PMKRI Komit Berjalan Dalam Bimbingan Gereja Katolik Indonesia Menjawab Tantangan Zaman

0

JAKARTA, Bulir.id — Di tengah dinamika kebangsaan yang kian kompleks dan turbulensi politik yang terus menguji daya tahan demokrasi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas melangkah memasuki babak baru.

Pelantikan Pengurus Pusat (PP) PMKRI periode 2026–2028 menandai hadirnya energi baru yang membawa spirit pembaruan bagi gerakan mahasiswa intelektual populis tersebut.

Misa Kudus yang dimpimpin oleh Imam Serikat Jesuit, Rm. Efendi Sunur dan upacara pelantikan yang berlangsung khidmat di Jakarta pada Minggu, 20 September 2026 tersebut bukan sekadar seremonial pergantian estafet kepemimpinan.

Momen ini menjadi mimbar penegasan komitmen: menjaga independensi PMKRI di satu sisi, dan sekaligus mengukuhkan komitmen untuk terus berjalan berdampingan bersama Gereja Katolik Indonesia.

Dalam pidato perdananya usai dilantik, Yonas Tola menggarisbawahi pentingnya posisi tegak lurus PMKRI di tengah pusaran kepentingan kekuasaan. Bagi PMKRI, independensi bukanlah sebuah sikap mengisolasi diri, melainkan benteng moral agar perhimpunan tetap objektif, kritis, serta konsisten menyuarakan jeritan kaum tertindas (ecclesia in mundo).

“Independensi adalah napas perjuangan PMKRI. Kita tidak boleh menjadi perpanjangan tangan dari kekuatan politik mana pun. Orientasi kita tunggal: keadilan sosial, kebenaran, dan kepentingan rakyat kecil,” ujar Yonas.

Menurutnya, tantangan zaman yang dihadapi generasi muda hari ini, mulai dari krisis ekologi, disparitas ekonomi, hingga disrupsi teknologi, membutuhkan pemikiran yang jernih dan tindakan.

Ia juga menegaskan bahwa Gereja Katolik adalah fondasi moral bagi PMKRI untuk membumikan nilai-nilai Injili, bela rasa, keadilan, dan perdamaian ke dalam ruang publik.

“PMKRI adalah anak kandung Gereja yang diutus ke tengah medan perpolitikan dan kemasyarakatan. Kita berjalan searah dengan arah pastoral Gereja Katolik Indonesia, menerjemahkan warta kasih dan Ajaran Sosial Gereja (ASG) menjadi aksi nyata untuk negara ini,” tegas Yonas.

Lebih lanjut, ia mengatakan, persoalan keadilan sosial dan kerusakan lingkungan, seperti masalah kemiskinan, marginalisasi, korupsi, serta krisis ekologis membutuhkan keterlibatan aktif PMKRI untuk hadir langsung menjadi “garam dan terang” di tengah masyarakat.*