Retret Guru dan Staf Yayasan Notre Dame: Menjadi Peziarah dalam Pengharapan Bersama Sang Guru

0

Jakarta, BULIR.IDMemasuki tahun ajaran baru 2025/2026, Yayasan Persekolahan Notre Dame Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan ret-ret bagi para guru dan staf. Kegiatan rohani ini berlangsung pada 7–9 Juli 2025 di Rumah Ret-ret Pratista, Bandung, dan diikuti oleh 194 peserta dari unit Jakarta dan Grand Wisata Bekasi, terdiri dari 121 tenaga pendidik dan 68 tenaga non-pendidik.

Mengusung tema Peregrinatio: Peziarahan Dalam Pengharapan Bersama Sang Guru, ret-ret ini menjadi ajang refleksi dan pembaruan semangat pelayanan. Peregrinatio, yang berasal dari bahasa Latin, berarti “peziarahan”, menggambarkan perjalanan batin dan spiritual para peserta dalam menjalani tugas dan panggilannya, sambil meneladani Sang Guru, yakni Yesus Kristus.

Ret-ret dipimpin oleh Romo Budi Santoso, MSC bersama Tim MPL yang dikoordinatori oleh Kak Abas. Peserta dibagi dalam dua kelompok: tenaga pendidik (guru TK hingga SMA) dan tenaga non-pendidik (biro dan karyawan lainnya), agar materi dan dinamika dapat disesuaikan dengan konteks masing-masing profesi.

Dalam homili pembukaan ret-ret, Romo Budi menegaskan pentingnya momen ini untuk merefleksikan perjalanan hidup dan pelayanan. “Ret-ret berarti kita melihat apa yang sudah kita lakukan di masa lalu, mengevaluasinya saat ini, agar menjadi kekuatan untuk melangkah ke masa depan,” ungkapnya. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjaga keheningan sebagai ruang perjumpaan yang intim bersama Tuhan.

Sr. Maria Graciela SND, mewakili Yayasan, berharap ret-ret ini dapat memotivasi seluruh pegawai Notre Dame untuk lebih menjiwai visi-misi serta core values lembaga: saling menghormati, kepedulian, semangat pembelajar, dan kesederhanaan. “Kiranya semangat ini terus menjiwai tugas dan pelayanan kita sebagai pendidik dan pelayan pendidikan,” ujarnya.

Pada hari pertama, peserta diajak mendalami antropologi kristiani dan dokumen Lumen Gentium, tentang keistimewaan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Romo Budi menekankan tiga jati diri manusia: sebagai makhluk sosial, pekerja, dan berbudaya.

Hari kedua, fokus refleksi bergeser pada panggilan dan peran guru. Romo Budi menganalogikan guru sebagai tukang ukir yang membentuk muridnya dengan ketekunan dan kasih. Malam harinya, seluruh peserta menikmati kehangatan kebersamaan dalam kegiatan api unggun.

Kegiatan ditutup pada hari ketiga dengan perayaan Ekaristi. Dalam pesan penutupnya, Romo Budi mengajak seluruh peserta untuk membawa buah-buah ret-ret ke dalam kehidupan nyata di lingkungan sekolah dan komunitas.

Ret-ret ini menjadi momentum berharga untuk membangun spiritualitas, memperkuat motivasi, serta mempererat kebersamaan dalam semangat pelayanan Notre Dame. Semoga setiap langkah para guru dan staf menjadi ziarah penuh pengharapan bersama Sang Guru (Yohanes Pranata Selai, S.Fil.,M.Th, Guru Agama Katolik di Sekolah Notre Dame Jakarta)