Fyodor Dostoevsky, Sang Guru dari St Petersburg

0

FILSAFAT, Bulir.id – Dua pemikir besar muncul di layar literatur Rusia pada paruh akhir abad ke-19, yang ketenarannya menyebar ke seluruh penjuru dunia melewati perbatasan Rusia. Mereka adalah Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoevsky. Ada perbedaan besar di antara keduanya dalam hal psikologi, karakter, kehidupan, dan gaya penulisan.

Jika ada kesamaan dalam pemikiran mereka, maka itu adalah bahwa tujuan keduanya adalah mencari jalan yang membawa manusia ke kehidupan moral yang lebih tinggi. Faktanya, baik Tolstoy maupun Dostoevsky mengadopsi tujuan yang sama melalui rute yang berbeda. Pemikiran keduanya pada tingkat kolektif menyajikan gambaran yang jelas tentang karakter Rusia.

Karya-karya kedua penulis ini sangat terkait dengan kehidupan mereka, refleksi dari pengalaman dan pengamatan mereka membawa begitu banyak hal penting dalam tulisan-tulisan mereka sehingga hampir tidak mungkin untuk memahami pemikiran mereka tanpa mempelajari biografi mereka.

Tolstoy menghabiskan masa kecilnya di lingkungan yang sangat menyenangkan. Masa mudanya dihabiskan dalam kegiatan militer. Keluarganya sangat kaya, namun di masa kecilnya, pertanyaan ini selalu muncul di benaknya, “Apa itu kehidupan dan bagaimana seharusnya manusia menghabiskan hidup yang baik?

Sebaliknya, kehidupan Dostoevsky adalah kumpulan kesengsaraan dan kemalangan yang tak berkesudahan. Ia lahir di sebuah keluarga miskin dan terperangkap dalam cengkeraman kemiskinan hingga nafas terakhirnya. Karena ia telah menghabiskan sebagian besar hari-harinya di lingkungan yang miskin, ia sadar akan penderitaan orang miskin dan kebutuhan mereka.

Dia ditangkap tanpa bersalah dan harus tetap menjadi tawanan selama empat tahun di dataran beku Siberia. Penderitaan ini memiliki efek yang besar pada pikiran Dostoevsky dan membuatnya menjadi penggambaran psikologi terdalam pada kehidupan manusia. Tolstoy biasa beramal, tapi Dostoevsky biasa menerima amal. Tolstoy ingin hidup sederhana. Dostoevsky tak hanya menjalani kehidupan yang sederhana, melainkan kehidupan yang sangat miskin tapi bahagia. Namun, perasaan yang sama muncul di hati keduanya, ingin mencapai kerajaan Tuhan.

Dostoevsky lahir 200 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 11 November 1821. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolahnya, ia masuk ke perguruan tinggi teknik. Meskipun ia dididik dalam bidang matematika dan sains, ia berniat menjadikan menulis sebagai profesinya. Tidak mengherankan jika saat masih menjadi mahasiswa, ia menulis sebuah novel berjudul Poor Folk, yang mendapat sambutan hangat di kalangan sastra. Penyair terkemuka Nekrasov memberikan ruang untuk novel ini dalam jurnal sastranya.

Pada 1846, setelah gerakan revolusioner di Eropa, sebuah lingkaran sosialis didirikan di St Petersburg. Dostoevsky menjadi anggota lingkaran ini. Namun, lingkaran ini segera dinyatakan ilegal dan semua anggotanya dijatuhi hukuman mati. Para tahanan termasuk Dostoevsky juga.

Pada saat-saat terakhir, tepat sebelum pemuda itu menghadapi regu tembak, tsar meringankan hukuman mati menjadi hukuman penjara empat tahun. Dostoevsky menceritakan kejadian mengerikan ini dalam salah satu suratnya, yang ia tulis untuk saudaranya saat berangkat ke Siberia:

“Kami mencium salib dan kemudian kami dipakaikan kemeja yang akan menjadi kain kafan. Kami bertiga diikat ke pilar kematian. Saya berada di barisan keenam. Kami akan dibunuh bertiga. Oleh karena itu, giliranku sudah pasti berada di barisan kedua. Hanya beberapa saat yang tersisa dalam hidup dan mati saya. Pada saat itu hatiku penuh dengan kenangan akan dirimu, istri dan anak-anakmu. Saudaraku yang terkasih! Pada saat-saat terakhir ini, kenangan tentang dirimu membuatku gelisah. Tiba-tiba para prajurit (yang akan menembakkan peluru) diperintahkan untuk kembali dan tiga orang yang diikat di pilar dilepaskan. Kemudian perintah tsar dibacakan kepada kami di mana ia telah mengampuni nyawa kami. Kini, hukuman mati telah diubah menjadi hukuman kurungan selama empat tahun.”

