Mimpi Fanno Jadi Kades Orong

0
Foto istimewa

Sosok, BULIR.ID – Hari Kamis tanggal 29 Sebtember 2022 adalah hari yang paling menegangkan bagi Stefanus Hadur alias Fanno (27). Sebagai Calon Kepala Desa (Cakades), Fanno mengisahkan suasana yang cukup tegang saat itu. Namun, ia berusaha mengendalikan perasaan takut dalam dirinya.

Fanno mengikuti betul saat-saat pembacaan hasil pemungutan suara sambil sesekali mengarahkan pandangannya ke arah pendukung dan simpatisan. Dari sana, ia menangkap suatu keyakinan dan harapan besar akan sebuah kemenangan.

Kuasa Tuhan akhirnya bekerja atas Fanno. Dia memperoleh suara terbanyak dari rivalnya dalam konstestasi pemilihan kepala Desa Orong, Kecamatan Welak Kabupaten Manggarai Barat. Fanno mengaku, selain karena kuasa Tuhan dan garis tangannya, mimpinya terwujud juga karena dukungan yang murni dan tulus dari masyarakat.

“Kemenangan saya dalam kontenstasi  demokrasi lokal ini, tentu saja selain karena kuasa Tuhan dan garis tangan, juga karena dukungan yang murni, tulus dan luar biasa dari masyarakat. Ini kemenangan karena perjuangan yang tulus dan murni, tanpa kecurangan, kecurigaan dan politik uang”, kata Alumni Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng ini.

Pendukung Fanno menunggu hasil perhitungan suara

Ia melihat dukungan masyarakat orong berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan berpolitik di satu sisi dan juga karena sosoknya di sisi lain. “Ini pertanda kedewasaan berpolitik, juga karena saya dan tim berhasil membangun komunikasi yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat”, sambungnya.

Mantan pengurus GMNI cabang Ruteng ini lantas menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas semua partisipasi, dukungan dan kerja sama tim sehingga mampu mengantarnya memegang estafet kepemimpian di desa pusat Kecamatan Welak, Desa Orong dalam usia yang relatif muda.

“Apresiasi dan terima kasih untuk segala bentuk dukungannya. Untuk kekompakkannya, kope oles todo kongkol, nai ca anggit tuka ca leleng, cama lewang nggere peang cama poe nggere one. Ini kerja sama semua pihak, karena tim dan keluarga yang solid”.

“Kedua, terima kasih kepada kalangan muda. Saya sangat menyadari spontanitas dan ketulusan kaum muda sangat menentukan apa yang kita raih ini. Profisiat kepada seluruh kaum mudah desa orang, oleh kalian semuanya terasa riang gembira”.

“Terima kasih pula kepada para donator yang telah membantu banyak hal semenjak deklarasi pencalonan, kampanye hingga hari pemungutan usai”,.

Fanno juga menyampaikan terima kasih khusus kepada panitia pelaksanaan pilkades yang telah memfasilitasi berjalannya proses pilkades dalam berbagai tahapannya. Panitia menurut Fanno telah melaksanakan tugasnya dengan sangat professional dan benar-benar independen.

Menurut Fanno kinerja panitia tingkat desa, khususnya desa orong patut menjadi parameter untuk menopang kemajuan demokrasi lokal.

“Bukan karena saya menang, melainkan karena panitia memang telah bekerja secara professional dan indpenden. Terima kasih kepada seluruh panitia, ini patut menjadi contoh, harus dipertahankan untuk menopang kemajuan demokrasi”, katanya.

Komitmen Fanno untuk Desa Orang

Usai terpilih, Fanno berkomitmen menuntaskan janji-janjinya selama masa kampanye. Ia mengatakan, sosoknya sebagai orang muda akan sangat kompatibel dengan kebaruan program-program desa yang memang membutuhkan inovasi-inovasi baru.

“Hari ini program-program desa harus dijemput dengan inovasi-inovasi baru. Ini yang akan kita terapkan di berbagai aspek terutama terkait pemberdayaan ekonomi masyarakat. Akan kita usahakan sungguh-sungguh dengan membangun kerja sama lintas sektor dan lintas desa” katanya.

Ia bahkan berjanji menjadikan desa orong sebagai lokomotif pembangunan dalam sejumlah aspek untuk desa-desa sekitar. “Selain agar program-program yang ada dapat menciptakan masyarakat yang maju dan sejahtera, juga agar menjadi contoh bagi desa-desa sekitar”, cetusnya.

Untuk diketahui Fanno sendiri merupakan putra asli kelahiran kampung orong. Ia menyelesaikan Pendidikan di Sekolah Dasar Katolik (SDK Orong), Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK Welak-Orong) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Welak Orong.

Usai SMA Fanno sempat merantau ke Bali selama setahun. Setelah itu ia Kembali ke Kampung dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Katolik Indonesia (UKI) St. Paulus Ruteng. Selama kuliah ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, baik di dalam maupun di luar kampus.

Fanno yang lahir dan besar di Orong mengisahkan secara detail bagaimana karakternya dibentuk oleh relasi sosial  masyarakat kampung Orong. Kata Fano, orang-orang Orong merupakan tipe  masyarakat  yang menyenangkan, kompak dan tidak mudah baper.

Sejak kecil, Fanno dibesarkan di tengah iklim hangat dan penuh kekeluargaan ini, sehingga tampak dalam kepribadiaanya sekarang yang selalu ceriah dan cepat bergaul. Fanno bahkan tak sungkan mengaitkan keterpilihannya sebagai kades karena restu beo (Kampung) Orong.