Stefanus Hadur, Cakades Termuda yang Menarik Perhatian

0

ORONG, Bulir.id – Stefanus Hadur alias Fanno merupakan Calon Kepala Desa (Cakades) termuda dari Orong, Kecamatan Welak Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ia tergolong satu-satunya Cakades paling muda di Mabar namun menarik perhatian. Masyarakat di Orong menilainya sebagai sosok yang energik, kritis tapi santun dan mudah bergaul.

“Fanno itu sosok yang energik, kritis dan tahu etika. Di tingkat akar rumput ia mudah diterima. Sosoknya mampu menahkodai masyarakat Desa Orong dengan berbagi karakter”, demikian kesaksian pendukung Fanno ketika mengantarnya saat pengundian nomor calon, Senin (18/7/22).

Fanno sendiri memiliki mimpi besar untuk mendobrak kemajuan Desa Orong. Di mata Fanno, sebagai Desa di pusat Kecamatan, butuh pendekatan khusus dan luar biasa untuk mencapai target pembangunan sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat.

“Orong ini Desa di pusat Kecamatan. Namanya harus semakin menggema dari banyak aspek, baik dari segi ekonomi, pariwisata, pertanian, UMKM maupun pendidikan masyarakatnya. Apabila berkenan dan mendapat dukungan penuh dari mayoritas masyarakat, saya akan melakukan pendekatan khusus dan luar biasa untuk mewujudkan peradaban Desa yang semakin maju dan berdaya saing”, Kata Fanno di Orong, Kamis (21/7/22).

Sekalipun begitu, Fanno sendiri mengakui, kemajuan yang ia dambakan tak akan pernah tercapai jika hanya mengandalkan kemampuan individual tanpa kerja kolektif seluruh komponen masyarakat. Contohnya kata Fanno, selama ini ia intens membangun komunikasi dan menimba pengalaman dari banyak pihak, terutama dari tokoh-tokoh potensial di Orong, seperti tetua adat, orang-orang tua, Pemerintah dari tingkat Desa hingga Kecamatan, tokoh-tokoh muda dan masyarakat dari berbagai lapisan.

“Sejak punya niat untuk pencalonan Kades, saya telah berdiskusi dengan banyak pihak, seperti para tetua adat, orang-orang tua dan juga dengan unsur pemerintah, baik pemerintah desa maupun kecamatan. Saya mendengar dan belajar banyak dari mereka sebagai bekal pencalonan”, kata alumni pengurus GMNI cabang Ruteng ini.

“Dan lebih dari itu, kalau boleh jujur, saya sangat bersyukur lahir dan hidup di Orong ini. Di sekitar saya, banyak kae-kae, ase-ase dan tokoh-tokoh mudah potensial yang terus mendukung saya. Mereka membekali saya dengan ide-ide yang berlian. Mereka selalu punya cara tersendiri untuk mendukung dan menguatkan saya” beber Fanno.

Alumni Universitas Katolik Indonesia (UKI) ST. Paulus Ruteng ini juga punya perhatian khusus bagi penguatan organisasi kepemudaan di tingkat Desa. Menurutnya, pemuda harus memiliki kesamaan visi untuk sama-sama terlibat dalam pembangunan Desa dengan mengedepankan kerja sama kolektif-kolegial.

“Sinergi di antara sesama tokoh muda itu penting. Pemuda harus fleksibel dan tidak boleh baperan untuk mencapai visi-misi yang sama. Mereka tidak boleh baperan untuk bergabung dalam kondisi sosial manapun demi mencapai tujuan pembangunan Desa dengan caranya masing-masing”, tegas Fanno.

Lantas, Fanno berjanji akan mengorganisir organisasi kepemudaan di tingkat Desa, khusunya Desa Orong dalam seluruh Lembaga Kemasyarakatan Desa. Itu akan menjadi wadah bagi pemuda untuk menyalurkan ide, berkreasi dan berkarya bagi kemajuan Desa.

“Supaya mereka bisa berkreasi dalam banyak hal, dari aspek olahraga, kesenian hingga wirausaha serta bisa memanfaatkan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam sekitar. Saya yakin kalau Pemuda benar-benar aktif maka brand Desa akan terangkat dan lebih hidup”, katanya.

Sementara itu, Fanno menggambarkan masyarakat Desa Orong sebagai masyarakat yang hidup harmonis. Untuk mempertahankan keakraban itu, Fanno berharap agar penyelenggaraan Pilkades dengan seluruh tahapannya tidak menimbulkan riuh-riuh perpecahan dan konflik yang meretakkan relasi sosial yang terjalin baik selama ini.

“Mari kita ciptakan Pilkades yang damai dan penuh kesejukan. Beda pilihan politik itu biasa tetapi jangan sampai ada perpecahan dan keretakan relasi di antara kita. Awan karot salen Orong adalah lutur lewe. Kita punya hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yang tidak boleh rusak atas alasan apapun”, tutup Fanno.