Cak Nun: Firaun dan Suara Kenabian

0

Oleh Dion Pare (Wartawan Senior)

Tilik, BULIR.ID – Seminggu belakangan ini, MH Ainun Najib adalah salah satu nama atau isu yang menjadi trending topic. Pasalnya, sebuah link videonya diserbu banyak netizen karena pernyataannya yang menyebut Jokowi sebagai Firaun, Antony Salim sebagai Qorun dan Luhut Panjaitan sebagai Haman. Pernyataan itu mendapat reaksi keras karena dalam terminologi agama, ketiga nama itu adalah sebutan-sebutan terburuk tentang manusia.

Karena mendapat reaksi keras itu, pria yang dikenal dengan panggilan akrab Cak Nun itu akhirnya meminta maaf. Dalam pernyataan permintaan maafnya, ia mengaku bahwa hal itu diucapkan di luar rencananya. Keadaannya seperti kesambet.

Para netizen yang sensitif dengan pengelompokan politik segera menemukan sirkumstansi atau lingkungan relasi Cak Nun. Ia ditemui berfoto dengan Sugi Noer, Anies, atau para pengritik utama Presiden Joko Widodo. Hal itu membuatnya dikelompokkan ke dalam kelompok pengritik Jokowi.

Tambahan pula, dalam satu link video lainnya, yang terlebih dahulu muncul, ia mengatakan bahwa ia menolak untuk datang ke istana sekalipun diundang. Ia berpendapat bahwa kedudukannya sebagai rakyat terlalu terhormat untuk datang bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

Potongan-potongan video menampilkan adegan yang menggambarkan warna hubungan Cak Nun dengan Presiden. Semuanya memperlihatkan bahwa Cak Nun memang tidak terlalu nyaman dengan Presiden Jokowi. Kita tidak tahu alasannya.

Tentu saja, setiap warga negara boleh memiliki pendapat tentang pemerintah dan presidennya. Tambahan pula, Cak Nun adalah seorang pekerja seni, seniman, budayawan. Dalam pekerjaannya, ia menangkap tanda-tanda kehidupan yang bisa mengarah ke situasi yang lebih baik atau lebih buruk bagi manusia.

Ia sensitif dengan alarm-alarm semacam itu. Ia mengungkapkannya dalam bentuk puisi, esai atau panggung. Berkat sensitivitasnya itu, ia telah menulis banyak buku esai, puisi dan karya yang dipentaskan di teater. Walaupun ia bukan pendiri, ia merupakan seorang pentolan Teater DInasti.

Dengan kegiatan semacam itu, Cak Nun memiliki tradisi berpikir bebas, terbuka dan kritik. Ia kemudian menyelenggarakan pertemuan bulanan rutin di Padang Bulan di Jombang. Pertemuan yang berwarna keagamaan itu sering diselingi dengan celetukan-celetukan kritik.

Celetukan “Firaun” itu tampaknya muncul dari ceramah atau tauziah itu. Ketika muncul di sela-sela uraian topik utama, celetukan itu menjadi semacam punch line untuk menjadi gerrr suasananya. Karena tiba-tiba muncul kata “firaun”, maka Cak Nun mengatakan, ia tidak merencanakan hal itu. Ia seperti kesambet. Semacam keseleo lidah (slip of tongue).

Ketika keseleo lidahnya menyentuh Presiden, yang menurut banyak orang tidak pantas dikatakan oleh orang sekelas Cak Nur, ia menerima kritikan tajam. Mungkin ia tidak setuju dalam banyak hal dengan Presiden Jokowi. Mungkin, ia memiliki preferensi presiden tersendiri. Itu haknya. Ia mengucapkan kata yang tampaknya terlalu kasar.

Sebuah stigmatisasi yang ia kenakan pada Presiden, yang menurut banyak orang, tidak menyinggung dirinya, bahkan menghormatinya, membuatnya berada dalam kelompok para pengritik, hingga pada level kasar seperti itu. Dia ditandai sebagai orang yang bergabung dalam kelompok politik oposisi.

Dengan posisi ini, Cak Nun menjadi kurang objektif, kalau bukan tidak objektif. Kritikannya menjadi kritik dalam konteks persaingan politik, yang penuh dengan kepentingan kekuasaan, walaupun kita tahu, Cak Nun tidak memiliki ambisi kekuasaan. Ia pun menjadi sasaran tembak para pembela pemerintah, atau lebih tepatnya, para pendukung Jokowi. Mereka memperlakukannya sebagai lawan politik.

Itu tentu saja bertentangan dengan gambaran yang selama ini terbentuk dalam diri Cak Nun. Ia dikenal sebagai seniman, budayawan, intelektual dan ulama. Dengan status dan citra ini, kritikannya pantas didengar dan sindirannya pantas mendapat perhatian. Itu karena sikap berjaraknya (detachment) terhadap pertarungan politik kekuasaan. Ia tidak mendapat keuntungan dari pihak-pihak. Suaranya adalah suara moral, suara kenabian. Citra dan suara moral kenabian itu hilang dalam penyataannya tentang Jokowi.

Cak Nun sudah minta maaf, walaupun terkesan setengah hati, dan tanpa menyebut lagi nama Presiden Jokowi. Apakah Cak Nun berhasil memulihkan citranya sebagai orang yang berjarak terhadap semua kepentingan, waktu akan membuktikannya.
Terus terang, kita membutuhkan para seniman, budayawan, intelektual dan ulama yang tetap menyampaikan suara kenabian, dan memberikan pencerahan kepada masyarakat luas. Atau memang sulit menghindar dari jebakan kepentingan politik, saat ini?. *