan penyelidikan internal terhadap elit-elit Gereja lokal yang dinilai mulai terjebak pada orientasi harta, tahta, dan relasi tidak pantas.

“Vatikan harus berani mengevaluasi dan menyelidiki para elit Gereja lokal yang mulai gila harta, tahta, dan wanita. Gereja harus kembali menjadi teladan moral bagi umat Katolik universal,” ujarnya.

Menurut Rikard, pengunduran diri Mgr. Paskalis dan penolakannya terhadap jabatan kardinal bukan sekadar peristiwa personal, melainkan mencerminkan adanya krisis kekuasaan dan problem struktural di dalam tubuh Gereja. Ia menilai dinamika yang mengiringi peristiwa tersebut menyisakan banyak pertanyaan serius tentang tata kelola, transparansi, dan budaya kekuasaan di lingkungan gerejawi.

Rikard juga menyinggung berbagai narasi yang berkembang terkait mundurnya Mgr. Paskalis, termasuk dugaan adanya tekanan internal, konflik kepentingan, serta pertarungan pengaruh di lingkaran elit Gereja lokal. Meski demikian, ia menekankan bahwa seruannya tidak dimaksudkan untuk menghakimi individu tertentu, melainkan mendorong Gereja melakukan introspeksi dan pembenahan.

“Belajar dari kasus Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, Gereja universal perlu berani melakukan reformasi dan mempertanyakan ulang misinya. Terutama visi dan misi para elitnya: apakah masih melayani umat atau justru terjebak pada perebutan kuasa,” katanya.

Ia juga menilai sikap Mgr. Paskalis yang memilih taat pada keputusan Gereja, meski disebut menghadapi situasi yang tidak mudah, patut dihormati sebagai wujud ketaatan iman. Namun, menurutnya, ketaatan personal tidak boleh menghentikan upaya pembenahan struktural.

“Kesetiaan dan ketaatan pribadi seorang uskup tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata terhadap problem sistemik. Justru Gereja harus belajar dan berbenah agar peristiwa serupa tidak terus berulang,” pungkas Rikard.

Seruan Sekjen PEKAT ini menambah daftar suara kritis dari kalangan awam Katolik yang mendorong Gereja Katolik, baik di tingkat lokal maupun universal, untuk kembali pada semangat pelayanan, transparansi, dan keberpihakan kepada nilai-nilai Injil.

Sebagai informasi, PEKAT adalah sebuah organisasi masyarakat yang didirikan atas inisiatif sekelompok anak muda Katolik Timur di Kota Jakarta. Organisasi ini dibentuk sebagai respons terhadap kebutuhan akan wadah yang bisa menjadi garda terdepan dalam menghadapi berbagai isu sosial, budaya, dan agama yang berkembang di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan umat Katolik.

PEKAT hadir untuk memberikan suara bagi generasi muda Katolik dalam menghadapi tantangan dan dinamika yang ada, sambil tetap menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dan kebudayaan yang menjadi dasar kekuatan komunitas Katolik.*