Kehidupan di penjara diceritakan dengan penuh ‘kekejaman’ dalam karyanya, Crime and Punishment. Pada 1854, ia kembali ke St Petersburg dan langsung menulis The Insulted and the Injured dalam waktu satu tahun. Kemudian, dengan partisipasi saudaranya, Mikhail, ia menerbitkan jurnal Time. Ia juga mempublikasikan kondisi penahanannya dengan judul The House of the Dead.

Kini, ia telah menjadi sangat terkenal dan jurnalnya pun mulai dicintai semua orang. Sayangnya, jurnal ini ditutup pada tahun 1863 atas perintah negara. Setelah penindasan ini, ia mengeluarkan majalah lain dengan nama Epoch. Tetapi ini juga disita. Oleh karena itu, karena muak dengan tuntutan para kreditor, ia melarikan diri ke Eropa, tetapi kemudian kembali ke Rusia pada tahun yang sama dan meringankan beban hutangnya dengan menulis Crime and Punishment. Beberapa hari terakhir hidupnya di St Peterdburg berlangsung bahagia. Ia meninggal dunia pada 9 Februari 1881.

Dalam novel pertama Dostoevsky, Poor Folk, kita melihat sumber mata air pemikiran yang mengasumsikan bentuk lautan badai setelahnya. Plot cerita ini sangat sederhana. Seorang pegawai biasa memberikan hidup dan hatinya kepada seorang gadis miskin. Gadis ini terbukti menjadi seberkas cahaya surgawi dalam suasana gelap kehidupannya yang menyedihkan.

Cintanya begitu besar sehingga ketika gadis itu menikah dengan seorang pemuda kaya, hal itu sama sekali tidak menimbulkan perasaan benci dan jijik dalam hatinya. Sebaliknya, ia menunjukkan pengorbanan dan kasih sayang yang besar. Dalam novel ini, Dostoevsky telah mempresentasikan makna idealnya tentang simpati terhadap manusia yang tertindas. Cita-cita ini telah digambarkan dalam semua novelnya.

Cerpen White Nights tenggelam sepenuhnya dalam kesedihan, meskipun cukup tinggi dari sudut pandang artistik. Ini adalah studi menarik tentang cinta dalam suasana gelap Sankt Petersburg.

Dalam novel The House of the Dead, Dostoevsky telah merinci pengamatan dan pengalaman hari-harinya di penjara. Buku ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam literatur Rusia. Dalam halaman-halamannya, Dostoevsky mencari cahaya Tuhan di dalam dada para penjahat, menembus kedalaman jiwa manusia. Terlepas dari gambaran mengerikan tentang kehidupan para tahanan yang penuh dengan penderitaan, novel ini membawa aspek harapan.

Crime and Punishment adalah kisah tragis tentang orang-orang yang dilanda kemiskinan yang berjuang untuk menjalani hidup mereka dengan acuh tak acuh di tengah suasana menyedihkan di kota besar. Dostoevsky telah menceritakan psikologi orang-orang ini dengan sangat simpatik. Dalam karya klasiknya ini, Dostoevsky menyimpan isu-isu moral yang sangat penting.

Seorang mahasiswa miskin, Raskolnikov, membunuh seorang wanita tua, seorang rentenir, demi saudara perempuan dan ibunya. Sebelum melakukan pembunuhan itu, ia berpikir: Jika Napoleon dapat membunuh ribuan manusia, maka tidak bisakah ia membunuh seorang wanita yang tak berguna yang hidup dari ibu dan saudara perempuannya?

Raskolnikov tidak merefleksikan masalah ini lebih jauh dan membunuh wanita tua itu, dan dengan demikian membangun filosofi moralnya sendiri dengan menginjak-injak kepercayaan manusia di bawah kakinya. Krisis yang sebenarnya tercipta di dalam hatinya setelah membunuh wanita itu; ketika ia berpikir bahwa alih-alih menghancurkan ‘sebuah prinsip’, ia telah membunuh ‘seorang wanita’.

Kemudian dia mengetahui bahwa dia tidak dapat mewujudkan niatnya yang sebenarnya ke dalam tindakan, dan bahwa melakukan kejahatan itu mudah, tetapi mengubahnya menjadi fondasi kehidupan yang baru sangat sulit. Kata-kata Dostoevsky adalah sebagai berikut: “Karena saya tidak berhasil dalam tujuan saya, itulah sebabnya saya tidak memiliki hak untuk menjadi pelaku kejahatan ini. Orang-orang yang memajukan hidup mereka dengan menumpahkan darah, mereka adalah kepribadian manusia super.”

