Pengaruh Bahasa Latin Terhadap Landasan Perundang-undangan

0

FILSAFAT, Bulir.id – Penggunaan resmi pertama bahasa Latin dalam hukum dimulai pada tahun 529 M. Kaisar Bizantium Justinian memerintahkan kodifikasi hukum Kekaisaran. Disebut Corpus Juris Civilis, karya ini menggabungkan hukum Romawi, yurisprudensi, dan deklarasi kekaisaran selama berabad-abad.

Karya ini akan menjadi dasar hukum perdata di seluruh Eropa abad pertengahan. Seiring berjalannya waktu, hukum Romawi dan, dengan demikian, bahasa Latin akan menyatu ke dalam hukum umum Inggris. Bahasa Latin menjadi lingua franca ilmiah di antara universitas-universitas abad pertengahan

Gereja Katolik beralih dari bahasa Yunani ke bahasa Latin pada abad ke-4. Peralihan resmi ini menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa teologi, administrasi, dan hukum. Seiring dengan peralihan hukum kanon, dekrit kepausan, dan dokumen ke bahasa Latin, pengaruh sekuler pun akhirnya meluas.

Di Eropa abad pertengahan, gereja dan negara seringkali tumpang tindih. Oleh karena itu, para raja dan pemimpin pun mengikuti jejak tersebut, menyusun undang-undang dalam bahasa Latin yang sesuai dengan otoritas Gereja.

Bahasa Latin di Dunia Baru

Dengan penemuan dan penaklukan Dunia Baru, kekuatan Eropa membawa serta sistem hukum mereka. Administrasi kolonial mereka menerapkan hukum Romawi. Namun, masing-masing berbeda meskipun tetap mempertahankan terminologi, struktur, dan prosedur Latin. Di wilayah kolonial Spanyol dan Portugis, hukum tetap dikodifikasi, mempertahankan kanon dan praktik abad pertengahan. Penggunaan terminologi Latin tetap konstan.

Hukum kolonial Prancis tetap sistematis dengan pasal-pasal yang ringkas. Konsep-konsep Latin digunakan tetapi diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis agar mudah dipahami. Bagaimanapun, Latin adalah bahasa ilmiah atau bahasa kaum elit. Koloni-koloni Amerika Britania Raya mewarisi hukum umum (common law). Sistem hukum ini menggunakan preseden, atau kasus-kasus masa lalu, untuk memutuskan kasus-kasus baru. Meskipun bahasa Inggris adalah bahasa hukum umum, bahasa Latin tetap digunakan dalam pepatah hukum dan istilah teknis, seperti habeas corpus dan mens rea.

Kemutlakan dan Ketepatan

Meskipun secara resmi merupakan bahasa “mati”, hal ini justru menjadi keuntungan bagi bahasa Latin. Tidak seperti bahasa modern, bahasa Latin tidak akan berubah menjadi dialek, bahasa gaul, atau ekspresi regional evolusi bersifat konstan. Sebagai bahasa mati, tidak ada yang diserap.

Tanpa perubahan, kosakata dan terminologi tetap konstan. Sebuah kata Latin yang digunakan beberapa dekade atau bahkan berabad-abad yang lalu memiliki arti yang sama. Misalnya, habeas corpus, bahasa Latin untuk “kamu akan mendapatkan jenazah itu,” memiliki arti hukum yang sama seperti ketika Magna Carta Inggris tahun 1215 pertama kali mengakuinya. Tanpa pergeseran linguistik, istilah hukum Latin tetap kebal terhadap perubahan.

Dominasi bahasa Latin dalam perundang-undangan juga berasal dari kejelasan dan keringkasannya. Seiring waktu, stabilitas bahasa Latin mencegah ketidakjelasan. Bahasa Latin hanya menawarkan interpretasi statis, yang dapat menjadi sangat penting dalam masalah hukum. Contoh yang baik adalah kepercayaan. Definisi hukumnya adalah hubungan fidusia di mana satu pihak memegang harta benda untuk pihak lain. Arti sehari-harinya adalah ‘kepercayaan’ atau ‘ketergantungan’. Dua arti ini dapat membingungkan.

Selain sifat bahasa Latin yang tidak ambigu, warisan linguistik Roma meringkas ide-ide kompleks menjadi istilah yang lebih mudah dipahami. Contoh yang baik adalah res judicata dan habeas corpus yang terkenal. Yang pertama, yang berarti perkara yang sudah diputuskan, dapat diringkas menjadi dua kata: mencegah pengadilan ulang. Yang kedua, atau Anda harus memiliki tubuh, menggunakan dua kata untuk mendefinisikan perlindungan terhadap penahanan yang tidak sah.

Keunggulan dan Otoritas Profesional

Eksklusivitas tertentu membantu bahasa Latin mempertahankan cengkeramannya dalam bidang legislatif. Sebagai bahasa yang tidak digunakan sehari-hari, bahasa Latin berperilaku hampir seperti bahasa eksklusif. Penutur yang mahir biasanya bekerja di bidang hukum (atau sebagai imam). Sama seperti dokter, mereka yang memiliki pengetahuan tentang bahasa Latin menunjukkan profesionalisme yang terlatih.

Terakhir, kekuatan simbolis bahasa Latin menyampaikan bobot keprihatinan hukum. Ketika digunakan dalam konteks hukum, istilah Latin seperti prima facie , yang berarti “sekilas pandang,” menyampaikan keseriusan dan formalitas. Orang dapat memahami “gravitas” dari situasi tersebut. Bahasa Latin menambahkan kesan permanen.

Berbekal Keterlibatan dalam Pendidikan

Secara tradisional, memperoleh gelar sarjana hukum mensyaratkan mempelajari bahasa Latin. Mahasiswa menghafal pepatah Latin, seperti ignorantia juris non excusat, yang berarti bahwa ketidaktahuan hukum bukanlah alasan. Sederhananya, pepatah tersebut berarti seseorang tidak dapat mengklaim tidak bersalah karena tidak mengetahui hukum. Studi bahasa Latin biasanya juga dianjurkan untuk memahami terminologi yang rumit.

Selama masa studi mereka, mahasiswa hukum akan menemukan pepatah Latin dalam kuliah, pendapat yudisial, dan buku kasus. Pepatah-pepatah ini digunakan di kelas, dan pengadilan sering mengutipnya untuk memperkuat preseden. Penggunaan bahasa Latin yang terus-menerus di sekolah dan kemudian dalam karier mereka hanya memperkuat dominasi bahasa Latin dalam perundang-undangan.

Penguasaan bahasa Latin yang kuat terhadap perundang-undangan bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah hasil dari jalur yang berbeda. Ketepatan bahasa Latin sebagai bahasa mati yang tidak berubah berarti tidak ada perubahan. Dengan demikian, seorang pengacara di Toronto, Washington, dan London akan memahami terminologi yang sama.

Mahasiswa hukum juga diperkenalkan dengan bahasa Latin sejak dini dalam pendidikan mereka, yang memastikan penggunaannya terus berlanjut. Dengan semua itu, dominasi bahasa Latin akan terus berlanjut.*