Dua Generasi Soal Transportasi Kereta Api : Antara Kenangan dan Efektivitas

0

JAKARTA, Bulir.id – Kereta Api (KI) tetap menjadi alat tranportasi primadona bagi masyarakat hingga saat ini. Namun, ada sedikit titik perbedaan ketika masyarakat dimintai pendapatnya saat menggunakan jasa tranportasi Kereta Api.

Perbedaan itu menyangkut kesan sebagian masyarakat saat menggunakan Kereta Api untuk bepergian, maupun untuk urusan-urusan lain yang berhubungan dengan pekerjaan.

Dua kelompok usia dari lintas generasi berhasil kami temui di sela-sela kesibukan mereka di dua tempat di Jakarta, Sabtu (16/7/22). Cerita yang mereka sampaikan merupakan rangkaian pengalaman menggunakan Kereta Api di dua zaman yang berbeda pula, yaitu zaman dulu dan saat ini.

Nurhayati (44), warga Bidara Cina, Otista Jakarta Timur bercerita, dulu, semasa dia kuliah di salah satu Universitas Swasta di Yogyakarta, Kereta Api menjadi alat transportasi andalan di kalangan mahasiswa. Kata Nurhayati, menggunakan Kereta Api di kalangan mahasiswa pada waktu itu seperti memburu sesuatu yang tak kelihatan tetapi menciptakan kesan dan cerita-cerita menarik yang sulit dilupakan. Kereta Api cetus Nurhayati, jadi satu-satunya jasa transportasi paling populer ketimbang alat transportasi lain seperti Bus, Pesawat dan transportasi laut.

“Dulu, Kereta Api itu alat transportasi paling populer, mas. Bayangkan, sekalipun dulu ada Bus antar Kota dari Jakarta ke Jogja, kami lebih nyaman menggunakan Kereta Api. Entah karena apa, semacam ada sesuatu yang membekas setelah kami turun dari kereta” cerita Nurhayati sambil tertawa kecil, tampak seperti mengingat sesuatu di masa lalu.

Ketika ditanya soal kebiasaan zaman dulu, di mana pedagang asongan bisa keluar-masuk ke dalam gerbong Kereta, momen berebutan kursi sampai harus ada yang naik di atas gerbong, sesaknya Kereta sehingga untuk bernafas saja butuh perjuangan ekstra, Nurhayati hanya manggut-manggut. Ia seperti menolak memandang itu sebagai sesuatu yang buruk.

“Enggaklah mas. Bagi sebagian orang mungkin itu menganggu, tapi bagi saya dan teman-teman saya tidak. Loh saya bertemu dengan suami saya pertama kali di Kereta. Jadi kalau benar situasi dalam Kereta sesak, berarti saya justru bernafas lega di tengah-tengah kesesakan”, cerita Ibu tiga anak itu sambil tertawa lepas.

Foto: Twitter GNFI

Nurhayati dan Suaminya memang mengawali kisah cinta mereka di dalam Kereta. Ia tidak bercerita secara rinci bagaimana mereka akhirnya sampai menikah. Ia hanya berujar, sang suami adalah orang asli Jogja yang bekerja di Jakarta. Saat itu mereka sama-sama berangkat ke Jogja dengan duduk berdampingan dalam satu gerbong di Kereta yang sama.

Nurhayati juga ingat betul bagaimana situasi di Stasiun Senen kala itu, ketika baru pertama kali berangkat ke Yogyakarta. Ia mengisahkan, dulu, dengan segala keterbatasannya, di sekitar Stasiun Senin banyak tempat jualan buku. Buku-buku itu biasanya terjual laris karena hampir setiap penumpang membelinya sebagai bahan bacaan di dalam Kereta.

“Banyak tempat jualan buku dulu, mas. Lihat saja di perbatasan antara Senen dan Salemba, di perempatan dekat Stasiun dan Tugu Tani, masih ada beberapa tokoh buku. Buku-buku itu dulu terjual laris, terutama Novel”, kata Nurhayati yang sekarang bekerja di sebuah Perusahaan BUMN di Jakarta.

Nurhayati menambahkan, Senen dulu tempat paling romantis dan selalu diingat-ingat. Betapa tidak, di situ orang dapat bertemu sekaligus berpisah. Yang paling berkesan adalah momen ketika kereta mulai berjalan pelan, dan dari balik jendela kita menyaksikan orang berjejer melambaikan tangan, melepas kepergian sekaligus mendoakan perjalanan orang-orang tersayangnya.

