SELAMAT TINGGAL YANG PEDIH DI AKHIR 2022

0
Gerard N Bibang

oleh Gerard N Bibang*)

Sebab cintaku kepada-Mu tak bisa melebihi kasih-Mu padaku; aku bergulat dengan waktu, tujuannya apa, tidak sepenuhnya aku tahu; apakah waktu yang kucari, tidak sepenuhnya aku tahu

Waktu hinggap di pucuk-pucuk pepohonan, menggerakkan dedaunan di waktu-waktu yang silam; waktu bernyanyi di paruh burung-burung, mengaliri sungai-sungai sampai ke seribu muara dan menjadikan samudera bergolak; beribu samudera menjadi lingkaran sungai-sungai mengaliri gunung dan lembah; berlompatan dari planet ke planet, dari galaksi ke galaksi; ilmu pengetahuan manusia diejeknya, dan kesombongan peradaban manusia ditertawakannya

Waktu hadir di malam pesta akhir tahunku; padahal ia hanya menyentuh tengkukku; dan saat itu juga ia meninggalkanku untuk mengingatkan bahwa yang bisa ia ucapkan kepadaku hanyalah selamat tinggal yang pedih; karena pertambahan waktu padaku adalah pengurangan jatahnya atas hakku; padahal aku telah menganggap hakku atas waktu, abadi; sebuah ketololan yang tak mau dan tak rela kuakui

Tapi yang tidak bisa kulawan ialah Cinta-Mu yang tak pernah luntur kepadaku; apa pun yang terjadi sejatinya adalah cara-MU membantingku dengan kasih sayang-MU; sekarang bagaimanakah caranya cintaku pada-MU harus kupelihara dalam paruh waktu tersisa; di atas sebuah paruh waktu yang orang sebut tahun baru 2023; tapi, apalah arti sebuah nama untuk seorang peziarah yang hanya tahu berjalan dan berjalan?
*(gnb:tmn aries:jkt:sabtu:31.12.22)

Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta