Rayakan HUT ke-66, Jejak Pengabdian Asri Hadi di Dunia Pendidikan Dimulai dari 6 Lembaga Ini

0

Jakarta, BULIR.ID – Asri Hadi adalah segelintir tokoh di negeri ini yang dapat melebur dengan orang lain dari beragam strata maupun etnis. Terlahir dari keluarga berada, menjadi pintu bagi Asri Hadi untuk mudah diterima di lingkaran elit negeri.

Kemurahan hati yang selalu terbuka, jiwa dermawan yang terus dirawat dan rasa empati yang kuat membuatnya dapat memposisikan diri sehingga mudah diterima dan beradaptasi dengan kalangan marginal.

Hari ini, 25 Mei 2024, Ketua Dewan Pakar Bulir.id yang sejak mudanya telah berada dalam lingkaran tokoh-tokoh penting negeri ini mulai dari menjadi asisten Ibu LB Moerdani, Mendagri Supardjo Rustam bahkan Ibu Tien Soeharto.

Kedekatan ini kemudian menjadi cikal bakal seorang Buyung-sapaan akrabnya-menghabiskan separuh waktunya mengabdi untuk dunia pendidikan di Indonesia. Dimana tahun lalu, Buyung baru saja menjadi dosen purnabhakti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) setelah mengabdi 36 tahun di institusi tersebut.

Tak hanya di PDN sebagai institusi pendidikan formal, Pemimpin Redaksi Indonews.id ini juga mendedikasikan diri di sejumlah organisasi-organisasi yang terkait langsung dengan pendidikan dan upaya memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Sebut di antaranya menjadi Ketua Umum FIS FISIP UI, Pengurus Pusat MIPI, Direktur Program Pusat Kajian Strategik Pemerintah, Pengurus IKAMA Australia hingga Dewan Pembina Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia atau disingkat GERKATIN dan masih banyak lagi.

Tempat Lahir dan Pendidikan

Asri Hadi lahir di Dusun Kojai Nagari, Kecamatan Lintau Buo, Tanah Datar, Sumatra Barat pada 26 Mei 1958 sebagai anak kelima dari lima bersaudara dari pasangan H. Ramli Hadi bin Abdul Hadi dan Hj. Sayang Syarif binti Muhammad Syarif.

Keempat saudarinya antara lain Indrawati Hadi, Zulhaini Hadi, Indrajaya Hadi, dan Jetti Rosila Hadi.

Ibunya, Hj. Sayang Syarif merupakan anak dari Siti Latifah dengan Muhamad Syarif bergelar Datuk Djido Besar. Sedangkan ayahnya, Ramli Hadi merupakan anak dari Daraman dengan Abdul Hadi.

Pada saat Asri Hadi lahir, konflik PRRI dengan pemerintah pusat sedang berkecamuk. Konflik senjata berkepanjangan itu membuat masyarakat hidup tidak nyaman dan merasa terancam.

Maka dari itu, ayah Asri Hadi memutuskan membawa keluarganya hijrah ke Jakarta, tak terkecuali Asri Hadi kecil yang saat itu masih berusia 2 tahun.

Ia bersama ibu dan kakaknya menyusul sang ayah yang telah lebih dulu berangkat ke Jakarta. Mereka berangkat dari Padang dengan menggunakan kapal laut, menempuh perjalanan 10 hari untuk tiba di Pelabuhan Tanjung Priok.

Di Jakarta, mereka tinggal untuk sementara waktu di Jalan Panglima Polim 10, No. 19, Kebayoran Baru di rumah saudara ibunya. Setelah beberapa lama tinggal di Panglima Polim, ayahnya membeli rumah di Jalan Pete 4 No. 12 Blok A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Meskipun kelahiran Sumbar, tapi Buyung, panggilan akrab oleh keluarganya, betah tinggal di Jakarta Selatan (Jaksel) dari taman kanak-kanak, SD, SMP hingga SMA, bahkan ketika Buyung menjalani pendidikan tingkat perguruan tinggi di Universitas Indonesia (UI).

Apalagi sejak ayahnya beli rumah di Jalan Brawijaya, tepat bersebelahan dengan rumah Jendral Poniman. Lantaran tinggal sendiri di rumah yang besar, Buyung sering mengajak para pengawal jenderal menginap, sambil sesekali diajak kongkow-kongkow di daerah kota dan Mangga Besar. Jadi para tauke menyangka Asril Hadi anaknya Pangdam karena selalu dikawal.

6 Lembaga Pendidikan

Pada momentum hari jadinya yang jatuh pada hari ini, 25 Mei 2924, Asri Hadi secara khusus mengingat 6 lembaga pendidikan yang telah memolesnya menjadi pribadi yang peka terhadap kondisi dan nasib-nasib orang di sekitarnya.

Pada tahun 1963, Buyung masuk sekolah Taman Kanak-kanak Melati dekat rumah dan melanjutkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen Ora Et Labora hingga tamat pada 31 Desember 1970. Di sekolah ini, Buyung keluar sebagai juara umum se-SD Ora Et Labora.

Sebagai juara umum, Buyung mengaku, tidak mengalami kesulitan untuk masuk ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 13 Jakarta. Ia tamat SMP pada 8 Desember 1973 dan melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMA Negeri 3 Teladan Jakarta
Hingga lulus pada 4 Desember 1976. Sekolah ini menyandang status sangat prestisius pada masa itu.

Selanjutnya pada 1977, Buyung terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan pada saat yang sama menjadi mahasiswa Intitut Teknologi Bandung (ITB) serta secara bersamaan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung (FE Unpad).

Artinya, pada tahun ini, Buyung menjadi mahasiswa aktif di 3 universitas sekaligus.

Pada tahun 1978, Buyung memutuskan mendaftar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) hingga lulus pada 19 Juli 1984 dengan gelar doktorandus (Drs.) jurusan sosiologi.

Selanjutnya, pada 24 September 1984, Buyung melanjutkan kursus bahasa Inggris di St. Giles College, 69 Marine Parade, Brighton dan di Swan School of English di 111 Banbury Road, Oxford, England. Buyung tinggal di Inggris hingga selesai pada tahun 1985.

Pada tahun 1992, Buyung mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia untuk melanjutkan pendidikan S2 di Monash University, Clayton Victoria, Australia dan lulus pada 5 Oktober 1994 serta mendapat gelar Master of Arts.*