“Itu momen yang paling berkesan dan bikin orang menangis sepanjang perjalanan. Apalagi kalau menjelang sore gitu mas, yah pokoknya berkesan dan sulit terlupakan”, cerita Nurhayati sambil meminta tim kami untuk segera mengakhiri obrolan karena ia harus membereskan pekerjaannya.

Foto: Twitter GNFI

Di tempat yang berbeda, tepatnya di kawasan seputar Stasiun Jati Negara, Jakarta Timur, kami berbincang hangat dengan Firman (23) yang baru saja pulang dari Cikarang, Jawa Barat, Sabtu (16/7/22).
Firman menggunakan jasa Transportasi Kereta Rel Listrik (KRL).

“Sangat efektif mas, perjalanan ke Cikarang yang biasanya memakan waktu berjam-jam sekarang bisa ditempuh dalam waktu 30 menit”, cerita Firman usai kami bertanya soal kesannya menggunakan KRL.

Menurut Firman, sekarang, Kereta Api jauh lebih efektif dan fasilitasnya memadai.

“Tidak hanya KRL di Jabodetabek, mas. Tiga bulan yang lalu saya ke Surabaya. Fasilitasnya sama mas, cepat juga nyampenya”.

“Sekarang lebih mudah sih, karena semua serba terkoneksi dan alternatifnya banyak. Ini saya datang dari Bekasi, sampai sini tak perlu susah-susah, tinggal pesan grab dan sebentar lagi tiba di rumah”, cerita penumpang lain bernama Serli (21).

Sementara itu, Kardi (57) penjual kopi keliling di sekitar Stasiun Jati Negara mengungkapkan hal yang berbeda. Alih-alih efektif, ia justru mengungkapkan keribetan naik KRL. Hal itu berkaitan dengan sejumlah persyaratan yang baginya amat sangat sulit terjangkau.

“Sekarang ribet. Naik Keretakan banyak persyaratan harus ada ini ada itu. Itukan ada di HP yang canggih, sementara saya hanya punya anak di rumah”, cerita Kardi sambil mengusap keringat di mukanya menggunakan handuk kecil yang sedari awal ia taruh di bahu kirinya.

Kardi lantas berharap agar kebijakan yang ada mesti menjangkau semua lapisan masyarakat sehingga transportasi umum dapat dinikmati oleh semua golongan. “Kemajuan pasti ada, tetapi harus membantu mereka yang kesulitan akses” tutupnya.

Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Dikutip dari laman resmi Kereta Api Indonesia (KAI), Sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) menggunakan lebar sepur 1435 mm.

Foto: Laman KAI

Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) pada tanggal 8 April 1875. Rute pertama SS meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan NISM dan SS mendorong investor swasta membangun jalur kereta api seperti Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Selain di Jawa, pembangunan jalur kereta api dilaksanakan di Aceh (1876), Sumatera Utara (1889), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922). Sementara itu di Kalimantan, Bali, dan Lombok hanya dilakukan studi mengenai kemungkinan pemasangan jalan rel, belum sampai tahap pembangunan. Sampai akhir tahun 1928, panjang jalan kereta api dan trem di Indonesia mencapai 7.464 km dengan perincian rel milik pemerintah sepanjang 4.089 km dan swasta sepanjang 3.375 km.

Berdasarkan perjanjian damai Konfrensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949, dilaksanakan pengambilalihan aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda. Pengalihan dalam bentuk penggabungan antara DKARI dan SS/VS menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) tahun 1950. Pada tanggal 25 Mei DKA berganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Pada tahun tersebut mulai diperkenalkan juga lambang Wahana Daya Pertiwi yang mencerminkan transformasi Perkeretaapian Indonesia sebagai sarana transportasi andalan guna mewujudkan kesejahteraan bangsa tanah air.

Foto: Laman KAI

Selanjutnya pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) tahun 1971. Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa angkutan, PJKA berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) tahun 1991. Perumka berubah menjadi Perseroan Terbatas, PT. Kereta Api (Persero) tahun 1998. Pada tahun 2011 nama perusahaan PT. Kereta Api (Persero) berubah menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan meluncurkan logo baru.

Saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki tujuh anak perusahaan yakni PT Reska Multi Usaha (2003), PT Railink (2006), PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (2008), PT Kereta Api Pariwisata (2009), PT Kereta Api Logistik (2009), PT Kereta Api Properti Manajemen (2009), PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (2015).