Toeti Heraty: Aktivisme dan Kecintaannya pada Filsafat

0

Jakarta, BULIR.ID – Minggu, 13 Juni 2021 silam, di Rumah Sakit MMC Jakarta, guru besar Universitas Indonesia, Toeti Heraty Noerhadi Roosseno menghembuskan nafas terakhir.

Kini setahun telah berlalu, sang mastro filsafat dan budaya itu kembali menghadap sang pencipta. Namun, karya-karyanya tetap `hidup`, utuh dan bisa dinikmati hingga hari ini.

Dalam acara peringatan, 89 tahun lahirnya Toeti Heraty dan 29 tahun Cemara 6 Galery Toeti Heraty, Minggu (27/11/2022), Direktur Cemara 6 Galery Toeti Heraty, Inda Citraninda Noerhadi kembali mengangkat sisi aktivisme Toety Herati.

Toety tak hanya menjadi guru besar yang selalu bertengger di menara kampus, yang memilih enggan turun ke `pasar` dan menutup mata melihat beragam persoalan yang dihadapi bangsa; tetapi ia mengambil bagian dalam perjuangan melawan ketidakadilan dengan turun ke jalan sebagai aktivis.

Hal ini semakin meneguhkan pernyataan akademisi sekaligus aktivis Arief Budiman yang menyebut perempuan kelahiran Bandung, 27 November 1933 itu sebagai demonstran.

Toeti merupakan salah satu tokoh di balik gerakan unjuk rasa Suara Ibu Peduli (SIP). Unjuk rasa damai yang digelar di Bundaran HI, 23 Februari 1998 itu, menyuarakan keprihatinan ibu-ibu rumah tangga Indonesia yang paling merasakan akibat harga-harga membubung.

“Ibu Tutie sebagai seorang filsuf, sebagai psikolog, sebagai budayawan, memang pola pikirnya sangat terbuka. Ada upaya aktivisme, seperti Suara Ibu Peduli, pembagian susu dulu di bundaran HI, kemudian bagaimana membela kaum perempuan yang tertindas,” ungkap Indah.

Kecintaannya pada Fisafat

Sebagai seorang akademisi, Toeti Herati menaruh perhatian penuh dalam dunia filsafat. Indah menceritakan, sebelum tutup usia, penulis buku `Aku Dalam Budaya` itu pernah menggelar rapat bersama Ketua Program Magister Ilmu Filsafat Dryakara, Karlina Supeli dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, untuk menentukan hari filsafat di Indonesia.

“Dua hari sebelum ibu Tutie wafat, ibu Tutie rapat bersama Karlina Superli, bapak Dirjen Kebudayaan, untuk menentukan hari filsafat Indonesia dan juga menentukan dua jilid ensiklopedi filsafat Indonesia,” katanya.

Setidaknya, ada beberapa karya Toeti yang bersingungan langsung dengan permenungan filosofis, seperti Emansipasi Wanita Menurut Simon du Beauvoir(karya skripsinya, 1961), Wanita Multidimensional (1990), Woman in Asia: Beyond the Domestic Domain (1989), Calon Arang-kisah perempuan korban patriarki (2000), dan Hidup Matinya Sang Pengarang (2000).

Indah Heradi punya komitmen, sebagai upaya menghidupkan kembali nuansa filsofis yang menubuh dalam petualangan intelektual Toeti Heraty, dirinya akan mendirikan institut atau universitas yang fokus pada filsafat dan budaya.

“Untuk yang formal masih dalam perencenaan akan mendirikan institut atau universitas. Sebelum Ibu Tutie wafat, bliau menginginkan adanya dua institute yaitu untuk prodi kekayaan intelektual dan pengembangan kreatifitas. Pengembangan kreatifitas ada 6 bidang yaitu filsafat budaya, seni rupa, multimedia, film, sastra, crative writing, etnomusikologi, arsitektur tradisional, itu yang sedang kita perjuangkan dengan dikti,” ungkap Indah.

Menurut Indah, hari-hari ini ada semacam perubahan minat generasi milenial yang sebelumnya tidak begitu akrab dengan dunia filsafat, tetapi sekarang mulai banyak yang tertarik untuk mengenal dan mendalami filsafat. Hal ini, katanya, tidak pernah terlepas dari festival filsafat yang digelar pada 2021 silam, sebagai upaya meletakkan kembali cara berpikir kritis, independen dan kreatif.

“Sejak ada festivel Filsafat, banyak kaum milenial yang tertarik untuk studi filsafat, karena itu kami sekarang sedang mempersiapkan ensiklopedi filsafat indonesia, dan berencana untuk menggelar diskusi-diskusi filsafat dan budaya kedepannya,” kata Indah.

Dalam aspek toleransi dan keberagaman, posisi filsafat sungguh mendapat tempat dalam kehidupan Toeti. Indah menegasakan, filsafat mampu membawa sang penyair itu sebagai pribadi yang inklusif dan sangat menghargai keberagaman, baik budaya, agama dan cara pandang. Cara berpikir yang inklusif inilah yang menunrut Indah, memberikan efek positif terhadap dirinya saat ini.

“Ibu Tutie sebagai seorang filosof, sebagai psikolog, sebagai budayawan, memang pola pikirnya sangat terbuka terhadap berbagai macam perbedaan. Kami memang tidak pernah belajar filsafat, tetapi dengan latar belakang pendidikan ibu kita juga mendapat ilmu yang luar biasa,” katanya.

Biografi Singkat Toeti Heraty

Dikutip dari Ensiklopedia Sastra Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Toeti menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga tingkat sarjana muda bidang kedokteran, pada 1951-1955.

Kemudian, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1955—1962). Toeti juga kuliah filsafat dan mendapat gelar sarjana filsafat dari Rijks Universiteit, Leiden, Belanda (1974). Ia meraih gelar Doktor Filsafat dari Universitas Indonesia (1979) melalui disertasi yang diterbitkan sebagai buku dengan judul Aku dalam Budaya (1982).

Selain mengajar, Toety juga aktif menulis sajak pada 199. Namun, karyanya baru dibukukan dalam kumpulan puisi yang pertama, yakni Sajak-Sajak 33 (1973), tepat ketika usianya 43 tahun. Kumpulan sajak berikutnya, Dunia Nyata, ditulis antara 1966 dan 1969, hingga kini belum diterbitkan.

Kemudian, kumpulan sajak Mimpi dan Pretensi terbit pada 1982. Toeti juga menjadi editor bunga rampai Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979) antologi puisi penyair wanita Indonesia. Bersama A. Teeuw, Toeti menjadi editor Manifaestasi Puisi Indonesia-Belanda (1986).*(Andy Tandang).