Memahami Etika Post Humanisme dan Tantangan di Era Digital

0

FILSAFAT, Bulir.id – Beberapa tahun lalu, Arab Saudi memberikan kewarganegaraan kepada robot humanoid bernama Sophia. Jagat maya seketika itu menjadi heboh dan sejumlah laporan sensasional menyatakan bahwa ini adalah awal dari “kebangkitan robot”.

Namun pada kenyataannya, Sophia bukanlah “terobosan” dalam AI. Dia hanyalah sebuah boneka rumit yang dapat menjawab beberapa pertanyaan sederhana. Namun, perdebatan yang dipicu oleh Sophia tentang hak-hak yang mungkin dimiliki oleh robot di masa depan adalah topik yang sedang dieksplorasi oleh gerakan filosofis baru yang dikenal sebagai post humanisme.

Dari humanisme hingga post humanisme

Untuk memahami apa itu post humanisme, penting untuk memulai dengan definisi tentang apa yang menjadi titik tolaknya. Humanisme adalah istilah yang mencakup berbagai gerakan filosofis dan etis yang disatukan oleh keyakinan yang tak tergoyahkan pada nilai unik dan supremasi moral manusia.

Muncul pada masa Renaisans, humanisme merupakan reaksi terhadap takhayul dan otoritarianisme religius di Eropa Abad Pertengahan. Paham ini merebut kendali atas nasib manusia dari keinginan dewa-dewi transenden dan meletakkannya di tangan individu-individu yang rasional. Dengan demikian, pandangan dunia humanis, yang masih memegang kendali atas banyak institusi politik dan sosial terpenting menempatkan manusia di pusat dunia moral.

Post humanisme, yang merupakan seperangkat gagasan yang telah muncul sejak sekitar tahun 1990-an, menantang anggapan bahwa manusia akan selalu menjadi satu-satunya agen dunia moral. Faktanya, para post humanis berpendapat bahwa di masa depan yang dimediasi oleh teknologi, memahami dunia sebagai sebuah hirarki moral dan menempatkan manusia di puncaknya tidak lagi masuk akal.

Dua jenis post humanisme

Para penganut post-humanisme yang paling terkenal, yang juga kadang-kadang disebut sebagai transhumanis, mengklaim bahwa di abad mendatang, manusia akan diubah secara radikal oleh implan, peretasan biologis, peningkatan kognitif, dan teknologi bio-medis lainnya. Peningkatan ini akan membuat kita “berevolusi” menjadi spesies yang sama sekali tidak dapat dikenali dari diri kita sekarang.

Visi masa depan ini diperjuangkan dengan sangat vokal oleh Ray Kurzweil, seorang kepala insinyur Google, yang percaya bahwa laju perkembangan teknologi yang eksponensial akan mengakhiri sejarah manusia yang selama ini kita kenal, memicu cara-cara hidup yang sama sekali baru, yang belum dapat dipahami oleh manusia biasa seperti kita.

Meskipun visi post-human ini menarik imajinasi Kurzweil, para pemikir post-human lainnya menawarkan perspektif yang sangat berbeda. Filsuf Donna Haraway, misalnya, berpendapat bahwa penyatuan manusia dan teknologi tidak akan meningkatkan kemanusiaan secara fisik, tetapi akan membantu kita melihat diri kita sendiri sebagai sesuatu yang saling terhubung dan bukannya terpisah dari makhluk non-manusia.

Dia berpendapat bahwa menjadi cyborg, kumpulan aneh antara manusia dan mesin akan membantu kita memahami bahwa oposisi yang kita buat antara manusia dan non-manusia, alami dan buatan, diri sendiri dan orang lain, organik dan anorganik, hanyalah gagasan yang dapat dipecah dan dinegosiasikan ulang. Dan lebih dari itu, menurutnya, jika kita merasa nyaman melihat diri kita sebagai bagian dari manusia dan bagian dari mesin, mungkin kita juga akan lebih mudah meruntuhkan oposisi-oposisi kuno lainnya seperti gender, ras, dan spesies.

Etika Post Humanisme

Bagi Kurzweil, post humanisme menggambarkan masa depan teknologi yang meningkatkan kemanusiaan, sedangkan bagi Haraway, post humanisme adalah posisi etis yang memperluas kepedulian moral pada hal-hal yang berbeda dari kita dan khususnya pada spesies dan objek lain yang hidup berdampingan dengan kita di dunia.

Masa depan post-humanisme menurut Haraway, akan menjadi masa “ketika spesies bertemu”, dan ketika manusia akhirnya memberi ruang bagi hal-hal non-manusia dalam lingkup kepedulian moral kita. Oleh karena itu, etika pasca-manusia mendorong kita untuk berpikir di luar kepentingan spesies kita sendiri, tidak terlalu narsis dalam konsepsi kita tentang dunia, dan menganggap serius kepentingan dan hak-hak dari hal-hal yang berbeda dengan kita.*