Setelah pembunuhan itu, bab kedua dari kisah spiritual ini dimulai. Begitu yakinnya Raskolnikov akan alasannya sehingga perasaan penyesalan atau perenungan apa pun tidak tercipta di dalam hatinya. Karena ia tidak menganggap dirinya sebagai penjahat, standar hukum moral dan kebaikan dan kejahatan yang menjadi alasannya membunuh wanita itu dan yang ia pikirkan untuk menjadi dasar hidupnya, sebenarnya identik dengan ide yang konyol.

Dalam perang antara suara akal sehat dan hati nurani, yang terakhir yang menang. Oleh karena itu, dipengaruhi oleh celaan hati nuraninya, Raskolnikov mengaku bersalah dan menerima rasa sakit di penjara dengan riang. Kesalahan prinsip Raskolnikov adalah salah satu aspek dari Crime and Punishment. Aspek kedua adalah kondisi kesadaran dan emosi yang membeberkan kebobrokan Raskolnikov.

The Idiot, selain menjadi potret menarik tentang delirium mental manusia, juga menyajikan karakter manusia yang aneh. Pangeran Myshkin (si idiot), tokoh utama dalam novel ini, adalah seorang yang sangat polos, berhati lembut dan sensitif, serta pengagum setiap makhluk hidup. Dari sudut pandang seni kehidupan dan sifat manusia, novel ini dapat dianggap sebagai yang terbaik dari Dostoevsky.

The Possessed or Devils adalah sebuah novel dengan plot yang sangat rumit, di mana ada upaya untuk menceritakan kegiatan kalangan revolusioner. Dostoevsky yakin akan misi suci Rusia, yang berarti politik dan agama. Ia membenci sosialisme karena ia melihat kurangnya prinsip-prinsip agama dan materialisme moral di dalamnya.

Kirillov (pahlawan dalam novel ini) adalah pemimpin partai revolusioner, pemilik kemauan yang kuat dan kepribadian yang mengesankan. Dia memimpikan revolusi seperti itu “ketika akan ada kehidupan baru, Manusia baru. Singkatnya, semuanya akan menjadi baru… kemudian mereka akan mampu membagi sejarah menjadi dua bagian.”

Para anggota partai revolusioner ini tetap tidak berhasil mencapai tujuan mereka dalam hal moral dan material. Karya Dostoevsky ini ditulis untuk menentang filosofi hidup ‘Nihilis’, dan secara diam-diam, materialisme di Eropa. Penulis Rusia ini telah merefleksikan masalah ini dari dua sudut pandang. Yang pertama bersifat eksternal dan yang kedua bersifat internal. Yang pertama berkaitan dengan budaya dan peradaban umum. Yang kedua adalah tentang kebutuhan pribadi akan kesadaran dan identitas manusia.

Karya terakhir Dostoevsky, The Brothers Karamazov, belum lengkap. Dalam novel ini, yang merupakan novel paling tebal dan paling banyak dari semua karyanya, Dostoevsky menganalisis kehidupan Rusia dan karakter Rusia. Meskipun alur ceritanya tampak sederhana, sebenarnya jauh lebih rumit. Karamazov tua (seorang libertin) memiliki tiga putra: Dmitri, Ivan, dan Alyosha. Dua putra pertama memiliki sifat libertinisme sang ayah, tapi Alyosha baik hati dan tegas.

Pembukaan kisah ini adalah perselisihan tentang seorang gadis antara ayah dan anak. Dalam hubungan ini, Karamazov tua terbunuh. Jadi kasus pembunuhan disidangkan di pengadilan. Di tengah kerumunan emosi yang tidak bermoral, jiwa murni Alyosha muncul, yang mengikuti jejak gurunya, Zosima. Tujuannya adalah ini: “Cintailah setiap ciptaan Tuhan. Setiap partikel pasir!”

Gaya penulisan Dostoevsky sangat kompleks dan kusut. Kondisi mengigau ditemukan dalam semua karyanya. Para kritikus Rusia menyatakan bahwa ia telah membunuh kefasihan di mana-mana dalam tulisannya. Hanya ada sedikit kualitas sastra dalam novel-novel Dostoevsky. Seluruh alasan untuk kekurangan ini adalah bahwa dengan adanya kemiskinan, kesengsaraan dan kemalangan, ia tidak dapat mengerjakan gaya penulisannya.

Novel-novel Dostoevsky bukanlah dongeng belaka. Ia justru menjadikan seni menulis novel-yang selama ini hanya sebatas memberikan ketertarikan belaka, sebagai penyampai pesan kebenaran dengan membawanya ke tingkat tertinggi, dan dengan demikian menyatukan seni dan iman. Selain novel-novel tebal, Dostoevsky juga menulis cerita-cerita pendek. Namun, jumlahnya terbatas.*